Advertisements

Divergensi: Salah satu alasan saya berhenti menggunakan Indikator Teknikal*


Selamat siang…

Kalau anda teliti dalam mengamati weblog ini, anda bisa melihat bahwa saya sama sekali tidak menggunakan indikator teknikal!!!! Benar… Saya memang sudah berhenti menggunakan indikator teknikal hanya setahun setelah saya pertama kali mempelajari analisis teknikal!!! (sejak tahun 2000).

Salah satu alasannya adalah: Konsep Divergensi

Divergensi adalah suatu kondisi dimana trend harga bergerak naik, tapi kenaikannya tidak dikonfirmasi dengan kenaikan yang terjadi pada indiktor.  Singkatnya: Harga masih naik, tapi indikator sudah menunjukkan trend turun.   Contohnya adalah seperti apa yang terlihat pada indeks Dow Jones Industrial pada periode Agustus – September tahun 2009:

Divergensi ini memberikan signal kepada para pembacanya bahwa ‘trend yang terjadi tidak lah kuat’ atau ‘trend yang terjadi memiliki peluang untuk terjadinya reversal).  Nah.. sekarang… masalahnya… pergerakan harga selanjutnya adalan seperti ini:

Divergensi itu ternyata tidak menghentikan trend atau tidak membuat trend tersebut berubah arah.  Trend tersebut bahkan terus berlanjut hingga bulan Maret 2010 ini!  Dan pergerakan harganya juga tidak main-main.  DJI yang ketika bulan September masih berada di kisaran 9000 – 9500, saat ini sudah berada di kisaran 10500 – 11000!!!  Artinya: Jika anda percaya indikator, maka anda sudah kehilangan (missed) pergerakan DJI sekitar 1000 – 2000 poin atau lebih dari 10%!!!

Seorang trader harus mampu menghilangkan semua halangagan yang bisa membuatnya ragu-ragu (ambigue) dalam melakukan eksekusi transaksi sesuai dengan rencana atau prediksi yang telah dibuatnya

Jadi.. karena divergensi ini hanya membuat saya ragu-ragu (ambigue) dan kurang yakin dalam melakukan keputusan beli atau jual, maka saya memutuskan untuk tidak lagi mempergunakan indikator sebagai pertimbangan saya untuk melakukan transaksi.

Saya melakukannya sudah lebih dari 8 tahun yang lalu.  Bagaimana dengan anda?

Happy trading… semoga untung!!!

Perencana Trading


Advertisements
Comments
10 Responses to “Divergensi: Salah satu alasan saya berhenti menggunakan Indikator Teknikal*”
  1. Terus, bulllish Divergence yang segitu banyak juga kenapa nggak ditarik garisnya Boss?
    Atau mungkin Boss nggak lihat ada banyak bullish Divergence?

    Sebenarnya, bullish dan bearish divergence yang muncul silih berganti justru membantu kita menemukan timing kapan DOW koreksi dan kapan ia rebound. Justru memungkinkan kita bisa main Swing Boss.

    Semoga bermanfaat dan mau mempertimbangkan lagi untuk menggunakan analisis teknikal.
    True, Technical Analysis is an art. But actually it is more than art. It displays market pshycology.

    • Yang dibahas disini kan memang divergensi yang terjadi jangka panjang. Bahwa divergensi itu bisa berlangsung terus, terus, dan terus… dan itu yang membuat seorang trader menjadi peragu. Perkara divergensi jangka pendek yang anda maksud, mungkin akan saya bahas lain kali. Dan saya adalah pengguna analisis teknikal. Saya hanya memilih untuk ‘tidak menggunakan indikator’.

  2. Divergensi memiliki cara baca yang berbeda untuk jangka panjang dan jangka pendek. Kalau cara membacanya tidak tepat, tentu kesimpulan pun akan menjadi tidak tepat.
    Maksud saya, jangan sampai karena salah penggunaan membuat penilaian yang salah terhadap suatu sarana analisa.
    Ibarat orang meninggalkan mobil automatic transmision karena merasa ada yang salah karena tidak menemukan injakan kopling. Demikian pula jangan sampai meninggalkan TA karena tidak menemukan bullish divergence.
    Tapi apa pun, pilihan bergantung kecocokan. Itu alasan yang lebih baik daripada menyalahkan metode analisanya.
    Semoga sukses selalu.

    • Oh… divergensi jangka pendek dan jangka panjang memang beda ya? Saya kok belum pernah menemukan bahan bacaannya… Dibikin buku sendiri aja bung… mumpung lagi banyak publishers cari bahan untuk terbitin buku… 😀

  3. Angelo Michel says:

    Kalau memang belum baca ya saya bisa paham sudut pandangannya. Saya juga tidak mungkin bikin bukunya karena sudah banyak yang lebih dahulu membuatnya. Banyak sekali literatur yang menggunakan long-short term divergence.
    Kelihatannya kurang sreg ya dengan masukkan saya.
    Kalau begitu, ini posting saya terakhir deh. Saya mau kasih link2 yang menunjukkan adanya long dan short term divergence. Kalau masih kurang, silahkan digoogle aja:

    http://www.cmsfx.com/en/forex-education/technical-analysis-articles/volume-indicators/accumulation-distribution/short-term-divergence/

    http://www.effectivevolume.eu/content/Reports/Divergence_tables.pdf

    Selamat belajar. Semoga bermanfaat. Semoga sukses selalu.

    • begini bung Michel…

      Kalau mengapa saya cenderung belajar dari buku tapi tidak dari website.. akan saya bahas lain kali. Salah satu diantaranya adalah: teori yang ada dalam suatu buku, biasanya lebih bisa dipertanggung jawabkan dari pada yang ada pada sebuah website. Selain itu, ilmu yang ada pada website, biasanya sepotong-sepotong, tidak pernah lengkap. Itulah sebabnya, kalau anda bisa menunjukkan pada saya, buku atau ebook mengenai teori yang anda maksud, saya akan sangat berterima kasih.

      Link yang pertama memang menunjukkan teori mengenai short term divergence. Tapi tidak menunjukkan adanya tulisan mengenai perbedaan antara short term dan long term divergence.

      Link yang kedua, tetap tidak ada teorinya. Ada contoh, tapi tidak ada pembahasan teori yang jelas. Ada sedikit contoh (figure 1) mengenai divergence disebelah bawah, tapi gambarnya saya rasa tidak tepat. Divergence terjadi ketika trend naik yang di expose, tidak berada pada peak, sedangkan indikatornya memang berada dalam trend turun.

      So… sejauh ini sih.. saya belum melihat bahwa teori anda dibangun berdasarkan landasan teori yang kuat.

      Rgds,
      Satrio

  4. Afif Fauzi says:

    Liat2 menu baru pak Satrio, nemu artikel yg menarik..

    Maaf sebelumnya ya pak, hanya ingin sharing aja. tidak ada maksud sok pintar karena saya juga masih belajar dari Bapak..

    Sampe sekarang saya masih percaya 100% sama indikator. Kalo saya lihat, disitu indikator RSI yg dipakai ya pak? (menurut saya yg newbie ini sih rada2 mirip Stochastic). Tapi kalo pake indikator MACD, pasti yg muncul garis menanjak kencang pak..

    MACD pun kalo dieksplor pattern-nya kadang bisa memprediksi bottom saham yg lagi bearish. Seperti koreksi besar Juni 2013 ini, uniknya banyak saham2 yg tepat bottoming sesuai indikator MACD malah mantul kenceng seperti KLBF, UNVR, RALS, PTPP..

    cuma sharing aja pak.. maaf kalo kurang berkenan..

    Semoga Sukses selalu pak, dan tetap posting 😀

    • Satrio Utomo says:

      Bung Afif…

      Ini negara bebas.. selama bisa menguntungkan.. mengapa tidak? Hehehe.

      Anda pastinya juga sudah membaca tulisan saya tentang Moving Average… Disitu ada beberapa alasan lain.

      Banyak hal sih ya.. yang bisa dijadikan alasan.. seperti misalnya:
      – indikator itu memang ‘kadang enak buat membantu rasa percaya diri kita’… ketika kita dalam posisi beli… tapi… ketika posisi jual.. apakah iya kita bisa disiplin? Saya dulu sering gagal disiplin exit kalau pake indikator, terutama kalau posisinya posisi cut loss.
      – kalau mau sukses pake indikator.. jangan pake otak. Lihat saja indikatornya… Itu adalah pelajaran paling berharga yang saya peroleh ketika saya mempelajari indikator. Saya jelas menolak hal ini (membuat keputusan dengan tanpa pertimbangan otak).

      Mungkin anda juga bisa membaca saya tulisan saya tentang disiplin.

      Aah… saya gak mau terlalu menggurui lah….

      Setiap orang kan punya pendekatan sendiri… Yang penting untung… Yang penting jiwa juga tenang….

      Wassalam,
      Satrio

  5. Roy says:

    saya memang setuju dengan pendapat pak Satrio untuk tidak menggunakan Indikator.
    jujur saja, sy baru 1 bulan ini terjun langsung di trading. benar2 sulit untuk tidak menggunakan indikator. moga2 dalam 1 tahun sy udah bisa lepas dr indikator seperti pak Satrio

    sy tidak pernah memperhatikan divergence di indikator. yg cuma sy liat dead/golden cross, overbought dan oversold aja.

    pak Satrio tidak menggunakan indikator, tp apa masih memakai Tools? melihat bapak ada menerbitkan buku ttg Fibonacci. menurut sy, Fibonacci itu memang Tools yg kuat.

    pertanyaan terakhir, bagaimana yah sy bisa mendapatkan buku Fibonacci karangan pak Satrio?
    yg pasti udah gak ada di Gramedia.

    • Satrio Utomo says:

      Bung Roy…

      Saya selalu bahagia kalau mendengar orang yang berusaha menghentikan kebiasaan menggunakan narkoba… eh.. indikator.. hehehe.. semoga anda lekas berhasil.

      Untuk tools, saya hanya pake candle, fibo, sama price pattern. Kalaupun ada Elliot wave, itu hanya untuk prediksi IHSG.

      Sisanya.. saya hanya berusaha menempa mental agar bisa 90% disiplin terhadap signal-signal yang dikirimkan oleh Market.

      Buku saya? Sabar deh mas.. nanti kalau judul berikutnya selesai, mungkin mereka mau cetak ulang.

      Semoga sukses dalam perjalanan anda mengarungi ganasnya Bursa Efek Indonesia.

      Wassalam,
      Satrio

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Visit Website of Our Visitors

%d bloggers like this: