Advertisements

Trader Pengejar Rumor


Selamat siang…

Kembali ke artikel awal: Trading untuk Pemula

Pada tanggal 31 Januari lalu, teman lama saya mengirim Blackberry Message (BBM) kepada saya dengan isi sebagai berikut:

Kesan pertama saya adalah: Eh… kok nggak biasanya ini orang kirim BBM rekomendasi kepada saya.  Saya sih sudah lebih dari 10 tahun tidak pernah tertarik oleh rumor.  Tapi kemudian saya melihat chart dari saham GEMA, harga sudah naik 55,6% (penutupan ke penutupan) dalam 8 hari perdagangan. Melakukan posisi beli ketika harga sudah naik terlalu tinggi dalam waktu yang terlalu cepat seperti ini adalah sebuah perbuatan yang tidak bijaksana. Bener nih harga masih mau naik?

Saya kemudian memperhatikan pergerakan harga dari saham tersebut di hari itu.  Harga penutupan sebelumnya, di Rp420.  Pada pagi hari, harga dibuka tidak berubah di Rp420.  Kemudian,  harga bergerak naik ke Rp 425 dulu.  Kemudian tidak lama kemudian, harga turun hingga titik terendahnya di Rp 335, turun 21,2% dari titik tertingginya, sebelum ditutup di Rp 340. Loh? Apa maunya ini? Dengan rumor seperti itu, harga malah turun dengan pergerakan pagi naik dulu.  Apa orang yang beli pagi berdasarkan rumor, apa nggak nyangkut itu?  Bagaimana nasib dari orang yang dengan lugu melakukan posisi beli setelah harga pembukaan?  Apakah tidak terjebak?  Apakah rumor ini tujuannya memang menjebak?

Saya kemudian berpikir, dari mana teman saya dapet berita atau rumor ini.  Sepertinya rumor ini bukan dia yang bikin.  Dari temannya sesama broker? Dari analisnya? Atau dari mana?  Saya kemudian bertanya kepada ‘Mbah Google’.  Saya memasukkan keyword “diminati asing GEMA melesat 750”.  Saya kemudian, tertarik kepada halaman rumor yang terdapat di salah satu portal online.  Pikir saya ketika itu: ‘duh… kelakuan siapaaa ini…”

Saya kemudian teringat, loh…  beberapa waktu yang lalu, saham LTLS memiliki pergerakan saham seperti itu.  Pagi naik dulu, sore kemudian turun.  Saya cek chart LTLS, ternyata pergerakan itu terjadi tanggal 25 Januari.  Dan, saya cek halaman rumor tersebut, ternyata tanggal 25 Januari juga terdapat rumor LTLS dengan bunyi: Di Incar Asing, LTLS tender offer Rp 2000. Lah? Kok? Masa sih kebetulan?

Kemarin, hari Kamis, saya kebetulan melihat kolom rumor tersebut merekomendasikan saham TELE.  Mau dibeli ZTE katanya.  Saya sampai ngetweet melalui akun tweeter saya, @satriopakrt kurang lebih seperti ini: KALAU TELE HARI INI TURUN, KEBANGETAAAN!!! Well… TELE hari itu tidak turun.  Tapi tetap saja, harga saham naik dulu di pagi hari, kemudian turun, Tetap saja.  Orang yang beli pagi setelah melihat kolom rumor tersebut, kemungkinan besar sudah berada didalam masalah.

Saya terus penasaranan.  Sebenarnya, kualitas rekomendasi dari kolom rumor media tersebut, seperti apa sih?  Saya kemudian melihat 10 rekomendasi terakhir dari kolom rumor tersebut:

Hm… benar-benar menarik.  Kita bisa melihat bagaimana cara sebuah ‘rumor’ memancing ‘korban’nya.  Yang pertama, adalah dengan menggunakan potensi keuntungan yang luar biasa tinggi.  Ini dapat dilihat dari rata-rata potensi keuntungan yang dijanjikan oleh rumor tersebut, adalah sebesar 68,5%.  Trader seperti ‘didorong’ untuk melakukan posisi beli dengan umpan yang mereka inginkan: potensi keuntungan yang sangat besar untuk jangka waktu pendek.  Potensi keuntungan 68,5% untuk jangka pendek, itu jelas sangat jauh dibandingkan dengan suku bunga deposito yang saat ini hanya berkisar pada level 3,8% – 4,5%.

Selain itu… bumbu penyedap rumor yang paling sering digunakan adalah kata-kata ‘ASING’.   Mulai dari ‘ditawar asing’, ‘diincar asing’, ‘disedot asing’ (oh.. emang asing bisa ‘nyedooooot’ sekarang… hehehe).  Adanya kata-kata ‘asing’ ini membuat rumor tersebut menjadi lebih menarik.  Tapi… apakah benar memang ‘asing’????  ah… mosok sehhh???

Terus… bagaimana hasilnya?  Apakah transaksi jangka pendek ini menguntungkan seperti yang diiklankan?

Ternyata yang didapat adalah kondisi yang sebaliknya.  Saya mencoba menggambarkan ‘hasil’ ini dengan beberapa buah model transaksi yang bisa dilakukan oleh seorang trader.  Bicara mengenai ‘trader’ ini tentu saja artinya bisa luas karena strategi trader itu bisa bermacam-macam. Untuk mempersempit pilihan, saya mencoba membuat tiga buah model.

  1. Model pertama adalah One Day Trader (ODT) yang memiliki strategi ‘beli pada harga 1 poin diatas harga pembukaan, dan jual pada harga 1 poin dibawah harga penutupan.  Yang dimaksud dengan ‘1 poin dibawah penutupan ini karena pada penutupan harga lebih sering ditutup di posisi offer, sehingga posisi jual dilakukan di harga bid, kecuali jika harga ditutup di harga terendah, maka berarti posisi dijual pada harga penutupan.
  2. Model kedua adalah ‘Trader Terima Seminggu’ (TTS) yang memiliki strategi ‘beli pada harga 1 poin diatas harga pembukaan, dan jual pada harga 1 poin dibawah harga penutupan ketika T+2 (kalah menang diterima/dibayar seminggu kemudian).
  3. Model ketiga adalah ‘Trader Nyangkuter’ (NYANGKUTERS) dimana trader ini beli pada harga 1 poin diatas harga pembukaan ketika T+0 rekomendasi, tapi karena nyangkut, ditahan terus hingga sekarang (penutupan hari Jumat kemarin).

Hasilnya bisa dilihat dibawah ini:

Hebat ya?  Anda bisa melihat.  Seorang pemodal, dipancing untuk melakukan posisi beli, dengan janji potensi keuntungan yang luar biasa tinggi.  Akan tetapi, yang didapat untuk jangka pendek, adalah kerugian yang cukup signifikan dengan probabilitas yang sangat tinggi.  Dari sisi probabilitas, anda bisa melihat bahwa One day trader (ODT) memiliki probabilitas untuk mengalami kerugian sebesar 100%, dengan rata-rata kerugian untuk setiap sahamnya adalah sebesar 7,5%.  Hasil dari Trading Terima Seminggu (TTS) ternyata lebih mengenaskan lagi.  Ketika trader tersebut memutuskan untuk tidak cut loss  dan menahan posisi hingga dua hari, (berubah menjadi TTS) , probabilitas untuk mengalami kerugian memang kemudian turun menjadi 80%, akan tetapi dengan kerugian yang lebih besar, yaitu sebesar 8,1%. Bagi trader yang memutuskan untuk terus menahan posisi, menyangkutkan diri (Nyangkuters) maka probabilitas untuk mengalami kerugian tetap sama yaitu sebesar 80%, tapi dengan kerugian yang relatif tidak berubah, yaitu sebesar 7,9%.

Semua itu adalah potret dari seorang pengejar rumor.  Orang yang melakukan posisi beli dengan didorong perasaan ‘serakah’, keinginan untuk memperoleh keuntungan,  atau ‘greed’ yang dimilikinya.  Karena keyakinan akan rumor tersebut, dia melakukan posisi beli, 1 poin lebih mahal dari harga pembukaan.  Hasilnya? Kalau dia adalah seorang yang ‘beli pagi jual sore’, rata-rata kerugian yang dialaminya adalah sebesar 7,5%.  Kalau dia seorang yang plin-plan… dan kemudian bilang kalau: “ah… ditahan ajah deh… dilepas nanti ajah… kita lihat 1 – 2 hari deh…”.  Hasilnya, anda akan memiliki kerugian yang lebih dalam, kerugian yang lebih besar, dengan rata-rata kerugian sebesar 8,1%.  Terus, kalau anda adalah seorang trader nyangkuter, yang sayang cut loss, tidak mau rugi, menahan posisi, dan berharap harga nanti naik di kemudian hari? Well… berarti sampai penutupan hari Jumat kemarin (10 Februari 2012), anda sudah memilki kerugian potensial dengan rata-rata sebesar 7,9%.

Loh?  Kok rugi? Katanya mau untung?

Kalau anda merasa bahwa ‘keanehan’ seperti ini adalah absurd dan harus dihentikan…. anda seakan berhadapan dengan ‘The Great Wall of China’.  Dari apa yang saya pernah tanyakan kepada teman yang lebih mengerti mengenai hukum pasar modal, jawaban mereka biasanya klasik.  Pemberi rekomendasi akan berlindung pada disclaimer.  BEI akan berkata bahwa tugas mereka adalah melaksanakan perdagangan yang wajar.  BEI tidak memandang rumor seperti ini sebagai sesuatu yang diluar kewajaran.  BEI sering kali hanya bertanya kepada Emiten, kebenaran dari berita tersebut, dan ketika emiten bilang bahwa berita itu tidak benar, BEI juga tidak bisa berbuat apa-apa.  Bapepam? Well… Bapepam merasa bahwa mereka tidak memiliki juridiksi untuk mengatur media, karena yang mengatur media itu kan dewan pers.  Dan apakah hal seperti ini akan menjadi perhatian dari Dewan Pers? hm…. belum pernah saya dengar Dewan Pers mengatur tentang rumor pasar modal. Jadi… karena masalah ini berada dalam ‘no man’s land’… rumor tetap mengalir, pemodal retail tetap menjadi korban, dan tidak pernah ada pihak yang dihukum.  Yang bersalah ada di penjara.  Mengenai masalah rumor, tidak ada pihak yang bisa dipersalahkan.

Saya hanya bisa mengucapkan: Selamat datang di Indonesia, negara hukum yang kita cintai ini.

So…

Anda masih berminat menjadi ‘Trader Pengejar Rumor’?  Anda masih merasa perlu mendegarkan rumor?  Sejak lebih dari 10 tahun yang lalu, saya sudah memutuskan untuk berhenti mendengarkan rumor, dan kemudian belajar memprediksi sendiri pergerakan harga. Semoga saja anda memiliki kesimpulan yang sama, setelah anda membaca tulisan ini.

Happy trading… semoga untung!!!

Satrio Utomo

Kembali ke artikel awal: Trading untuk Pemula

Advertisements
Comments
4 Responses to “Trader Pengejar Rumor”
  1. ita says:

    keren pa Tom..
    tulisannya semoga bisa menjadi pengingat buwat para pendengar rumor..dan gamparan buwat penyebar rumor.. 😉

  2. Antonius Budianto says:

    ooo,makanya dulu pak satrio pernah tanya di facebook masalah pers.saya selalu menganggap rumor pasar sebagai hiburan yg lucu.saya lebih peduli dengan laporan keuangan,angka2 fundamental,dan deviden yg dibagikan

Trackbacks
Check out what others are saying...
  1. […] #40: Trading Strategy: Jangan jadi ‘Trader Pengejar Rumor’ […]



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Visit Website of Our Visitors

%d bloggers like this: