Reality Check (Mengenal ‘Angka Konsensus’ sebagai Standar kinerja emiten)*


Selamat siang…

Kita sudah memasuki minggu kedua di bulan Oktober ini. Hari-hari ini, akan banyak publikasi dari laporan keuangan kuartal ketiga tahun 2010 (3Q10) emiten-emiten yang listed di Bursa Efek Indonesia. Earning season, itu bahasa kerennya. Dalam masa seperti ini, investor biasanya melakukan ‘Reality Check’, membandingkan antara kinerja pergerakan harga saham, dengan kinerja fundamental dari perseoran. Benarkah kinerja 2010 sudah sesuai dengan ekspektasi? Bagaimana kinerja dari saham itu untuk kedepannya? Apakah masih ada peluang kenaikan harga?

Berbicara mengenai kinerja laporan keuangan yang dipublikasikan, maka kita perlu pembanding untuk melakukan vonis: ‘Baik atau Buruk’-nya kinerja perseoran. Jika di sebuah perusahaan sekuritas yang memiliki riset yang kuat, maka mereka biasanya melakukan pembanding dengan hasil riset yang dilakukan oleh analisnya. Di kalangan analis pasar dan investor institusi, biasanya yang menjadi pembanding adalah angka konsensus analis yang tidak lain adalah angka rata-rata prediksi dari para analis fundamental (ingat pentingnya saham-saham yang dianalisis oleh analis fundamental: Saham yang penggeraknya adalah Pasar) . Angka konsensus yang menjadi patokan, adalah angka yang dihitung oleh jaringan berita Bloomberg.

Sebagai pembanding, berikut adalah angka konsensus dari Sales (Penjualan), Net Income (Laba bersih), dan Earning Per Share (Laba per saham) dari beberapa saham:

Manfaat apa yang bisa kita dapatkan dari tabel diatas?

  • Jika ada laporan keuangan kuartal ketiga 3Q10 dari emiten yang dipublikasikan di media (cetak atau elektronik), perhatikan angka Penjualan, Laba Bersih, dan EPS-nya, kemudian bandingkan dengan angka yang ada di tabel di atas.  INGAT: ANGKA DIATAS ADALAH ANGKA ESTIMASI UNTUK SATU TAHUN PENUH 2010 (FY2010).  Jika anda membandingkan dengan angka 3Q10, anda harus mendiskon dulu dari angka diatas sebesar 20% – 30% (maksimal 35%) untuk memperoleh perkiraan angka kinerja 3Q10.  Misalnya niy.. angka perkiraan konsensus untuk penjualan AALI pada 3Q10 (akumulasi dari Januari – September) ada di Rp 5.55 trilyun – Rp 6.35 trilyun dan angka perkiraan konsensus untuk laba bersih ada di kisaran Rp 1.3 tr – Rp 1.5 tr.
  • Kemudian, ketika angka kinerja 3Q10 dipublikasikan, bandingkan angka yang keluar tersebut dengan angka konsensus di tabel atas.
    • Jika angkanya dibawah atau lebih kecil dari angka (kisaran) konsensus, maka berarti kinerja emiten tersebut dibawah ekspektasi.  Sentimennya negatif. Akibatnya, harga saham bisa bergerak turun karena investor melakukan posisi jual.  Kinerja dari emiten tidak sesuai dengan harapan.
    • Jika angkanya berada didalam kisaran konsensus, maka sentimennya netral.  Harga hanya akan bergerak sesuai dengan arah pergerakan pasar.
    • Jika angkanya diatas atau lebih besar dari angka (kisaran) konsensus, maka berarti kinerja emiten tersebut diatas ekspektasi.  Sentimennya positif. Akibatnya, harga saham bisa bergerak naik karena investor melakukan posisi beli.  Kinerja dari emiten lebih baik dengan harapan.

Jadi… itulah kegunaan dari angka konsensus kinerja emiten.  Kita bisa memantau perkembangan emiten dan kemudian melihat dari result (hasil laporan keuangan) emiten yang dipublikasikan per 3Q10.  Harga bisa bergerak naik atau turun seiring dengan dipublikasikannya laporan keuangan tersebut.

Benang merah…

Pada kolom terakhir dari tabel diatas, anda bisa juga melihat rata-rata valuasi yang dari konsensus analis tersebut.   Coba anda bandingkan dengan harga terakhir yang ada di pemantau harga yang anda miliki.  Ada berapa saham yang sudah overvalue (harganya sudah diatas valuasi konsensus)?  Ada berapa saham yang  masih under value?  Atau, kalau kita lebih spesifik lagi deh… kita definisikan saham yang undervalue sebagai saham-saham yang value konsensusnya masih 10% diatas harga pasar saat ini.  Kita akan menemukan bahwa saham yang benar-benar undervalue, hanya tinggal kurang dari 15%!  Atau tepatnya:

  • Saham-saham yang sudah overvalue: 10% – 15% dari 36 saham blue chip yang ada diatas.
  • Saham yang undervalue juga hanya sekitar 10% – 15%  dari 36 dari saham blue chip yang ada diatas.
  • Sisanya (sekitar 70% – 80%) saham-saham sudah ‘fully valued’ – berada dalam valusinya.  Artinya: potensi kenaikan memang ada, tapi sudah terbatas (ingat loh, target harga valuasi tersebut diatas adalah valuasi untuk 12 bulan).

ini artinya:

Bagi anda yang masih mengharapkan harga bergerak naik, anda harus berharap bahwa emiten-emiten (terutama saham-saham blue chip diatas) berhasil mencetak kinerja diatas ekspektasi

atau….

Untuk jangka pendek, yang bisa menaikkan IHSG (dan juga saham-saham bluechip yang diperdagangkan di BEI) hanyalah aliran dana asing (foreign fund flow) yang terus dipompakan masuk ke bursa. Tanpa adanya fund flow, IHSG akan sulit untuk bergerak naik karena sebagian besar saham-sahamnya sudah fully valued (harganya sudah dekat dengan valuasi optimalnya).

Jadi… semua tergantung fund flow. Karena harga akan tetap bergerak naik selama masih ada orang yang mau membeli.

Happy trading… semoga untung!!!

Satrio Utomo

Comments are closed.

  • Visit Website of Our Visitors

%d bloggers like this: