Mencari persamaan antara AALI vs DEWA*


Pengantar:  Maaf… ini tulisan yang saya publish 4 Mei 2011, seminggu yang lalu, di blog saya di Kontan.  Saya pindahkan kesini bagi anda yang masih belum sempat membacanya.  Semoga berguna.

_________________

Selamat siang…

Mungkin anda akan tersenyum membaca judul dari artikel ini. Mana ada ada persamaan antara PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) dan PT Dharma Henwa Tbk (DEWA) tersebut selain sama-sama listed di PT Bursa Efek Indonesia dan sama-sama penghasil komoditas? Kalau dicari perbedaannya, pastilah sangat gampang:

  • Yang satu adalah perusahaan yang sejak tahun 2007 selalu rutin membagi dividen, yang satu tidak pernah.
  • Keduanya dimiliki oleh dua buah grup perusahaan yang berbeda
  • Yang satu level harga sahamnya lebih sering berada di 5 digit, yang satu sudah setahun tidak bertemu dengan level harga ‘tiga digit’
  • Yang banyak analis fundamental yang mengerumuni, sedangkan saham yang lainnya, sampai sekarang tetap sulit untuk menarik perhatian para analis fundamental.
  • Yang satu termasuk dalam apa yang sering saya sebut sebagai golongan ‘saham fundamental’ (saham yang diamati oleh minimal 15 orang analis fundamental), yang satu lagi termasuk dalam ‘saham non-fundamental’ (saham diluar ‘saham fundamental’).
  • dll. dsb.

Yah… itu kan fundamentalnya.   Persamaan yang saya maksud disini adalah persamaan dari sisi analisis teknikal.

Sekarang… marilah kita lihat grafik pergerakan harga dari kedua saham tersebut dibawah ini:

Saya tidak mau bilang: grafik mana yang merupakan pergerakan harga apa.  Akan tetapi, kedua saham itu menunjukkan perilaku harga yang sama: bergerak naik turun diantara dua buah garis, sebuah level suport, dan sebuah level resisten.  Pergerakan seperti ini, sebagian orang menyebutnya sebagai tripple bottom.  Akan tetapi, saya lebih senang menyebutnya sebagai rectangle, karena dalam sebuah rectangle, harga diperbolehkan untuk menyentuh suport atan resisten lebih dari 3 kali.  Kita bisa melihat bahwa pada gambar di sebelah kiri, pergerakan harga menyentuh beberapa kali menyentuh suport level (titik titik A, titik C, dan titik E) dan juga beberapa kali harga menyentuh resisten (titik B dan titik D).  Setelah itu, harga mengalami penembusan resisten.

Prinsip dari kedua pattern itu sama: harga akan bergerak naik turun pada kisaran harga tertentu.  Implikasinya juga sama: jika harga mengalami penembusan resisten, maka harga memiliki potensi atau peluang untuk bergerak dengan lebar yang sama dengan lebar pola rectangle tersebut.   Keduanya juga harus menyentuh suport atau resisten dengan prinsip: Atas-Bawah-Atas-Bawah.  Level suport, resisten, kisaran, serta target dari kedua rectangle tersebut adalah sebagai berikut:

So… dari sudut pandang analisis teknikal:

kedua saham tersebut, memiliki pola yang sama yaitu pola rectangle.  Dan karena keduanya telah menembus resisten, maka keduanya memiliki potensi atau peluang untuk bergerak menuju target harganya masing-masing

Akan tetapi, tentu saja tidak sepenuhnya sama.  Dari pengalaman saya:

Saham Fundamental memiliki peluang yang lebih besar untuk tercapainya target pergerakan harga, dibandingkan dengan Saham Non-Fundamental.

Dengan kata lain… Kalau saham di sebelah kiri bergerak menuju target harganya, berarti itu memang sudah sepantasnya karena prediksinya juga begitu.  Anda boleh bilang deh: oh… Pak Tommy memang hebat deh… bisa prediksi saham AALI terus bergerak naik hingga 24950 sebelum pergerakan harga terjadi (hehehe).  Akan tetapi, kalau saham DEWA bergerak menuju targetnya di 114…. wah… saya kira itu hanya kebetulan saja. 😀

Saya nggak tau deh… apakah harga dari kedua saham tersebut akan bergerak ke level harganya.  Hari-hari ini, mencari berita bearish sepertinya lebih mudah dibandingkan dengan mencari berita bullish.  Laporan keuangan memang bagus.  Peningkatan laba bersih untuk kuartal pertama tahun ini, jika dibandingkan dengan tahun lalu, terlihat begitu spektakuler.  Akan tetapi, kalau anda bandingkan dengan harapan pencapaian laba bersih dari para analis?  Saya melihat bahwa lebih dari 60% saham-saham yang saya amati, pencapaian laba bersihnya dibawah harapan dari konsensus analis (minggu depan saya akan cerita mengenai hal ini deh…).  Margin keuntungan dari saham perbankan menurun, kenaikan harga BBM non subsidi telah menggerogoti keuntungan, demikian juga dengan peningkatan biaya-biaya yang lain.  Pokoknya: yang bisa mendorong kenaikan IHSG hanya aliran dana asing dan posisi teknikalnya doang.  Sisanya?

So…  Bisa saja target tersebut tercapai.  Bisa saja trend IHSG berubah menjadi turun, dan harga dari saham-saham tersebut kembali masuk ke kisaran harga sebelumnya.  IHSG false break… bisa saja kedua saham tersebut ikutan mengalam false break.

Kita lihat deh…

Prediksi saham fundamental dan saham non-fundamental itu sebenarnya sama.  ‘Preferensi resiko dan kemampuan anda melakukan positioning’  yang membedakan: saham mana yang akan anda per-‘beli-jual’-kan.

Happy trading… semoga untung!!!

Satrio Utomo

*bacalah halaman disclaimer sebelum anda melakukan posisi beli atau posisi jual berdasarkan ulasan ini. Terima kasih.

Comments
One Response to “Mencari persamaan antara AALI vs DEWA*”
Trackbacks
Check out what others are saying...
  1. […] jelas.  Saham-saham seperti itu… saya memang kadang rekomendasi… maklum… prediksi atas saham-saham seperti itu kan tetap sama saja dengan saham-saham bluechip lainnya.   Tapi saya tidak tertarik untuk melakukan posisi beli atas saham-saham yang diluar trading plan […]



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Visit Website of Our Visitors

%d bloggers like this: