Advertisements

Pertanyaan paling sulit… Bisakah anda membantu saya untuk menjawab?*


Selamat pagi…

(maaf… kejadian dalam tulisan ini… hanya rekaan saya … kalau ternyata benar-benar terjadi atau mirip dengan kejadian yang ada dalam dunia nyata, berarti itu hanya kebetulan semata…)

Dalam kondisi market seperti ini, biasanya pemodal yang nyangkut, kemudian berkonsultasi dengan analis.  Gak tau deh dulu proses belinya seperti apa, trading ideas generation (pemunculan ide trading)-nya seperti apa, yang nyuruh beli juga siapa.  Tapi… kalau sudah nyangkut, biasanya seorang pemodal merasa perlu untuk mencari ‘second opinion’.  Bukan untuk pamer posisi nyangkut sih.  Bukan juga untuk ngetest kemampuan si analis.  Yang jelas, mereka ada suatu hal yang mereka tidak punya jawabannya, dan kemudian mencari jawaban kepada orang yang (menurut mereka) lebih tahu.  Mereka tidak punya jawaban, kemudian mereka mencari si analis.  Mereka mencari saya.

Orang-orang ini, kemudian bertanya kepada saya.  Saya sih selama ini… alhamdulillahnya, masih memiliki rasa ‘kewajiban untuk menjawab’.  Gak tau kenapa deh… mungkin karena saya merasa bahwa ini kewajiban saya, pekerjaan saya, tugas saya, atau karena saya memang masih baik hati dan  memiliki kesabaran juga untuk mengarungi semua itu, untuk melakukan pelayanan kepada pasar modal Indonesia yang  kita cintai ini.  Meski tetap saja didalam hati saya, ada sedikit umpatan (sorry men… orang bilang.. kalau gak mengumpat… itu bukan Arek Surabaya… hehehe… bawaan Arek.. gitu katanya):

Jancuk… sing kongkon tuku biyen sopo? Giliran stress, kok aku sing dikongkon tanggung jawab ngene… Ancene makne ancuk sing kongkonan tuku biyen!!!

(Terjemahan singkat: Siapa yang suruh beli, ketika stress, kok saya yang disuruh tanggung jawab).

Nah.. diantarara banyak pertanyaan yang datang kepada saya, pertanyaan berikut ini adalah yang menurut saya, tergolong pertanyaan yang paling sulit untuk diberi jawabannya.  Pertanyaannya adalah sebagai berikut:

Pak… PNLF itu, dengan asumsi EPS 40 perak, berati ketika PNLF di harga penutupan kemarin di 118, berarti P/E PNLF itu sudah dibawah 3 kali.  Murah banget kan?  Saya punya posisi di PNLF nih pak… Posisi saya, saya cut loss apa gimana ya?

Hm… ada yang aneh ini.  Ada orang beli saham karena alasan P/E (price to earning ratio)-nya rendah/murah, tapi kok sekarang, P/E-nya jauh lebih rendah lagi.. ternyata dia mau jualan untuk cut loss.  Pasti ada masalahnya.  Masalahnya ternyata klasik:

Saya beli di harga 144 pada bulan Maret kemarin.  Artinya, saya beli PNLF ketika berada pada valuasi P/E 3.6 kali.  Pada saat yang sama, P/E IHSG masih sekitar 13.5  kali. Murah kan? Si anu suruh saya beli. Pak Tommy juga bilang kalau PNLF mau naik (mati aku… ternyata bisa jadi yang rekomen saya sendiri…hehehe).  Karena saya merasa ini adalah kesempatan investasi yang baik, dan potensi kenaikannya juga sangat besar, maka saya menambah kekuatan saya dengan melakukan transaksi margin, pinjam dari perusahaan broker dimana saya bertransaksi.  Dana yang saya miliki adalah sebesar Rp 1 miliar. Posisi beli yang saya lakukan adalah BELI PNLF di harga Rp 144, sebanyak 35.000(tiga puluh lima ribu) lot, senilai total Rp 1,520 miliar.  Ketika itu, saya pikir semuanya aman.  Rasio margin hanya 60%.  Setelah itu, harga sempat lari sampai diatas 155.  Sampai 3 kali pak!!!  Bisa dihitung dong.. profit saya berapa.  Karena saya merasa bahwa P/E saham itu masih murah, meski ketika harga di 155, saya tahan posisi.  Ketika itu… P/E dari saham ini masih kurang dari 4 kali.  Masih murah banget kan?

Pemodal tersebut kemudian melanjutkan:

Masalahnya adalah apa yang saya hadapi sekarang ini: Harga PNLF tinggal 118. Rasio saya 74%.  Perusahaan sekuritas sudah menelpon beberapa kali niy.. Sudah mulai mengancam.. kalau rasio sampai diatas 80%, mereka akan melakukan forced sell.  Maklum, perjanjian awalnya kan rasio 65%  saya harus top up (menambah setoran modal).   Sekarang diharga 118 rasio margin saya sdh 74%. saya memang termasuk klien utama mereka sih, jadi mereka memberikan keleluasaan kepada saya, tapi mereka sudah menyampaikan bahwa anda harus setor.  Pihak sekuritas bilang begini: “kami pokoknya tidak mau tahu, begitu rasio diatas 80% kami akan forced sell!”.

Pertanyaan akhirnya (selalu) begini:

Sekarang saya harus ngapain Pak?  Pada prinsipnya saya sdh tidak punya uang lagi untuk melakukan top up.  Masa saya harus jual mobil saya?

Kalau market sudah dalam kondisi seperti sekarang ini, dimana IHSG sudah lebih dari 10% dibawah titik tertingginya, pertanyaan-pertanyaan seperti ini adalah pertanyaan yang umum.. lazim… sering.

Bagaimana coba jawaban anda atas problem seperti tadi?  Apakah pemodal tersebut harus cut loss?  Saham dengan P/E sudah dibawah 3… kok mau dijual? Apakah itu masuk akal?  Tapi, kalau tidak dijual, bukankah pemodal tersebut memiliki resiko untuk kehilangan investasinya?

Tidak pernah mudah bagi saya untuk menjawab pertanyaan tersebut.  Heran juga saya.  Padahal saya sudah 10 tahun lebih di pasar modal.  Siklus bullish bearish, pasti sudah sering saya lalui.  Tapi tetap saja, pertanyaan seperti itu, selalu menguras emosi saya.

Bagaimana jawaban anda?

Kalau anda tanya bagaimana jawaban saya… hehehe… seperti biasa… saya akan kasih kuliah dulu untuk anda… hehehe.  Kalau anda sudah lama mengikuti ulasan saya, anda mungkin sudah sering melihat bahwa saya bilang begini:

Trading itu berbeda dengan investasi.

Investasi dengan menggunakan margin, itu bukan investasi!  Itu posisi trading!

Tidak bisa membedakan antara posisi trading dengan posisi investasi adalah pembunuh terbesar dari pemodal di Indonesia!

Kalau beli saham, lihat arah harga sahamnya! Jangan beli hanya karena saham itu murah!

Fundamental itu hanya ‘iming-iming’ (baca Stick & Carrot yang saya tulis kemarin) bagi orang untuk beli dan menahan posisi.

Kalau anda percaya pada omongan orang yang ngakunya analis fundamental (padahal ekonom) yang bilang kalau fundental doang sudah cukup bagi anda untuk melakukan pertimbangan beli, berarti anda sama saja dongoknya dengan dia!!! (hehehe…. maaf.. kalau yang ini baru ya.. eh.. kemarin juga sudah kalau nggak salah saya juga sudah bilang).

Tapi intinya:

kalau beli saham, prediksilah arah pergerakan harga jangka pendek, dan sesuaikan posisi anda dengan arah pergerakan jangka pendek dari saham tersebut

Kembali ke PNLF.  Berarti, kalau mencari solusi atas pertanyaan diatas mengenai PNLF, kita tinggal melihat arah pergerakan harga, berserta semua kemungkinan-kemungkinannya.

Pertama-tama, marilah kita melihat grafik dibawah ini:

Gambar diatas itu, bacanya begini:

Pada periode Desember 2011 – Mei 2012, harga saham PNLF bergerak diantara kisaran 128 hingga 159.  Dengan lebar kisaran sebesar 31 poin (Rp 31), berarti penembusan atas suport di 128, memiliki target atau arah pergerakan marga maksimal menuju level Rp 97.  Meskipun demikian secara grafik diatas, ditunjukkan bahwa potensi koreksi yang optimal, hanya menuju kisaran 103 – 105.

Dari grafik seperti diatas, rekomendasi saya untuk PNLF adalah sebagai berikut:

Jika harga PNLF turun hingga dibawah/lebih rendah dari 105, silakan anda melakukan posisi beli!

Pemodal biasanya menjawab:

loh.. Bapak kok tidak menjawab pertanyaan saya.. ini posisi saya yang modalnya di harga 144,yang sekarang harganya sudah tinggal 118.. ini mau diapain?  Sekaran rasio saya sudah 74%, kalau harga ternyata turun beneran dulu ke bawah 105 dulu, berarti rasio saya sudah diatas 80%.  Berarti.. kalau posisi saya saya diemin… berarti saya kena forced sell dwong?

Secara klise, jawaban standar saya adalah sebagai berikut:

Bapak/Ibu… Setiap orang, masuk ke pasar modal, itu harus mengukur resikonya sendiri-sendiri.  Saya tidak pernah tahu preferensi resiko anda.  Ketika anda beli di 144 dan harga naik diatas 155, dan anda tidak jualan, kan saya tidak bisa menebak, sebenarnya yang anda mau itu seperti apa.  Ketika suport 128 ditembus, dan anda tidak jualan, kan saya juga gak tau apa alasan anda tidak melakukan hal itu.  Tapi, kalau dari apa yang saya lihat, dua kesalahan terbesar yang anda lakukan adalah: anda tidak melakukan prediksi atas pergerakan harga untuk jangka pendek, dan anda tidak tahu bedanya antara trading dengan investasi!

Jadi sekarang, saya persilahkan anda untuk menghitung sendiri resiko anda.  Yang jelas sih, rasa-rasanya, memang tidak rasional untuk melakukan posisi jual atas saham dengan P/E dibawah 3.  Tapi, apakah anda kemudian harus mempertaruhkan segalanya untuk mempertahankan posisi itu?  Hanya anda yang tahu atas jawaban atas pertanyaan tersebut.  Karena itu adalah hidup anda!

Kemampuan berpikir adalah salah satu karunia terbesar dari Alloh SWT untuk Manusia.  Apapun yang anda akan lakukan, pesan akhir yang saya bisa sampaikan adalah sebagai berikut:

Jadikanlah itu sebagai pelajaran, agar kedepan, trading anda bisa lebih baik!

Itu jawaban terbaik dari saya.  Bagaimana jawaban dari anda? Haruskah pemodal ini melakukan cut loss atas posisi PNLF? Atau mempertaruhkan semuanya untuk posisi PNLF ini? Atau apa?

Happy trading… semoga untung!!!

Satrio Utomo

*bacalah halaman disclaimer sebelum anda melakukan posisi beli atau posisi jual berdasarkan ulasan ini.  Terima kasih.

 

Advertisements
Comments
7 Responses to “Pertanyaan paling sulit… Bisakah anda membantu saya untuk menjawab?*”
  1. Johan says:

    Kalo mau invest, jgn pernah pake margin. Kalo mau trading, jgn pernah ragu cutloss.

    • Ferdy says:

      Setuju…..
      IMHO: Cutloss sebagian saham yang anda beli dengan margin…sisanya tahan saja 🙂

      • chandra says:

        cut loss itu butuh nyali seperti seorang ksatria yang mau melawan naga demi menyelamatkan seorang putri cantik… karena nyali ini lah yang tidak dipunyai banyak orang termasuk saya :(( :((

    • Herman says:

      Menurut saya cutloss sebagian. kira kira senilai margin yang dipakai. jadi ada dua skenario. jika harga turun terus mendekati target bisa beli kembali dengan menggunakan margin. atau seandainya harga ke atas, investor / trader masih mendapatkan keuntungan.

  2. ita says:

    Baca tulisan diatas sama deg2 an nya ama waktu baca Harry Potter chapter terakhir. Harry dan si pemodal beruntung, punya ‘seseorang’ yg honest, smart, dan bijaksana. Moga2 si pemodal itu bernasib sama dgn Harry, happy ending 🙂

  3. wira says:

    saya jadi penonton aja dulu deh.. masih mual nih ngeliat roller coaster di market 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Visit Website of Our Visitors

%d bloggers like this: