Mewaspadai ‘Subjektifitas’ seorang ‘Rekomendator’


Selamat siang…

Jika anda rajin mengamati ulasan yang saya berikan pada weblog saya, http://www.rencanatrading.com, anda pasti sudah mulai melihat bahwa fokus rekomendasi saya sudah mulai bergerak, dari saham-saham lapis pertama (ASII, GGRM, dan ITMG), kepada saham-saham lapis kedua (UNVR, BBNI, MEDC, TINS, atau INCO). Rekomendasi saya adalah rekomendasi yang berbasis pada analisis teknikal. Artinya: jika setelah saya memberikan rekomendasi, ternyata harga bukannya bergerak naik tapi malah terdapat suport yang ditembus, berarti anda bisa langsung memberikan vonis bahwa rekomendasi saya salah. Dengan kata lain: jika anda mengikuti rekomendasi saya dan anda sudah mempersiapkan trading plan dengan menggunakan stoploss dengan sebuah suport tertentu, berarti itu adalah saatnya anda melakukan apa yang sebaiknya anda lakukan.

Seorang analis selalu berusaha melakukan rekomendasi berdasarkan apa yang menurutnya terbaik. Dalam melakukan rekomendasi, seorang analis haruslah obyektif. Tidak ada kepentingan lain selain kepentingan untuk memberikan wawasan kepada orang-orang yang mengikuti rekomendasinya. Tidak ada unsur-unsur subyektifitas. Akan tetapi… anda sebagai seorang pengguna… (hehehe) tetap saja anda harus menyadari bahwa analis bukalah seorang malaikat. Terkadang (atau bahkan sering kali)… analisis memasukkan unsur-unsur subyektifitas dalam rekomendasinya. Entah karena itu adalah perintah atasan langsungnya, perintah direksinya, perintah pemilik perusahaan, permintaan sales atau Head of Equity, atau permintaan orang orang disekitarnya (teman, istri, dll). Atau bisa juga karena analis itu memang memiliki posisi. Sebagai contoh: coba anda mencari riset yang dibuat oleh analis yang memuat komentar mengenai perusahaan yang baru saja IPO. Pernahkan anda melihat analis yang secara terang-terangan memberikan rekomendasi ‘JUAL’ atau ‘Jangan BELI’? Tentu saja sangat sulit untuk ditemui.

Itu tadi baru analis. Orang yang dibayar secara profesional untuk memberikan rekomendasi. Padahal, belakangan ‘pemberi rekomendasi’, saya menyebutknya sebagai ‘rekomendator’ seperti ini, tidak hanya terbatas pada orang-orang yang berprofesi sebagai seorang analis. Tidak hanya terbatas pada orang yang bekerja pada sebuah perusahaan sekuritas malahan. Sekarang, semua orang boleh memberikan rekomendasi. Tidak adanya aturan yang tegas mengenai masalah ‘rekomendasi’ ini, membuat semua orang boleh memberikan rekomendasi. Mau trader, investor, pemilik perusahaan, emiten, wartawan, dsb. Atau bahkan orang-orang yang tidak ada hubungan dengan pasar modal, seperti polisi lalu lintas, penyeberang jalan, anak ingusan, dll. Saluran komunikasinya juga jauh lebih banyak. Kalau dulu, saluran rekomendasinya mungkin hanya melalui surat, email, milis (mail list) atau fax. Tapi sekarang, sudah ada Facebook, blog, Twitter, dan lain sebagainya. Sudah begitu, sebagian memang masih cukup sopan dengan menggunakan identitas aslinya. Tapi, sebagian besar, hanya menggunakan nama-nama alias yang dengan mudahnya bisa berubah-ubah setiap hari. Indonesia memang negara bebas. Semua orang boleh memberikan rekomendasi saham.

Dalam kebebasan ini, masalah obyektifitas rekomendasi ini juga semakin menjadi pertanyaan. Kalau seorang analis ‘subyektif’, mungkin anda dengan mudah mengadukannya kepada orang yang mempekerjakannya. Tapi kalau seorang ‘rekomendator non-analis’ bertindak secara subyektif (apalagi kalau rekomendator tersebut tidak menggunakan nama aslinya/orangnya tidak jelas). Anda mau minta mengadu kepada siapa kalau ‘termakan’ oleh rekomendasinya?

Melakukan sebuah transaksi beli atau jual saham dengan berdasarkan pada prediksi orang lain adalah sebuah tindakan yang sangat beresiko. Bagi saya, itu sama saja meletakkan uang yang sudah anda peroleh dengan susah payah, kepada sesuatu yang sangat tidak jelas. Ok lah kalau benar, anda bisa memperoleh keuntungan. Akan tetapi, jika ternyata salah, dan kemudian berarti anda mengalami kerugian, maka anda tidak bisa menyalahkan siapa-siapa, terutama diri anda sendiri! Diri anda yang sudah cukup bodoh untuk mempercayai orang lain! Hebat kan?

Mendeteksi Subyektifitas seorang Rekomendator

Sebenarnya ada cara-cara yang bisa dilakukan untuk mendeteksi subyektifitas (atau setidaknya ada atau tidaknya potensi terjadinya subyektifitas) atas rekomendasi yang diberikan seorang rekomendator. Ada banyak cara sih… tapi dari pengamatan saya, cara-cara yang paling sering atau paling mudah untuk ditemui adalah sebagai berikut:

1. Rekomendator tersebut menyatakan bahwa dirinya memiliki posisi.

Susah memang menjadi seorang rekomendator. Kalau gak punya posisi, orang juga terkadang sulit untuk bisa percaya. Tapi kalau punya posisi, bisa dituduh subyektif. Tapi cara ini memang cara yang paling mudah untuk menilai obyektifitas seorang rekomendator. Tapi tetap saja, jika rekomendator ini ternyata hanya memiliki posisi terlalu sedikit, maka kemungkinan bahwa rekomendasinya juga sulit untuk diandalkan. Anda tetap saja membutuhkan waktu untuk bisa melihat obyektifitas seorang rekomendator jika dia memiliki posisi.

2. Rekomentator dengan nama samaran

Jika anda menggunakan nama samaran, apa susahnya sih mengganti nama samaran yang anda pakai dengan nama samaran lagi yang lain di kemudian hari?

3. Rekomentor yang fokus pada saham-saham non-fundamental.

Anda mungkin sudah membaca pada tulisan saya sebelumnya, mengenai perbedaan antara saham fundamental dan saham non-fundamental. Ada sebagian rekomendator yang hanya fokus pada saham-saham fundamental. Ada yang berada ditengah-tengah. Sebagian fundamental, sebagian lagi non fundamental. Tapi ada juga rekomendator yang fokus pada saham ‘non fundamental’. Nah… rekomendator yang kemungkinan besar ‘terganggu objektifitasnya’ adalah mereka yang memfokuskan diri pada saham-saham non-fundamental. Maklum saja… saham non fundamental itu memang tidak memiliki ‘pembeli tradisional’ yang terus melakukan posisi beli. Maklum, tidak adanya analis fundamental yang memang pekerjaannya mengamat-amati dan memberikan rekomendasi saham tersebut, menjadikan volumenya transaksinya hanya bisa meningkat jika ada orang yang memberikan rekomendasi beli. Itu sebabnya, sebuah emiten (atau bisa saja market maker dari saham tersebut), meminta kepada seorang rekomendator untuk memberikan rekomendasi dengan kompensasi-kompensasi tertentu. Nah.. kalau sudah ada kompensasinya begini… apakah rekomendator tersebut bakalan obyektif? Sulit bukan?

4. Rekomendator yang mengubah alat prediksi sejalan dengan berubahnya arah pergerakan harga

Anda mungkin sudah pernah membaca tulisan-tulisan saya sebelumnya bahwa ‘Trading berbeda dengan investasi’. Anda harus memilih salah satu diantaranya karena anda tidak bisa melakukan keduanya. Jika anda tidak disiplin, maka market akan menelan anda, cepat atau lambat. Hal ini yang juga bisa anda cermati pada seorang rekomendator. Seorang anda boleh mencurigai objektifitas dari seorang rekomendator, jika rekomendator ini berubah alat prediksinya, yang tadinya menggunakan alat prediksi teknikal (karena dia menyarankan untuk posisi trading), tapi kemudian berubah menjadi alat prediksi fundamental (menyarankan posisi nyangkut anda, menjadi posisi investasi). “Beli pak… beli… Secara teknikal bagus… bla… bla… bla…”. Tapi ketika sudah nyangkut, dengan santainya rekomendator ini bilang: “Tenang aja pak… kan P/E-nya rendah… Nanti kan ada corporate action ABCD…” atau… “Bentar lagi kan dividen pak…” atau… “Bandarnya aja belum keluar pak…” dll, dsb. Awalnya rekomendasi untuk posisi trading, setelah nyangkut, rekomendasinya berubah menjadi rekomendasi investasi.

Dan masih banyak lagi. Intinya: saham itu pada dasarnya adalah selembar kertas yang diberi tanda, kemudian dijual di pasar modal. Pada emiten yang bagus (yang memang cari duit dengan mengharapkan bantuan dari duit anda), mereka akan melakukannya dengan cara-cara yang benar. Akan tetapi, pada pengelola modal yang memang tahu bahwa saham yang ada ditangannya hanyalah selembar kertas, mereka akan berusaha dengan sangat keras untuk menukarkan kertas yang ada ditangan mereka, dengan uang yang ada di tangan anda.

So… saya tidak akan bosan-bosannya mengulang saran ini kepada anda semua:

Bertransaksilah dengan menggunakan prediksi anda sendiri dan gunakan prediksi orang lain hanya sebagai pembanding!!!

Ketika anda harus menghadapi kerugian, anda harus menghadapinya sendiri! Orang lain tidak akan mau bertanggung jawab terhadap kerugian, kekalahan, dan (terutama) kebodohan yang anda lakukan!!!

Happy trading… semoga untung!!!

Satrio Utomo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Visit Website of Our Visitors

%d bloggers like this: