Advertisements

Penggorengan Saham: Siapa yang Untung? (Bagian kedua dari dua tulisan)


Selamat pagi…

Pada tulisan saya sebelumnya, anda sudah melihat bagaimana proses penggorengan saham terjadi.  Bagaimana ‘penggoreng’ memanfaatkan rumor yang ‘tidak sengaja keliru’ (karena pada sore harinya, rumor tersebut ternyata dibantah oleh pihak emiten).  Kalau keliru cuman sekali-sekali, mungkin tidak mengapa.  Tapi kalau ‘keliru’ ini kemudian dilakukan secara konsisten (seperti yang pernah saya kemukakan sebelumnya), kok ya kebangetan juga.  Gak tau yang kebangetan siapa.  Apakah penyebar rumornya, media rumornya, ataukah SRO (Bapepam dan BEI) yang membiarkan semua ini terjadi.

Modus penggorengan saham, itu ada 6 langkah:

  1. Memberikan berita seakan ‘Asing’ meminati saham tersebut
  2. Harga kemudian bergerak naik setelah posisi opening.  Pergerakan naik ini sebagai akibat dari uninformed trader yang kemudian melakukan posisi beli pada saham tersebut.
  3. Harga kemudian bergerak turun akibat tekanan jual yang terjadi.
  4. Pemodal terus dipancing untuk melakukan posisi beli.
  5. Harga terus bergerak turun dan kemudian ditutup dengan posisi terkoreksi.
  6. Pemodal retail (uninformed trader) kemudian pulang dalam posisi nyangkut.  Atau yang lebih jelek, telah melakukan posisi jual dalam posisi rugi.
Di sore hari, pemodal retail yang dihadapkan pada berita terbaru dibawah ini:

Klarifikasi ini adalah ‘killing punch‘ yang bisa memicu pemodal untuk cut loss, atau sekedar ‘pasrah dalam ke-nyangkut-an’.

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah: siapa yang diuntungkan dari penggorengan saham ini?

Sebenarnya, sangat tidak mungkin untuk mencari siapa yang rugi atau siapa yang untung kalau kita tidak melakukan audit secara mendalam.  Dengan kata lain, yang bisa melihat siapa yang untung dan siapa yang rugi, hanyalah Bapepam atau BEI.  Disini, saya mencoba mencari jawabannya hanya berdasar pada posisi broker net buy dan net sell pada saham ELSA untuk hari itu.

Asumsi dasar yanga saya gunakan adalah:

  • Untuk posisi beli – simpan:  Siapa yang menjual dan tidak beli lagi ketika harga sedang turun, adalah mereka yang untung.  Vice versa.
  • Untuk posisi trading: mereka yang bisa beli di harga yang lebih rendah setelah melakukan posisi jual di harga yang lebih tinggi, adalah mereka yang untung.  Vice versa.

Dari Top 5 transaksi untuk saham tersebut untuk posisi pembeli terbesar dan posisi penjual terbesar, terdapat  7 sekuritas yang mendominasi transaksi dari saham ELSA.

Saya tidak bisa bilang nama-nama perusahaan sekuritas  itu.  Tapi, sebagai panduan, karakter atau segmentasi dari perusahaan sekuritas tersebut adalah sebagai berikut:

  • Sekuritas A adalah sebuah BUMN yang lebih berfokus kepada klien institusi
  • Sekuritas B adalah sebuah sekuritas lokal yang lebih berfokus pada klien institusi
  • Sekuritas C, Sekuritas D, dan Sekuritas F adalah sebuah sekuritas asing, yang melayani klien retailnya secara online
  • Sekuritas E adalah sekuritas lokal yang berfokus kepada klien retail
  • Sekuritas G adalah sekuritas BUMN yang melayani klien retail dan institusi.

Posisi selengkapnya ketika sore hari adalah sebagai berikut:

Hal yang menarik dari posisi diatas adalah:

  • Terdapat dua sekuritas yang berfokus pada klien institusi yang memiliki posisi net sell yang cukup besar.  Net sell ini dalam artian, mereka melakukan posisi jual yang cukup signifikan dibandingkan dengan posisi beli.  Floating gain dari posisi net sell ini juga terlihat cukup signifikan.
  • Posisi ‘nyangkut’ terbesar, dialami oleh sekuritas lokal yang melayani nasabahnya secara online.
  • Ketiga ‘sekuritas online asing’ terlihat melakukan posisi trading.  Ada yang kalah, ada yang menang.

Itu tadi yang posisi beli simpan.  Kalau posisi one day trading, bisa dilihat disini:

Hal yang saya lihat dari tabel diatas adalah sebagai berikut:

  • Kedua sekuritas dengan klien institusi, terlihat melakukan one day trading yang menguntungkan.  yang cukup ‘manis’ adalah posisi dari Sekuritas A: Posisi belinya di harga terendah, sedangkan posisi jualnya di harga yang paling tinggi. Hm… tidakkah itu menggelitik akal anda?
  • Posisi dari 5 sekuritas (C, D, E, F, G) yang berada dalam posisi trading, hampir seluruhnya berada dalam posisi rugi.  Posisi trading yang untung hanya dialami oleh posisi sekuritas E.

Dari kedua tabel diatas, ada dua kesimpulan yang saya dapat:

  • Institusi untung, retail rugi.
  • Posisi trading cenderung menderita rugi.

So… Siapa yang sebenarnya memperoleh keuntungan? Apakah itu berarti ada institusi yang kemudian memanfaatkan informasi/rumor yang mengalami kekeliruan konsisten? Apakah kemudian memang retail yang selalu dalam posisi rugi?  Retail selalu menjadi korban?  Hanya audit detail dari lembaga yang memiliki kewenangan untuk audit yang bisa membuktikan.  Sayangnya, lembaga-lembaga tersebut, tidak pernah berminat untuk mendalami hal-hal yang seperti ini.

Berharap jumlah pemodal retail terus meningkat… tapi kok pemodal retail dikerjain terus seperti ini.  Semoga saja… kalau nanti sudah di tangan OJK… semua ini bisa berubah.

Happy trading… semoga untung!!!

Satrio Utomo

 

Advertisements
Comments
One Response to “Penggorengan Saham: Siapa yang Untung? (Bagian kedua dari dua tulisan)”
  1. Rusdi says:

    Mas, kalau di hitung dari tgl 20 maret 2012, broker tempat mas Satrio bekerja yang paling banyak jual deh dari transaksi ELSA ini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Visit Website of Our Visitors

%d bloggers like this: