Advertisements

Mengijinkan Backdoor Listing = Mendidik pemodal melakukan Maysir


(Tulisan ini lebih sesuai untuk dibaca bagi mereka yang ingin menambah pengetahuan mengenai praktek ekonomi syariah di pasar modal.  Terima kasih)

Selamat pagi…

Belakangan ini, kita banyak melihat adanya aksi korporasi berupa backdoor listing.  Backdoor listing ini adalah usaha dari sebuah perusahaan untuk masuk ke bursa, tapi tidak dengan melalui IPO.  Sebuah perusahaan yang tidak terdaftar di bursa, kemudian membiarkan dirinya diakuisisi oleh perusahaan yang terdaftar (listed) di bursa, agar dia bisa menjadi ‘isi’ dari perusahaan tersebut.

Saya tidak akan mempersoalkan legalitas dari aksi ini.  Saya juga tidak akan mempermasalahkan etis atau tidaknya aturan ini.  Saya juga tidak akan membahas apa itu backdoor listing karena di salah satu website ini, anda akan bisa membaca mengenai apa itu backdoor listing dengan lebih lengkap.   Akan tetapi, saya hanya sedikit ‘tersentuh’ sekitar seminggu yang lalu, ketika seorang pemodal bertanya kepada saya: 

Pak… saham kecil yang belum bergerak, yang kira-kira ‘tidak ada isinya’ (tidak ada fundamentalnya sama sekali), itu apa ya pak?  Saya mau beli saham itu, karena saya berharap bahwa kedepan, akan ada perusahaan yang akan melakukan backdoor listing dengan menggunakan perusahaan tersebut. Lumayan kan pak.. beli saham dibawah cepek, terus nanti jual di harga 5000…

Saya jadi terhenyak.  Iya ya.  Kalau kita beli saham harga 100, jual di harga 5000.  Pasti akan tebal kita punya kantong.  Cuan soro kalau orang Surabaya bilangnya.  Pasti menguntungkan.  Tapi… kemudian saya iseng bertanya kepada pemodal tersebut, mengenai berapa lama dia mau menyimpan saham tersebut.  Jawaban dari pemodal tersebut:

Nggak tau saya mau nahan perusahaan tersebut berapa lama.  Yang penting, saya tahan ajah.  Lagian pak.. itu kan cuman duit sedikit.  Ilang juga gak papa lah…

Hehehe…. satu hal yang kemudian terlintas di kepala saya, adalah mengenai seorang penjudi yang telah menghadapi sebuah meja Rolet.  Penjudi itu memasang taruhan.  Bisa pada angka, genap/ganjil, warna, dll.  Kemudian rolet diputar.  Penjudi menunggu hasil akhir dari putaran Rolet tersebut.  Jika bola berhenti sesuai dengan taruhan yang dia lakukan, dia akan mendapatkan uang.  Tapi, jika kemudian bola berhenti di tempat lain, ya sudah.. uang dia hilang.  Tidakkah analogi tersebut sama dengan apa yang dilakukan oleh pemodal tadi?

Pertanyaan saya sekarang adalah: Apakah yang dilakukan oleh pemodal ini adalah sebuah proses investasi? Bukankah pemodal tersebut hanya sekedar berjudi?  Berspekulasi mengenai suatu kondisi di masa yang akan datang yang probabilitas terjadinya juga tidak jelas?

Dalam Islam, spekulasi itu dikenal dengan istilah Maisir.  Istilah maisir itu sebenarnya juga masih ambigue, memiliki arti ganda: bisa spekulasi, ataupun juga judi.  Tapi… keduanya memiliki hukum yang sama, yaitu haram.  Lebih jauh mengenai maisir, bisa anda lihat pada tautan berikut ini.

Trading atau investasi dengan metode ‘taruh duit’ pada perusahaan yang ‘tidak ada isinya’ atau ‘tidak jelas isinya’, kemudian menunggu suatu keadaan yang probabilitas terjadinya sangat kecil, menunggu keajaiban, sama sekali tidak masuk akal.  Kalau menurut saya sih… trading atau investasi dengan model atau strategi seperti ini, ini adalah maisir.  Spekulasi murni.  Oleh sebab itu, langkah Bursa Efek Indonesia dan Bapepam dalam ‘mengijinkan’ atau ‘tidak melarang’ terjadinya backdoor listing, menurut saya, memiliki resiko untuk terjadinya upaya ‘pendidikan pemodal dalam melakukan maisir’.

Meskipun demikian, kedepan, saya kepingin cari tahu dulu deh… apakah benar pendapat saya ini… saya ingin bertanya kepada mereka yang lebih pakar mengenai hukum syariah.  Anda yang merasa lebih ahli dari saya mengenai ilmu syariah, sangat saya harapkan komentarnya atas tulisan saya ini.

Oh iya… problem berikutnya adalah: saham-saham yang tergabung dalam ISSI (Indeks Saham Syariah Indonesia), masih ada yang termasuk golongan yang rawan untuk menjadi target dari backdoor listing ini.  Menurut saya sih.. lama kelamaan… kalau tidak segera diperbaiki… ISSI itu kok rasanya jadi seperti ‘usaha mengenalkan, atau bahkan memaksakan judi kepada umat Islam’.   Sampai cape saya mencoba melobby kemana-mana tapi tetap saja tidak bisa membuat ISSI menjadi lebih Islami.

Pasar modal itu adalah sesuatu yang baik.  Sayang kalau kemudian harus dikotori oleh kepentingan-kepentingan jangka pendek dari orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

Selamat berdagang… semoga barokah!!!

Satrio Utomo

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Visit Website of Our Visitors

%d bloggers like this: