Advertisements

Ketika kita sudah ‘Obyektif’…


Selamat siang…

Kembali ke artikel awal: Trading untuk Pemula

Pada tulisan sebelumnya, saya sudah menyampaikan mengenai pentingnya obyektifitas dalam mencerna semua informasi yang datang.  Berpikir obyektif ini membuat kita bereaksi yang benar terhadap suatu event atau informasi.  Berpikir obyektif ini membuat kita memberikan reaksi yang benar terhadap pergerakan harga.

Manfaat lain dari berpikir obyektif adalah:

kita bisa melihat subyektifitas dari orang-orang yang ada di sekitar kita.

Dalam teknikal analisis, memang terdapat banyak sekali teori yang bisa diterapkan untuk melihat pergerakan harga saham. Akan tetapi, terdapat teori-teori dasar yang digunakan oleh sebagian besar dari pelaku analisis teknikal, orang-orang yang menggunakan analisis teknikal sebagai alat prediksinya. Alat-alat prediksi yang standar ini diantaranya:

  • Trend
  • Suport dan Resisten
  • Pola pergerakan harga
  • Indikator-indikator standar (Stochastics, RSI, MACD)
  • Candlestick Charting

Dengan alat prediksi yang standar ini, kita kemudian melihat prediksi atau rekomendasi dari orang-orang yang ada di sekitar kita (saya sebut sebagai ‘Sang Analis’ sekedar untuk memudahkan):

  • Sang Analis prediksinya apa?
  • Rekomen beli atau jual saham apa?
  • Arah (target price)-nya ke berapa?
  • Apa teori yang digunakan untuk melakukan prediksi tersebut?
  • Rekomendasinya kuat (diulang-ulang) atau biasa saja?

Kemudian, kita melihat realitanya pada pergerakan harga setelah ‘Sang Analis’ tersebut memberikan rekomendasi

  • Apakan harga benar naik setelah Sang Analis itu memberikan rekomendasi beli, atau turun setelah ‘Sang Analis’ itu memberikan rekomendasi jual?
  • Ataukah harga bergerak sebaliknya?

Saya adalah orang yang selalu menekankan (menganjurkan) agar trading (atau juga investasi) sebaiknya dilakukan dengan berdasarkan suatu sistem.  Saya melakukan hal ini karena dalam 10 tahun lebih pengalaman saya berkecimpung di pasar modal, saya sudah terlalu banyak melihat orang yang tersapu habis, hanya karena masalah-masalah yang sepele, seperti: tidak tahu perbedaan antara trading dan investasi, tidak tahu perbedaan antara pintar dengan beruntung, tidak disiplin, dan masih banyak lagi.  Oleh karena itu, saya selalu menekankan betapa pentingnya sebuah landasan teori yang kuat dalam melakukan rekomendasi.  Hasil dari rekomendasi tersebut sebenarnya ada 4 macam:

  • Teori benar, rekomendasi benar (harga bergerak searah dengan rekomendasi)–> Bagus
  • Teori salah, rekomendasi benar –> Lucky
  • Teori benar, rekomendasi salah (harga bergerak berlawanan dengan rekomendasi)–> Unlucky
  • Teori salah, rekomendasi salah –> Subyektif (?)

Saya tidak pernah kuatir dengan tiga golongan yang pertama.  Saya sangat perduli dengan golongan yang terakhir.  Rekomendasi yang salah, yang dihasilkan dari teori yang salah, sebenarnya adalah hal yang wajar.  Bagaimana kebenaran bisa diperoleh kalau pendekatannya salah?  Akan tetapi, kalau orang sengaja memberikan rekomendasi yang salah untuk menyesatkan orang lain, itu sebenarnya yang merupakan permasalahan terbesar.  Saya kemudian sering kali melihat: sebenarnya maunya ‘Sang Analis’ ini apa? Kalau semua itu karena pengetahuan dia yang terbatas, mungkin tidak menjadi masalah.  Akan tetapi, kalau itu karena agenda-agenda tersembunyi yang ada di kepala ‘Sang Analis’ itu? hehehe…

Saya sih yakin, kalau saya ngomong, sebagian kecil orang akan menelan bulat-bulat apa yang saya omongkan.  Tapi, sebagian besar yang lain, pasti juga berpikir: ini Pak Tommy maunya apa sih? Mengapa Pak Tommy rekomendasi itu?  Jangan-jangan karena dia dan teman-temannya ada posisi?  Pikiran-pikiran seperti itu adalah hal yang wajar.  Saya juga sering berhati-hati pada orang yang tengah memberikan rekomendasi pada saham yang penggeraknya bukanlah pasar murni (baca tulisan saya sebelumnya mengenai ‘Saham yang penggeraknya pasar‘).  Benarkah rekomendasi itu benar-benar dibuat karena pertimbangan yang obyektif?  Atau karena subyektifitas dari analis tersebut?  Kalau benar sih tidak masalah.  Tapi kalau ternyata salah?

Saya juga suka iseng dalam memilih sudut pandang dari suatu permasalahan. Contohnya: Semalam… Warren Buffet bilang kalau koreksi yang terjadi di Jepang, adalah kesempatan untuk melakukan posisi beli.  Nggak ada yang salah sih dari pernyataan ini.  Dia sebagai seorang investor, memang harus melihat untuk jangka waktu yang lebih panjang. Akan tetapi, kalau kita melihatnya dalam kacamata seorang trader: kalau dia ngomong beberapa hari setelah gempa ketika Indeks Nikkei masih dibawah 8000, itu masih bisa dibilang bagus. Kalau kita melihat dalam sudut pandang bahwa seorang Warren Buffet baru saja membeli Lubrizol (sebuah perusahaan pelumas yang hampir 30% pasarnya ada di Asia)?

Saya sih percaya akan obyektifitas dari seorang Warren Buffet.  Saya juga percaya bahwa trend jangka panjang dari bursa Amerika dan juga Bursa Efek Indonesia memang masih tetap bullish.  Akan tetapi, dengan trend jangka menengah dari indeks regional (terutama indeks Dow Jones Industrial), saya memutusan untuk tetap berhati-hati.  Kalau nanti ada koreksi lagi, saya percaya bahwa itu adalah kesempatan untuk beli.   Akan tetapi, kalau Warren Buffet bilang beli, saya akan bilang: yah… saya juga beli…  tapi nanti kalau harga sudah lebih murah.

Jika kita obyektif dalam melihat suatu permasalahan, maka kita bisa melihat subyektifitas dari orang-orang di sekitar kita.

Happy trading… semoga untung!!!

Satrio Utomo

Kembali ke artikel awal: Trading untuk Pemula

Advertisements
Comments
2 Responses to “Ketika kita sudah ‘Obyektif’…”
Trackbacks
Check out what others are saying...
  1. […] #09: Manfaat dari Berpikir Obyektif […]



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Visit Website of Our Visitors

%d bloggers like this: