Menanti berakhirnya rangkaian ‘Kartu Mati’
Selamat pagi…
Dulu ketika kuliah, kegiatan rutin saya ketika hari minggu adalah menemani kakek dan nenek saya bermain bridge. Biasa… kegiatan rutin orang tua untuk mengisi waktu luang. Ketika itu, kakek saya, sudah pensiun dari jabatannya, setelah menjabat sebagai Dekan Pertama di Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada serta kemudian dosen disana, selama lebih dari 30 tahun.
Ketika bermain kartu, kita sering mendapatkan ‘Kartu Mati’. Kartu Mati itu adalah kondisi dari kartu yang dipegang (hands) yang sulit untuk bisa memenangkan permainan. Memegang kartu mati, berarti kita lebih bersiap menghadapi kekalahan, dibandingkan mengharapkan kemenangan. Memegang kartu mati, berarti kita cuman bisa bermain defensif. Bermain defensif ini, biasanya lebih menguras energi dibandingkan ketika kita sedang memegang kartu bagus. Maklum, ketika pegang kartu bagus, perasaan sudah happy dari awal. Bermain kartu jadi lebih mudah, hanya menjaga untuk tidak lengah. Sedangkan kalau kita bermain defensif, sudah bawaannya bete karena sudah kartu jelek, sumber daya terbatas, kita masih harus mencoba untuk menggagalkan kemenangan orang, hanya bisa menunggu kelengahan orang.
Dapet kartu mati sekali, dua kali, mungkin tidak mengapa. Perasaan ketika bermain kartu, bisa naik turun, kadang senang, kadang juga susah. Tapi kalau sudah mendapatkan kartu mati beberapa kali kesempatan secara berturut-turut, sampai 5 atau 10 kali berturut-turut, rasanya kita juga mulai campur aduk. Mangkel, jengkel, marah, gatal (galau total). Gimana sih ini? Masa kartu gak ganti-ganti? Masa disuruh sabar dan berpikir keras terus? Cape dong.
Kondisi dimana ‘kartu mati’ terus berjatuhan di bursa kita, adalah apa yang terjadi semenjak bulan April lalu. Kalau diurut-urut, rangkaian ‘Kartu Mati’ kita kurang lebih adalah sebagai berikut:
1. Kartu Mati Pertama: kegagalan Pemerintah dalam menaikkan harga BBM Subsidi. Meski kalau kita melihat harga minyak sekarang, keputusan Pemerintah tersebut bisa saja dikatakan sebagai langkah yang tepat, akan tetapi, karena kejadian ini kemudian memperlihatkan buruknya Kepemimpinan Nasional kita, maka Kartu Mati ini kemudian memicu beberapa kartu mati berikutnya, tetap saja kartu mati ini adalah cikal bakal dari semua kartu mati berikutnya.
2. Kartu Mati Kedua: Pemodal asing berhenti melakukan posisi beli secara agresif. Kegagalan Pemerintah untuk menaikkan harga BBM Subsidi, membuat orang-orang kemudian bertanya-tanya: emang anggaran Pemerintah bisa bertahan hingga akhir tahun? Apa yang kemudian dilakukan Pemerintah? Apakah Pemerintah melakukan penghematan (berarti pembangunan infrastruktur biasanya akan terganggu), atau Pemerintah akan berusaha meningkatkan pendapatan? Kartu kedua ini adalah sambungan dari Kartu Mati Pertama. Pemodal asing yang melakukan net Buy selama bulan Maret dengan jumlah total sebesar Rp 12.8 T, langsung berhenti beli.
3. Kartu Mati Ketiga: S&P menunda pemberian investment grade. Alasan mereka jelas: bila pemerintah terus menunda-nunda memberlakukan kebijakan fiskal yang baru bukan tak mungkin apabila APBN terganggu.
4. Kartu Mati Keempat: Sentimen Negatif Krisis Eropa kembali merebak. Episode krisis kali ini, diawali oleh pergantian kepemimpinan di beberapa negara Eropa. Orang kemudian tidak yakin bahwa pemimpin yang baru, bakal melanjutkan kebijakan yang telah dilakukan. Krisis ini kemudian terus berlanjut ketika Pemily Yunani kemudian dimenangkan oleh Partai yang Anti-Bail Out. Sarkozy juga kalah. Setelah itu, permasalahan kembali terus berlanjut. Terakhir kemarin masalah downgrade dari peringkat bank-bank di Spanyol. Kemudian ada bail out, tapi kemudian orang masih berpikir buruk. Kartu Mati Keempat ini pengaruhnya masih berlanjut hingga saat ini.
5. Kartu Mati Kelima: Kenaikan Uang Muka Kredit Kendaraan Bermotor dan KPR. Yang satu ini, adalah kelakuan dari Bank Indonesia. Sekarang begini deh… ASII adalah saham big caps, fund manager dan pemain blue chip, pasti punya ASII. Terus.. Saham-saham properti adalah blue chipnya saham-saham gorengan. Kalau anda pemain saham gorengan, kemungkinan besar anda bakal punya saham properti. Sekarang, penjualan dari perusahaan-perusahaan tersebut bakal tertekan oleh peraturan ini. Apa nggak Kartu Mati itu?
6. Karti Mati Keenam: Pajak atas Mineral dan Batubara. Menaikkan BBM, akan memberikan citra yang buruk bagi Pemerintah (baca: orang-orang atau partai yang sedang memerintah). Nah.. pihak ini sangat perduli dengan ‘citra’-nya, maka mereka kemudian mengambil langkah ‘aneh’: lakukan apa saja, yang penting tidak menaikkan BBM. Nah.. langkah-langkah kreatif ini, yang kemudian menghantam pasar. Pajak atas Mineral ini adalah salah satunya.
7. Kartu Mati Ketujuh: Pajak Batubara yang Simpang Siur. Ini Kartu Mati yang lebih gila lagi. Sudah sentimennya negatif, simpang siurnya bikin sentimen lebih kacau lagi. Terutama, karena setelah ini, Kartu Mati Keenam kemudian nongol:
8. Kartu Mati Kedelapan Harga batubara turun dibawah US$100 per ton (dan terus turun sampai sekarang). Awalnya adalah berita bahwa trader batubara China mengalami default. Tapi ternyata, default ini disebabkan karena harga batubara sudah turun US$10 dalam waktu seminggu. Setelah itu, harga batubara terus turun. Sampai akhir minggu kemarin, harga batubara terus turun. Memang sih, kalau dibandingkan harga produksi batubara yang saat ini masih berada di sekitar US$50-US$55 per ton, penurunan tersebut belum membuat perusahaan batubara menjadi merugi. Tapi, masalah terbesar adalah dimana bottom dari koreksi harga batubara ini, sampai sekarang juga masih belum terlihat. Suport ada di US$90 per ton. Tapi ini harga terakhir sudah dibawah level itu. Sepertinya kita harus nunggu harga batubara reversal dulu, baru bisa kita bilang itu bottom.
9. Kartu Mati Kesembilan: Rupiah Bergolak. Ini sih sebenarnya normal. Kalau semua kacau, kalau semua orang menebar kartu mati, hasilnya pasti ini. Kalau bursa saham sedang tidak pede, Rupiah biasanya bergolak. Kabar bagusnya, Bank Indonesia terlihat berhasil mengendalikannya.. at least untuk hari-hati ini.
Saya sebenarnya tidak terlalu happy. Ke-tidakhappy-an saya ini disebabkan karena sebagian besar dari Kartu Mati ini, berasal dari Pemerintah. Pemerintah yang tidak mampu mengambil keputusan tegas. Pemerintah yang kemudian melakukan langkah-langkah yang secara sengaja ‘membahayakan’ kesehatan emiten (terutama batubara dan mineral).
Tidak cuman itu. Kartu Mati dari Pemerintah (Kebijakan Harga BBM Subsidi, Pajak atas Mineral dan Batubara), issuenya mungkin sekarang selesai. Terutama dengan harga minyak yang turun dibawah US$85 per barrel. Dan adanya pernyataan dari Menteri ESDM bahwa Pemerintah tidak akan mengenakan Pajak Batubara, bisa membuat nafas menjadi agak lega. Akan tetapi problem yang saya rasa lebih besar adalah: kedepan, saya jadi tidak percaya bahwa Pemerintah bisa melakukan langkah kondusif bagi bursa kita. Gak tau juga apa agendanya. Moga-moga bukan karena ‘kebutuhan untuk mencari saham murah menjelang Pemilu’.
Selain itum, kartu Mati dari Kondisi Eksternal (Krisis Eropa dan Harga Batubara) hingga saat ini masih terus bercokol di pasar. Untuk indeks DJI.. apakah lowest kemarin itu bottom, memang masih perlu dilihat lagi. Akan tetapi, kalau harga batubara… gak tau deh.. sepertinya kita memang harus menunggu harga batubara mencapai bottomnya. At least kalau mau cari tanda, harus cari tanda-tanda dari berita-berita bertajuk ‘pertumbuhan ekonomi China membaik’ atau ‘Harga Baja mulai rebound’. Disitu diharapkan harga batubara bakal mulai rebound.
So… Kapan berakhirnya Rangkaian Kartu Mati ini? Gak tau deh.. kalau lihat Eropa yang masih bergejolak, dan harga batubara yang masih belum terlihat bottomnya, plus market yang lagi sepi kena Piala Eropa, kita cuman bisa menunggu saja, kapan berakhirnya Rangkaian Kartu Mati ini. Kalau melihat posisi teknikal DJI yang sudah kena target double top di 12100, harapan sih ada. Tapi kita lihat deh.
Yang ngeselin… Langkah-langkah Pemerintah yang ‘ngerjain market’ dengan Pajak Mineral dan Pajak Batubara, bikin saya menjadi agak ‘berprasangka buruk’ terhadap usaha penyelamatan anggaran yang sedang dilakukan. Hasilnya, mungkin adalah yang terbaik untuk Bangsa Indonesia. Tapi sepertinya, bukan bangsa yang ada di Bursa Efek Indonesia deh.. Untuk sementara, kita sepertinya memang masih harus berjuang sendiri.
Happy trading… semoga untung!!!
Satrio Utomo


Pak , Kira – kira apa solusi untuk saham nyangkut yang gak bisa dijual seperti BNBR, BLTA, TRUB
. Apa ada kemungkinan BNBR reverse stock split , terus gimana kalo Rp 50 terus…BLTA berapa lama kira 2 Saham disuspen , apa gak ada aturan waktu suspensi tuh ? Mohon pencerahannya.
Pak Basuki,
Kalau untuk saham-saham seperti itu, kita cuman bisa pasrah. Pemiliknya memang tidak memiliki niatan baik dalam menjalankan bisnis di Bursa. Kita cuman bisa berharap, pemilik perusahaan ini, di masa mendatang, bisa mendapat ‘pencerahan’ dan saham tersebut mau bergerak lagi.
Wassalam
Satrio