Advertisements

Cramer Bounce


Selamat siang…

Pernahkah anda menonton acara ‘Mad Money’ di channel CNBC? Acara ini memang sangat Entertaining. Jim Cramer, sang pemandu acara, terlihat sangat berhasil dalam membuat rekomendasi saham yang biasanya berlangsung membosankan, bisa berubah menjadi sebuah show yang sangat menarik, kuat, bersemangat, dan energik.

Satu hal yang membuat acara ini sangat terkenal adalah pengaruh rekomendasi Jim Cramer (kemudian disebut sebagai fenomena Cramer Bounce) terhadap pergerakan harga.. Dalam studi yang dilakukan oleh Northwestern University, rekomendasi Jim Cramer bisa membuat saham-saham small cap mengalami kenaikan sebesar 5% dalam semalam!!!

Fakta lain yang kemudian juga menarik adalah: jika tidak terdapat berita yang mendukung, maka harga akan kembali pada harga sebelum rekomendasi. Penelitian lain yang dilakukan oleh Keasler dan McNeill juga menunjukkan bahwa kenaikan yang terjadi adalah sebagai akibat dari tekanan beli dari uninformed trader.  Akan tetapi, karena tidak adanya positive long term return, maka Keasler dan McNeill menyarankan agar investor sebaiknya berhati-hati terhadap bentuk informasi semacam ini.

Fenomena Cramer Bounce ini mengingatkan saya pada pergerakan harga saham-saham lapis tiga yang banyak terjadi belakangan ini.  Saham lapis ketiga adalah saham-saham berkapitalisasi kecil tapi dengan kondisi fundamental yang cukup lumayan (minimal net incomenya positif). Kejadiannya memang tidak sepenuhnya sama.  Persamaannya adalah pada saham yang mengalami pergerakan, yaitu saham yang berkapitalisasi kecil.  Selain itu, ada pengaruh dari ‘rekomendasi pakar’ terhadap pergerakan harga saham tersebut.  Akan tetapi, medianya berbeda.  Pembawa acara maupun narasumber di media televisi sepertinya masih belum ada yang bisa memberikan pengaruh yang cukup besar seperti apa yang terjadi pada acara Mad Money yang dipandu oleh Jim Cramer. Akan tetapi, belakangan banyak ‘orang-orang’ atau ‘pakar’ yang menggunakan blog/website, group Facebook, serta milis (mail list) untuk menggerakkan saham-saham lapis ketiga ini.  Dengan melalui media-media ini, ‘Sang Pakar’ kemudian melakukan rekomendasi.  Disisi lain, pelaku pasar yang merasa butuh akan informasi kemudian juga ‘sengaja’ mencari ‘info’ dari media-media tersebut. Harga saham kemudian bergerak naik.  Naik tinggi.  Ada yang kuat bertahan hingga beberapa hari, beberapa minggu.  Tapi ada yang hanya bisa membuat pergerakan harga yang cuman sehari-sehari.

Saham-saham lapis tiga adalah saham-saham dengan kondisi standar, harga saham ini relatif tidak bergerak.  Alasannya klasik:

  • Kapitalisasinya menengah atau kecil sehingga tidak begitu mempengaruhi pergerkan IHSG. Fakta ini membuat fund manager yang melakukan investasi dengan tujuan ‘mengalahkan kinerja IHSG’ tidak begitu tertarik akan saham ini.
  • Kinerjanya tidak stabil. Lebih sering rugi dari pada untung.
  • Tidak ada analis fundamental yang tertarik oleh saham ini
  • Jumlah saham beredar dari saham-saham ini, biasanya juga tidak terlalu besar.

Akan tetapi, kita tidak bisa mengingkari adanya fakta bahwa pada prinsipnya, harga saham akan bergerak naik jika ada orang yang mau membeli saham tersebut.

Volume beli masuk ke saham –> Harga Naik

Alasan-alasan inilah yang kemudian membuat harga kemudian naik sedemikian tingginya dalam waktu singkat (pergerakan harganya membetuk spike/paku) ketika seseorang memberikan rekomendasi atas saham ini, dan kemudian trader serta investor kemudian berjubel untuk melakukan pembelian.  Pergerakan harga berupa spike inilah, yang kemudian membuat uninformed trader menjadi rawan mengalami posisi nyangkut.  Kalau pas naik, mungkin semua orang balakan senang.  Tapi ketika harga kemudian bergerak turun, sebagian orang tentu saja akan mengalami posisi nyangkut.  Posisi nyangkut (menahan posisi dengan harga pembelian diatas harga pasar atau tengah mengalami kerugian potensial) kalau di saham-saham lapis pertama, atau lapis kedua yang fundamentalnya jelas, mungkin masih bisa tertolong karena untuk jangka panjang, pembeli kemungkinan besar masih akan tetap masuk ke saham tersebut karena kinerjanya memang masih akan terus membaik. Akan tetapi, nyangkut di saham lapis ketiga, bisa membuat dana yang anda miliki tertahan dalam waktu yang cukup lama.

Terkait dengan fenomena ini, ada beberapa hal yang harus selalu diingat oleh anda selaku pemodal:

  1. Kerugian dari setiap transaksi saham yang anda lakukan (seperti juga keuntungan yang dihasilkan), sepenuhnya adalah tanggung jawab dari anda sendiri. Ketika anda untung, mungkin anda bisa tertawa-tawa bersama-sama dengan ‘sang pakar’. Akan tetapi, ketika anda rugi atau nyangkut pada saham-saham tersebut. Anda akan menanggung semua akibatnya sendiri.
  2. Di pasar modal (seperti juga dalam kehidupan), setiap orang selalu memiliki kepentingan-kepentingan masing-masing. Perhatikan kepentingan dari orang-orang yang memberikan rekomendasi. Kalau memang kepentingannya sama-sama mencari untung (atau sama-sama mencari rugi juga kalau pas rugi), sepertinya memang tidak berbahaya. Akan tetapi, jika ternyata ‘Sang Pakar’ lebih condong ke kepentingan emiten atau market maker, ini yang berbahaya. Ketika harga bergerak naik, mungkin ‘Sang Pakar’ akan menjadi terkenal (kalau gak mau dibilang besar kepala) karena telah melakukan suatu rekomendasi yang benar. Akan tetapi, ketika harga mulai bergerak turun, ‘Sang Pakar’ terkadang tetap melakukan rekomendasi beli dengan alasan-alasan yang dibuat-buat. Pren-Makan-Pren (PMP) seperti ini, tentu saja tidak etis, tapi tetap saja… orang sering melakukannya.
  3. Saham-saham lapis ke ketiga tersebut volume transaksinya relatif tidak stabil. Kalau pas musimnya, transaksinya memang bisa likuid. Akan tetapi, kalau sudah nyangkut dan kemudian kemudian musimnya berakhir, volume bisa menghilang untuk waktu yang sangat lama. Akibatnya: nyangkutnya bisa sangat lama. Selain itu, volume dari saham-saham lapis ketiga ini juga sangat tergantung pada kebaikhatian dari otoritas bursa atau SRO (self regulating organization), dalam hal ini BEI dan Bapepam. Kalau mereka lagi ketat mengawasi pergerakan harga saham, saham-saham lapis ketiga juga tidak bisa bergerak secara aktif.
  4. Perhatikan identitas dari ‘Sang Pakar’. Kalau identitasnya jelas, dengan nama yang jelas, orangnya juga jelas, mungkin tidak akan menjadi permasalahan. Yang bermasalah itu kan kalau sudah identitasnya tidak jelas. Buat sebagian orang, nama tinggal diganti, email juga tinggal bikin baru, begitu juga dengan account Facebook.
  5. Terakhir, anda juga harus selalu ingat bahwa ‘trading berbeda dengan investasi’. Saham-saham lapis ketiga, kalau untuk trading jangka pendek, saya kira masih menarik untuk dilakukan. Tapi ketika anda melakukan investasi pada saham-saham ini, sebenarnya telalu beresiko. Konsistensi dari kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba, sering kali harus dipertanyakan. Apalagi kalau perusahaan tersebut adalah perusahaan investasi. Untuk bisa ‘bermain’ pada saham-saham lapis ketiga ini, anda memang harus sudah bisa membedakan arti dari ‘trading’ dan ‘investasi’, karena jika tidak market akan ‘menghabisi’ ekuitas anda dengan sangat cepat.

Penutup

Disatu sisi, pergerakan dari saham-saham lapis ketiga, biasanya merupakan pertanda dari berakhirnya trend naik jangka menengah.  Akan tetapi, saya juga melihat kemungkinan bahwa arah pergerakan market hingga beberapa pekan atau bulan kedepan, sepertinya hanya cenderung bergerak flat.  Ketika market bergerak flat, pergerakan dari saham-saham lapis ketika sepertinya bakalan lebih sering menarik perhatian dari pelaku pasar, dibandingkan dengan saham-saham lapis pertama atau bahkan saham-saham lapis kedua.  Jadi saya hanya bisa menghimbau: kalau anda berminat untuk trading di saham-saham tersebut, anda memang harus lebih berhati-hati.

Happy trading… semoga untung!!!
Satrio Utomo

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Visit Website of Our Visitors

%d bloggers like this: