Advertisements

Mencetak Uang ‘Aseli’ di Bursa Efek Indonesia


Selamat siang…

Saham itu adalah selembar kertas.  Selembar kertas yang diberi tanda.  Tanda yang berupa tulisan yang menunjukkan bahwa kertas tersebut adalah bukti kepemilikan atas sebagaian dari suatu perusahaan.  Disitu baru selembar kertas yang dikatakan sebagai saham itu memiliki harga.  Karena saham adalah selembar kertas, maka tanpa tanda tersebut, kertas itu tidak akan berharga.  Tidak akan berguna bagi siapapun juga yang memilikinya.

Saham itu dikeluarkan oleh sebuah emiten.  Emiten tersebut menjual saham kepada publik.  Emiten menyalurkan saham tersebut melalui IPO, right issue, pre-emptive right issue, obligasi konversi, maupun backdoor listing.  Publik, baik secara perseorangan maupun berkelompok melalui institusi, membeli saham tersebut.  Publik menyerahkan uang.  Emiten menyerahkan saham.

Publik membeli saham karena ingin mendapatkan keuntungan.  Keuntungan jangka panjang, maupun keuntungan jangka pendek.  Keuntungan berupa capital gain yang didapat dari pergerakan harga.  Keuntungan yang didapat dari dividen, jika perusahaan tersebut mengalami keuntungan.

Apakah ada orang yang ingin beli saham karena berniat untuk rugi, berharap harga turun?  Kalaupun ada, mungkin dia memiliki motif tersendiri.  Tapi sejauh yang saya temui, tidak ada orang yang seperti itu.  Orang ingin beli saham karena ingin kekayaannya bertambah.  Uang yang dimilikinya berkembang.  Seorang pemodal membeli saham karena berharap agar harga saham di masa yang akan datang akan bergerak naik, tidak bergerak turun.

Semua itu hal yang biasa kita temui di bursa saham.  Normal.  Wajar.

Permasalahannya adalah: emiten itu ada yang baik dan ada pula yang buruk.  Emiten yang baik adalah emiten yang selalu berusaha untuk memperkaya pemegang sahamnya dengan berusaha dan berhasil menciptakan laba bersih yang sebesar-besarnya, dengan melalui laba operasional perusahaan yang sebesar-besarnya.  Emiten yang buruk adalah emiten yang (kurang lebih) berlawanan dengan emiten yang baik.  Kalau hanya gagal untuk menciptakan laba bersih saja, sekali atau dua kali, mungkin bisa saja diampuni.  Akan tetapi, Emiten yang buruk ini, tidak terlalu bersemangat atau malah barangkali tidak memiliki keingingan untuk menghasilkan laba bersih untuk pemegang sahamnya.  Pendapatan juga seadanya, itupun bukan dari operasional.Yang ada hanya rumor-rumor corporate action yang tidak ada juntrungannya, tidak ada arahnya.  Harga bergerak naik turun bak roller coaster, dengan tanpa penyebab fundamental yang jelas.  TIdak pernah mencetak laba, pendapatan operasional negatif, corporate governance dari perusahaan itu buruk.  Pokoknya, perusahaan tersebut ternyata sudah tidak memiliki nilai lagi, tidak memiliki prospek untuk masa yang akan datang, dan tidak memiliki niatan yang baik dalam berusaha.

Bagi emiten yang buruk seperti ini, saham sebenarnya hanyalah selembar kertas.  Kertas yang tidak bernilai.  Kertas yang kemudian bisa ditukarkan dengan uang yang anda miliki.  Kertas yang kemudian ditukarkan dengan uang yang dimiliki oleh pemodal.  Ketika saham adalah selembar kertas tidak bernilai yang bisa ditukarkan dengan uang, maka yang terjadi adalah emiten kemudian mencetak kertas sebanyak-banyaknya, dan kemudian ditukarkan dengan uang yang anda miliki.  Benar-benar seperti mencetak uang ‘Aseli’…

Saya pada dasarnya adalah orang yang secara pribadi tidak menyukai emiten buruk yang melakukan pencetakan saham untuk mendapatkan uang, terutama melalui right issue.  Right issue dengan pemegang saham memili Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) atau (terutama) right issue tanpa HMETD.  Right issue bagi sebuah perusahaan yang seperti ini, adalah sebagai konfirmasi bahwa perusahaan tersebut telah gagal untuk mengelola cash flow dengan baik.  Selain itu, right issue juga hanya akan menggerus kepemilikan dari pemegang saham publik.  Orang-orang yang sudah terlanjut nyangkut di saham itu.  Right issue bagi perusahaan seperti ini, itu ibarat mencetak uang aspal (asli tapi palsu) melalui bursa saham.  Emiten memang mendapatkan fresh money, uang asli.  Tapi, yang dilepas kepada publik adalah kertas yang sebenarnya tidak bernilai.   Yang ada, hanyalah kerugian potensial dari pemegang saham publik yang nyangkut (nyangkuters), investor,  karena harga saham terus bergerak turun, dari waktu ke waktu.

Tidak suka.  Tapi gimana lagi? Peraturannya boleh kok.  Niatan dari pembuat peraturan (Bapepam): memang bagus: menolong perusahaan yang mengalami financial distress.  Hanya sayangnya, niatan baik tersebut sering kali malah disalahgunakan atau dimanfaatkan oleh emiten nakal. Saya terkadang iri dengan peran dari Bank Indonesia yang memiliki kekuatan ‘pemaksaan’ agar sebuah bank bisa beroperasi sesuai dengan good corporate governance yang baik.  Terkadang, saya berharap agar Bapepam lebih memiliki kekuatan ‘pemaksaan’, yang membuat perusahaan terbuka atau perusahaan publik, menggunakan dana yang diamanahkan oleh publik dengan sebaik-baiknya.  Dengan niatan baik, dengan good corporate governance yang baik, dengan keingingan yang lebih baik, dengan keingingan untuk mendapatkan keuntungan bagi pemodal publik, yang telah menginvestasikan uangnya ke dalam perusahaan tersebut.

So… Apa yang bisa saya lakukan? Well… at least, saya membuat tulisan ini.  Akan tetapi, pada dasarnya yang bisa saya lakukan hanya mengelus dada melihat kelakukan dari emiten tersebut. Saya hanya bisa terus menghimbau pemodal agar selalu berhati-hati pada emiten yang rajin mencetak uang ‘Aseli’ melalui pasar modal.  Hindarilah.  Lakukanlah hanya posisi trading, jangan posisi investasi. Bagaimana mau investasi kalau harga sahamnya untuk jangka panjang cenderung turun terus?  .

Kedepan, fungsi pengawasan pasar modal, akan berpindah ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK).  Terus terang, saya berharap banyak agar OJK bisa berbuat lebih banyak dalam melindungi pasar modal, terutama pemodal retail, dari permasalahan-permasalahan seperti ini.

Kasihan benar pemodal kita, terutama permodal retail yang terjebak dalam permainan ini.  Semoga anda cukup waras dan berilmu untuk bisa menghindarinya.

Happy trading… semoga untung!!!

Satrio Utomo, Mahasiswa Sekolah Bisnis dan Management, Institut Teknologi Bandung.

Advertisements
Comments
2 Responses to “Mencetak Uang ‘Aseli’ di Bursa Efek Indonesia”
  1. alfha says:

    Assalamu’alaikum, Pak Satrio.. Sy mau numpang nanya, Pak. Selain tool2 yg dibahas di buku karangan Bapak, tool apalagi yg Bapak pakai utk meningkatkan akurasi prediksi Bapak? Sy saat ini sedang belajar ttg trading dan sampai skrg msh bingung utk membuat sistem trading yang baik, khususnya dgn tool TA klasik. Mudah2an Pak Satrio berkenan memberikan sedikit petunjuk atau pencerahan. Terima kasih sblmnya,Pak

    • Satrio Utomo says:

      Saya hanya pake price pattern plus fibonacci untuk prediksi. Kalau trading, saya cuman pake candlestick. Kalau prediksi IHSG, baru saya pake Elliot Wave…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Visit Website of Our Visitors

%d bloggers like this: