Contoh terjadinya Tadlis di Bursa Efek Indonesia


Selamat pagi…

Kemarin pagi, ketika melihat running trade, saya tertarik oleh transaksi dari saham ELSA yang memenuhi layar running trade saya.

Yang membuat saya lebih tertarik adalah: ketika saya secara tidak sengaja melihat halaman dari sebuah media online yang tengah dibuka oleh rekan di sebelah saya.

Didalam benak saya: waduh… kejadian lagi deh.  Kalau anda sudah pernah membaca mengenai tulisan saya yang sebelumnya mengenai Rumor = Tadlis Modern, Anda pasti sudah paham betul, ini adalah modus operandi dari para pelaku tadlis.  Modus operandi tersebut terdiri dari 6 phase:

  1. Memberikan berita seakan ‘Asing’ meminati saham tersebut
  2. Harga kemudian bergerak naik setelah posisi opening.  Pergerakan naik ini sebagai akibat dari uninformed trader yang kemudian melakukan posisi beli pada saham tersebut.
  3. Harga kemudian bergerak turun akibat tekanan jual yang terjadi.
  4. Pemodal terus dipancing untuk melakukan posisi beli.
  5. Harga terus bergerak turun dan kemudian ditutup dengan posisi terkoreksi.
  6. Pemodal retail (uninformed trader) kemudian pulang dalam posisi nyangkut.  Atau yang lebih jelek, telah melakukan posisi jual dalam posisi rugi.

Wah…  kalau benar seperti itu… asyik juga ini.  Pasalnya, langkah pertama dari modus operandi, sudah dilakukan.  Pada jam 8.02, berita sudah dipublikasikan di media.  Running trade tersebut di atas, adalah tanda bahwa langkah kedua dari modus operandi tengah berlangsung.

Saya kemudian melihat posisi bid/offer dari saham ELSA untuk melihat apa yang terjadi:

Hm… benar juga.  Bid terlihat tebal.  Transaksi berfrekuensi tinggi terjadi pada harga offer.  Pelaku pasar seperti ‘dibuat percaya’ bahwa :

  • Harga cenderung bergerak naik.
  • Pelaku pasar cenderung melakukan posisi beli di harga offer.
  • Harga cenderung kuat karena peminat beli dari saham tersebut, ternyata jauh lebih besar dibandingkan dengan peminat jual.  Ini dapat dilihat dari volume bid jauh lebih besar dari volume offer.

Benar sepertinya… phase kedua sudah berlangsung.

Sekarang, berarti kita menunggu terjadinya phase ketika

Akan tetapi… yang terjadi kemudian ternyata adalah kebalikannya:

Anda bisa dilihat diatas, bahwa pada jam 09.39, hanya sekitar dua menit dari posisi ketiga gambar pertama di ambil, posisi ELSA sudah di 265, di posisi offer.  Posisi yang sebelumnya terlihat kuat, malah diguyur (ada orang yang melakukan posisi jual).  Harga malah bergerak turun.

Akan tetapi, rangsangan bagi uninformed trader untuk melakukan posisi beli, masih terus dilakukan.  Ini bisa dilihat dari posisi ELSA ketika jam 9.51

Pada gambar diatas bisa dilihat, bahwa pada running trade, terlihat ada broker yang dalam posisi beli, sedangkan pada bid/offer, terlihat adanya posisi offer yang sedang dibeli, dimakan, dihabiskan.  Offer semakin menipis, tinggal 1315 lot.  Posisi Bid/Offer tersebut seakan berkata:

Tolong… beli saya… !!! Beritanya bagus niy… asing mau beli… asing aja beli tuh… offer dimakan terus (posisi beli terus dilakukan pada harga offer).

Ayo… Beli saya…. Ayo… AYOOOOOOO!!!!!!

Dan….

Seperti yang sudah-sudah… Yang terjadi adalah sebaliknya.

Jam 10.04… posisi ELSA di bid, harga 260 malah diguyur.  Pemodal ada yang melakukan posisi jual di harga 260.  Lihatlah gambar di bawah: meski posisi di bid (255 dan 250) terlihat masih tebal, tapi pemodal malah melakukan posisi jual di harga 260.  Lebih hebatnya lagi, karena posisi beli terlihat hanya dilakukan oleh satu broker sedangkan posisi jualnya oleh transaksi-transaksi dengan volume yang lebih kecil (meski sebenarnya brokernya ya itu-itu saja), maka masih terbaca seakan-akan: eh… masih ada yang berani beli loh…

Kita kembali dulu… ke modus operandi yang tadi saya sampaikan.

  1. Memberikan berita seakan ‘Asing’ meminati saham tersebut
  2. Harga kemudian bergerak naik setelah posisi opening.  Pergerakan naik ini sebagai akibat dari uninformed trader yang kemudian melakukan posisi beli pada saham tersebut.
  3. Harga kemudian bergerak turun akibat tekanan jual yang terjadi.
  4. Pemodal terus dipancing untuk melakukan posisi beli.
  5. Harga terus bergerak turun dan kemudian ditutup dengan posisi terkoreksi.
  6. Pemodal retail (uninformed trader) kemudian pulang dalam posisi nyangkut.  Atau yang lebih jelek, telah melakukan posisi jual dalam posisi rugi.

Hm… ini berarti, phase ke tiga dan ke empat telah berlangsung dengan sukses.

Itu berarti, saya tinggal melihat, apakah phase ke 5 (harga saham ditutup turun), dan phase 6 (pemodal retail nyangkut atau cut loss), kemudian terjadi.

Posisi penutupan dari saham ELSA adalah sebagai berikut:

ELSA akhirnya ditutup pada harga 250.  Turun Rp 10 atau setara dengan 1,96% dari posisi penutupan sebelumnya.  Phase 5 telah terpenuhi.

Sekarang… apakah Phase 6 sudah terpenuhi? Apakah ‘Pemodal retail (uninformed trader) kemudian pulang dalam posisi nyangkut.  Atau yang lebih jelek, telah melakukan posisi jual dalam posisi rugi’?.

Saya teruskan setelah Jum’atan deh… sudah 11.34 niy…

Sementara gitu dulu…

Happy trading… semoga untung!!!

Satrio Utomo

Comments
4 Responses to “Contoh terjadinya Tadlis di Bursa Efek Indonesia”
  1. romansah says:

    Aduh Pa….ditunggu-tunggu abis jum’atan lanjutannya mana?
    Artikel seperti ini wajib dibaca oleh trader-trader newbie nih…biar nggak terjebak dalam hiruk pikuk pasar modal….terima kasih Pa….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Visit Website of Our Visitors

%d bloggers like this: