Advertisements

IPO: Trading atau Investasi?*


Selamat pagi…

Kembali ke artikel awal: Trading untuk Pemula

Seorang teman pernah mencoba meyakinkan saya:

Ikutan IPO yuk… keuntungan di hari pertama perdagangan, bisa 10% – 30% atau bahkan lebih. Jadi.. meskipun pesanan kita nanti hanya dapet 3% dari jumlah yang kita pesan, tapi dengan kenaikan harga seperti itu.. berarti kita bisa untung 3% – 5% sebulan. Kita ikut IPO, terus kita jual di hari pertama. Mana ada kesempatan untuk cari duit semudah itu?

Teman saya yang lain juga pernah mencoba untuk sharing ide IPO kepada saya:

Pak Tommy… kalau ikutan IPO itu, jangan takut untuk pesan banyak-banyak. Paling-paling nanti juga dikasinya cuman 1% – 3%. Maksimal 5% lah… Jadi.. Pak Tommy mau beli berapa, pesan aja 10 – 20 kalinya. Jangan kuatir lah… pasti nanti juga dapetnya hanya sedikit.

Kedua pendapat diatas adalah pendapat yang umum bagi mereka yang memiliki hobby atau spesialisasi saham IPO. Seringnya terjadi lonjakan harga pada hari pertama perdagangan memang menjadi daya tarik tersendiri bagi seorang pemodal untuk mengikuti proses IPO. Hanya saja… sialnya… pendapat-pendapat tersebut sepertinya benar-benar ‘berbalik’ ketika kita melihat kenyataan dari mereka yang mengikuti IPO EMDE, MBTO, dan GIAA.

Trading itu berbeda dengan investasi

Jika anda sering mengikuti tulisan-tulisan saya, anda pasti sudah hafal akan pernyataan ini: Trading berbeda dengan investasi. Anda mungkin juga sudah hafal akan isi dari tabel disamping ini. Saya juga selalu menekankan: Orang harus bisa memilih, mau investasi atau mau trading. Kita tidak bisa melakukan keduanya dalam pada saat yang bersamaan, karena market memiliki kebiasaan untuk menelan atau menghabisi orang-orang yang tidak disiplin.

IPO: Trading vs Investasi

IPO sebenarnya adalah sebuah transaksi investasi. Sebuah perusahaan menjual sahamnya kepada pemodal melalui bursa, sebenarnya berharap untuk mendapatkan pendanaan untuk operasional jangka panjang perusahaan. Pemodal juga melakukan pembelian berdasarkan prospek jangka panjang perseoran. Akan tetapi, seringnya kejadian dimana harga saham bergerak naik cukup tinggi pada pergerakan hari pertama (terlebih lagi return ketika hari pertama IPO sudah terbukti secara empiris), kemudian mengundang pada trader, yang tidak lain adalah orang-orang yang memiliki investment time horizon dengan jangka yang lebih pendek. Disini kemudian masalah dimulai.  Pemodal banyak yang memesan saham GIAA diluar kemampuannya.  Biasalah, mungkin ini mereka yang yakin bahwa ketika IPO, penjamin emisi pasti hanya memberi bagian sedikit, sehingga pemodal memesan 5 kali atau bahkan 10 kali dari kemampuannya.  Akan tetapi, karena saham ini rupanya kurang begitu diserap oleh pasar, maka banyak orang mendapat bagian sebesar 55%, atau bahkan 100% dari pemesanannya.  Masalah ini kemudian diperburuk oleh keputusan dari pemodal tersebut, untuk menahan posisi tersebut dengan menggunakan dana hutangan dari sekuritas (fasilitas margin).  Ya sudah… Orang niatnya ikutan IPO trading, memaksakan posisi tersebut menjadi posisi investasi.  Sudah begitu pake fasilitas margin lagi.  Ditengah market yang lagi turun.  Jangan heran kalau banyak orang kemudian curhat di beberapa milis.   Mengubah posisi trading menjadi posisi investasi adalah sebuah keputusan yang sangat ‘mematikan’.

Saya tidak bisa melarang anda yang merasa dirinya adalah seorang traders untuk trading pada saham-saham IPO. Saya juga tidak bisa melarang seorang investor untuk memesan terlalu banyak. Saya hanya ingin berpesan: apabila anda mengikuti suatu proses IPO, perhatikanlah beberapa hal berikut ini:

1. Perhatikan P/E Ratio dari saham-saham tersebut. Saham yang murah akan lebih mudah untuk bergerak naik, dan saham yang mahal akan cenderung sulit untuk bertahan. Saham dengan P/E yang rendah (biasanya dibawah 10) memiliki peluang yang lebih besar untuk bergerak naik pada hari pertama perdagangan, atau bahkan terus bergerak naik hingga beberapa hari perdangangan berikutnya

2. Perhatikan Industri dimana emiten itu berada. Emiten yang industrinya sedang disukai oleh pelaku pasar (terutama investor institusi), akan lebih mudah untuk bergerak naik dibandingkan dengan saham dari emiten yang berada pada sektor yang lain. Misalnya, karena tahun ini harga komoditas masih bagus, maka saham-saham yang terkait dengan komoditas (terutama yang terkait dengan batubara) terlihat lebih mudah untuk bergerak naik.

3. Perhatikan kapitalisasi dari emiten tersebut. Saham dengan kapitalisasi yang tinggi biasanya akan lebih mudah untuk menarik investor institusi jika dibandingkan saham dengan kapitalisasi yang rendah.

4. Perhatikan grup atau kelompok usaha dari emiten tersebut. Saham-saham yang terkait dengan kelompok Bakrie misalnya, adalah saham-saham yang jarang sekali dipermalukan pada perdagangan hari pertama.

5. Perhatikan juga reputasi penjamin emisi dalam melaksanakan IPO. Ada penjamin emisi yang sering kali berhasil menjaga pergerakan harga agar bergerak naik pada hari pertama (bahkan hingga beberapa hari) perdagangan. Dilain sisi, ada penjamin emisi yang saham-saham IPO-nya sering kali langsung longsor pada pada hari pertama. Hindari untuk membeli IPO dari penjamin emisi jenis kedua. Posisi spekulatif memang lebih enak jika penjamin emisinya terpercaya.

6. Perhatikan likuiditas dari market. Ketika rata-rata transaksi harian cenderung tinggi, selain itu, rata-rata net buying asing juga terus meningkat, harga saham secara umum akan lebih mudah untuk bergerak naik. Setidaknya, perusahaan yang baru saja IPO akan lebih sulit untuk turun pada saat market berada dalam kondisi seperti ini.

7. Perhatikan trend pergerakan IHSG dan harga saham secara umum. Ketika IHSG berada dalam trend naik, maka harga saham (termasuk didalamnya saham-saham IPO) akan lebih mudah bergerak naik. Vice versa. Sehingga, melakukan posisi spekulatif pada saham-saham IPO, sebenarnya lebih menarik untuk dilakukan ketika trend IHSG sedang bergerak naik, jika dibandingkan ketika trend bergerak turun.

Pelajaran dari IPO Garuda

Garuda Indonesia itu sebuah perusahaan bagus.  Saya males membahas laporan keuangannya lah.  Tapi saya hanya melihat satu fakta ini: kalau naik Garuda, pesawat jarang sekali kosong.  Paling-paling yang tidak terisi hanya sekitar 10% tempat duduk.  Garuda juga sudah punya brand tersendiri: kalau mau terbang tepat waktu dan selamat sampai di tujuan, naik saja Garuda.  Yang lain… (sejauh ini)… masih lewaaaat….

Akan tetapi, IPO-nya ternyata tidak berjalan dengan mulus.  Harga IPO-nya ketinggian.  Itu yang membuat orang males beli.  Dengan EPS 40 – 45 per lembar saham, saham ini sebenarnya hanya layak beli (secara fundamental) kalau sedang berada pada harga Rp 400 – Rp 585 (PE 10x – 13x).  Tapi apa mau dikata: karena tertipu oleh IPO KRAS, pak Menteri rupanya keukeuh IPO di PE 17x.  Yah.. apa mau dikata…

Jika dilihat dari harga penutupan terakhir 18 Februari 2010 lalu, harga GIAA sebenarnya sudah mulai masuk di kisaran harga yang rasional.  Apakah saham ini akan bergerak mengikuti IHSG yang saat ini sedang rebound (masih harus menunggu penembusan atas resisten di 3525 – 3550 juga sih… tapi kalau resisten ini tembus, IHSG masih bisa terus bergerak naik hingga kisaran 3600  – 3750)?  Saya juga masih belum bisa memastikan karena hingga posisi terakhir hari Jumat lalu, GIAA masih berada dalam trend turun.  Akan tetapi, jika GIAA rebound dan bisa menembus level580, harga saham ini bisa mencapai level 620 – 630 dengan mudah.  Kisaran 750 – 800?  Tergantung kekuatan dari trendnya juga sih… tapi itu bukan hal yang mustahil.

Oh iya… beberapa waktu yang lalu, di sebuah milis, saya melihat ada orang yang complain mengenai posisi forced sell yang dilakukan oleh sebuah sekuritas terhadap posisinya.  Apakah ini terkait dengan posisi pemodal tersebut pada saham GIAA?  Ataukah ini berarti saham ini telah mencapai bottom-nya?  Saya juga tidak mau terlalu berspekulasi.  Yang saya tahu hanya sebuah kata-kata bijak:

when street get bloody.. its time to enter the market!

Penutup

Bullish market selalu memunculkan orang yang aneh-aneh dan bermacam-macam. Ketika market bullish, semua orang bisa meraup keuntungan. Karena market itu random, maka memperoleh keuntungan dari Bursa Efek Indonesia itu suatu yang secara teoritis sulit. Meraup keuntungan sering di identikkan dengan ‘pintar’, maka semua orang pintar itu kemudian merasa dirinya bebas berteori. Saya untung kok.. saya menang.. boleh dong saya berbagi kepintaran saya kepada semua orang? Problemnya memang selalu begitu. Ketika kondisi market sedang bullish, orang cenderung menurunkan kewaspadaan. Dan ketika market bearish datang… dengan cepatnya ‘ayunan tangan beruang’ menghabisi orang-orang yang lupa dan lalai. Seorang trader teknikal (trader yang melakukan prediksi dengan berdasarkan pada analisis teknikal) sebaiknya memang menjauhi IPO karena tidak ada alat analisis teknikal yang bisa digunakan untuk mempredksi pergerakan harga di hari pertama. Seorang investor fundamental juga sebaiknya tidak overtrading ketika melakukan pemesanan IPO. Karena overtrading itu adalah perilaku dari seorang trader. Bukan seorang investor. Seorang investor harus lebih yakin terhadap kinerja investasi jangka panjangnya, dibandingkan sekedar mencari keuntungan-keuntungan jangka pendek.

Apa yang kita lihat dari MBTO, EMDE, dan terakhir GIAA, sebaiknya menjadi pelajaran bagi kita semua bahwa ‘trading’ pada saham-saham IPO, tidak bisa dilakukan dengan asal-asalan seperti saran dari kedua teman saya diatas. Menghadapi IPO, kita tidak ‘harus selalu ikut’ dan ‘pesan sebanyak-banyaknya’. Akan tetapi, kita memang harus tetap melakukan penghitungan-penghitungan yang rasional agar bisa selamat dari marabahaya yang selalu mengancam.

Happy trading, semoga untung!!!

Satrio Utomo

Kembali ke artikel awal: Trading untuk Pemula

*bacalah halaman disclaimer sebelum anda melakukan posisi beli atau posisi jual berdasarkan ulasan ini.  Terima kasih.

Advertisements
Comments
4 Responses to “IPO: Trading atau Investasi?*”
  1. Rachmad Prihantoyo says:

    llll

  2. steve jatmika rhemrev says:

    hy. Here make your kursus centre in malalayang indah blok f no 1.malalayang.manado city. We appreciate your tutorial.kayanya kedepannya wilayah kami akan tren main saham.

Trackbacks
Check out what others are saying...
  1. […] #38: Trading Strategy: Mengenal IPO… Trading atau Investasi? […]



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Visit Website of Our Visitors

%d bloggers like this: