Advertisements

Bermain ‘IHSG’*


Selamat pagi…

Kembali ke artikel awal: Trading untuk Pemula

Seorang Conthongers (lihat definisi ‘conthongers’ pada tulisan saya sebelumnya) pernah bilang kepada saya:

Pak… ngapain sih anda bangga dengan presisi prediksi IHSG anda yang tinggi?  Nggak ada gunanya.  Main saham itu kan tinggal beli ini atau beli itu, kemudian tinggal ditunggu: untung atau rugi.  Ngapain juga perhatikan IHSG, gak ngaruh kalee…

IHSG bergerak naik dan turun setiap hari bursa.  Pelaku pasar dan media selalu menggunakan IHSG sebagai barometer arah pergerakan harga saham.  Penentu pasar bergerak naik atau turun, penentu pasar bullish atau bearish.  Seorang traders atau investor kemudian melakukan positioning berdasarkan arah dari pasar tersebut.  Kalau market lagi bullish, pokoknya harus beli.  Harus ‘main’.  Harus ‘punya posisi’.  Sahamnya bisa apa ajah.  Asal ada entry signal yang bagus, asal ada yang rekomendasi, asal ada yang suruhan beli. Tapi kalau market bearish, yah… terserah deh. Ada yang diem ajah dengan posisi cash, ada yang diem saja karena nyangkut, ada yang dugem (duduk gemetaran) karena posisinya sudah hampir kena margin call/forced sell.

Padahal seharusnya tidak seperti itu!

‘Bermain IHSG’ itu berbeda dengan bermain saham yang dikenal oleh kebanyakan.  Ketika seorang trader memutuskan untuk ‘Bermain IHSG’: trader tersebut harus fokus pada saham-saham yang menjadi penggerak dari IHSG.  Saham apa sajakah itu?

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) adalah sebuah rata-rata tertimbang berdasarkan kapitalisasi pasar dari saham-saham yang membentuk IHSG.  Karena rata-rata tertimbang ini, maka saham dengan kapitalisasi yang besar, akan memberikan pengaruh kepada IHSG atau lebih menentukan pergerakan dari IHSG, dibandingkan dengan saham dengan kapitalisasi pasar yang lebih kecil.

IHSG ini berfungsi sebagai barometer dari bursa.  Meski IHSG sebenarnya dihitung dengan menggunakan rata-rata tertimbang, akan tetapi pelaku pasar (dan juga kalangan media) sering kali lupa dengan kata ‘tertimbang’-nya dan lebih fokus pada kata: ‘rata-rata’.  Hasilnya: jika IHSG naik. maka dianggap bahwa sebagian besar harga saham mengalami kenaikan, demikian juga ketika IHSG turun, maka dianggap harga saham sebagian besar mengalami penurunan.  Padahal kenyataannya: kenaikan IHSG sering kali hanya menunjukkan bahwa saham-saham yang berkapitalisasi besar cenderung untuk bergerak naik, sedangkan saham yang kapitalisasinya kecil entah kemana, dan demikian juga sebaliknya.

Grafik dibawah ini memperlihatkan bagaimana saham-saham berkapitalisasi besar lebih menguasai IHSG dibandingkan dengan saham-saham yang kapitalisasinya kecil.

Ada beberapa fakta yang bisa kita tarik dari gambar diatas:

  • 10 emiten (setara 2.3% dari seluruh emiten tercatat)  dengan kapitalisasi terbesar menguasai 39.5% kapitalisasi dari IHSG.
  • 50 emiten (setara dengan 11.8% dari seluruh emiten tercatat) dengan kapitalisasi terbesar menguasai 80% kapitalisasi dari IHSG
  • 90 emiten (setara dengan 21.3% dari seluruh emiten tercatat) dengan kapitalisasi terbesar menguasai 90% kapitalisasi IHSG
  • 333 emiten (setara dengan 78.7% dari seluruh emiten tercatat) hanya memiliki 10% dari kapitalisasi IHSG.

Ini artinya:

Jika anda membuat IHSG sebagai benchmark investasi atau barometer dari bursa, anda tidak perlu bermain pada semua saham yang ada di Bursa Efek Indonesia.  Anda cukup memperhatikan sebagian dari saham-saham tersebut, terutama saham-saham yang kapitalisasinya besar.

Sekarang, marilah kita melihat 20 emiten dengan kapitalisasi terbesar yang tercatat di Bursa Efek Indonesia:

Kita dapat melihat pada tabel diatas, bahwa 95% dari saham yang masuk dalam kategori berkapitalisasi terbesar pada IHSG, dianalisis oleh lebih dari 10 orang analis fundamental.  Bahkan, jika kita menaikkan standarnya menjadi 15 orang analis fundamental, tetap saja kita menemukan angka yang sangat tinggi 90%.

Trading di saham-saham ini (terutama yang diamati oleh setidaknya 15 orang analis fundamental) sebenarnya lebih enak, lebih aman, dan lebih mudah untuk diprediksi.  Saya sering menyebutnya sebagai ‘Berburu Gajah di Padang Rumput’.  Maklum.. dengan jumlah analis fundamental sebanyak itu, perubahan sedikit saja pada emiten tersebut akan membuat harga sahamnya bergerak.  Selain itu, banyaknya analis juga membuat volume perdagangan hariannya akan menjadi selalu besar.  Volume transaksi pemodal asing atau institusi lokal ini membuat perdagangan menjadi likuid menjadi likuid.  Seperti gajah yang bergerak ke kiri atau kekanan.  Kita tinggal tembak kapan saja, sesuai dengan kemauan kita.  Posisi beli atau posisi jual bisa dilakukan kapan saja kita mau.  Tergantung posisi teknikalnya sekarang.  Kita tinggal melakukan positioning berdasarkan prediksi teknikal yang kita lakukan karena fundamental dari saham-saham tersebut sudah pasti jelas.

Bermain IHSG dengan Cara Lainnya…

Prediksi IHSG itu bukan sesuatu yang sulit.  IHSG sering kali mengalami kenaikan atau penurunan sebesar 5 persen – 10 persen dalam waktu singkat, dengan tanda-tanda yang sudah bisa dilihat sebelumnya.  Dari sini sebenarnya ada kesempatan untuk mengambil keuntungan-keuntungan untuk jangka pendek.  Akan tetapi, stock picking sering kali juga bukan urusan yang mudah.  Kadang masih suka salah.  Dibeli ini, nanti yang naik yang lainnya. dst.. dst.

Ada dua alternatif yang bisa kita lakukan:

  1. Trading Future Index LQ-45.  Dulu sih ada.  Cuman karena aturan perdagangannya aneh dan likuiditasnya rendah, maka produk ini jadi nggak laku.  Semoga BEI kedepan segera kembali mengaktifkan instrumen ini
  2. Membeli reksadana saham.  Reksadana saham ini tentu saja tidak sembarang reksadana saham.  Kita harus mencari reksadana saham yang berisikan saham-saham blue chips atau big caps,  yang memiliki beta sekitar 0.9 hingga 1.2 terhadap pergerakan IHSG.  Artinya, jika IHSG naik 1%, maka reksadana tersebut akan memberi keuntungan sebesar 0.9% – 1.2%.  Cukup lumayan bukan?  Akan tetapi, kalau anda mau mencoba cara ini, tolong perhatikan juga subscription fee (biaya pembelian) dan redemtion fee (biaya pencairan) reksadana tersebut.  Total dari biaya ini adalah sebesar 1.5% – 2.5%.  Jadi kalau anda tidak yakin bahwa trend naik ini akan memberikan keuntungan sebesar 10%, sebaiknya anda tidak melakukan strategi ini karena akan sangat berbahaya.  

Dan sebaliknya….

Sekarang begini… Dari gambar diatas, dapat dilihat bahwa 78.8% saham yang diperdagangkan di bursa, pergerakannya hanya berpengaruh yang sangat kecil pada IHSG.  Saham-saham small cap (atau bahkan mid cap) ini mau bergerak kemana, juga tidak ada pengaruhnya terhadap IHSG.  Atau dengan kata lain:

Kalau maen saham gorengan, mendingan jangan lihatin IHSG sekalian!!!

Pada beberapa saham (kebanyakan kapitalisasi pasarnya memang kecil), market maker sering kali berkuasa.  Market maker ini sering memanfaatkan kepercayaan orang akan ‘Harga saham harus bergerak sejalan dengan IHSG’ untuk memperoleh keuntungan.  Mereka melakukan posisi distribusi (cenderung melakukan posisi jual) ketika IHSG bergerak naik adalah strategi yang sangat standar.  Kapan mereka beli?  Biasanya ketika orang sudah bosan, market maker akan mengumpulkan sahamnya pelan-pelan.  Jadi.. kalau anda maen saham gorengan dan menggunakan IHSG sebagai bahan pertimbangan untuk entry atau exit (posisi beli atau posisi jual, vice versa), anda akan lebih mudah untuk rugi.

So… kembali ke conthongers yang saya sebut di awal tadi.  Kesalahan pertama yang dia lakukan adalah: dia tidak sadar bahwa sebagai conthongers, dia harusnya sadar bahwa saham yang dia rekomendasikan, sebagian besar adalah saham-saham gorengan.  Jadi… sebenarnya, untuk apa dia melihat pada IHSG?  Kalau dia memang masih memprediksikan IHSG, perhatikan saja, apakah itu memang kewajiban dari pekerjaan dia yang memang adalah seorang analis.  Atau… bisa juga karena itu untuk menarik korban-korban baru: ketika rekomendasi benar di saham-saham blue chips (karena marketnya memang lagi naik), mereka kemudian membayar kepada sponsornya dalam bentuk: nyangkuters-nyangkuters pada saham-saham gorengan.  Semoga anda bukan termasuk ‘korban berikutnya’ dari orang-orang ini.

Anda berminat untuk ‘Bermain IHSG’?  berarti anda harus fokus pada saham-saham dengan kapitalisasi yang besar, blue chips,.. atau minimal, kalau mau trading saham, perhatikan juga kapitalisasinya agar anda tidak terjebak pada saham-saham yang tidak anda kehendaki.  Perhatikan juga jumlah analis asing yang menganalisis saham tersebut karena disitulah keberadaan dari volume pasar yang sebenarnya.  Perhatikan juga Gerbong mana yang sedang bergerak, perhatikan ‘Teori Gerbong’-nya karena saham-saham di Bursa Efek Indonesia memiliki sector rotation yang agak berbeda dengan bursa-bursa yang lainnya (ulasan selengkapnya mengenai Teori Gerbong bisa anda lihat pada member area).

Happy trading… semoga untung!!!

Satrio Utomo

Kembali ke artikel awal: Trading untuk Pemula

*bacalah halaman disclaimer sebelum anda melakukan posisi beli atau posisi jual berdasarkan ulasan ini.  Terima kasih.

Advertisements
Comments
2 Responses to “Bermain ‘IHSG’*”
  1. harun says:

    di broker mana kita bisa main saham IHSG yang pakai metatrader4?

Trackbacks
Check out what others are saying...


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Visit Website of Our Visitors

%d bloggers like this: