Advertisements

Susahnya menjadi Kapten Kapal… Susah juga menjadi Analis..*


Selamat pagi…

Beberapa waktu yang lalu, berita tentang Costa Concordia pasti sudah sempat ‘mencuri’ perhatian anda.  Costa Concordia ini adalah nama dari sebuah kapal pesiar yang kandas di pulau Giglio, di perairan Italia.  Salah satu yang menarik adalah cerita dari Kapten Kapal yang kemudian dituduh sebagai penanggungjawab dari kematian 13 orang yang menjadi korban.  Kapten kapal ini menjadi pesakitan karena dia keluar dari kapal, sebelum penumpang terakhir keluar dari kapal.  Dia bahkah menolak untuk kembali ke kapal tersebut, ketika Kapten Pengawal Pantai memerintahkannya. Kapten kapal ini saat ini tengah menjalani proses persidangan atas semua tuduhan yang dihadapinya.

Analis, bukanlah seorang Kapten Kapal.  Kalau ibarat awak kapal, seorang analis itu hanyalah seorang navigator.  Akan tetapi, ditengah orang-orang yang berada disekitarnya (broker/dealer, sales, marketing, fund manager, direksi, nasabah), ‘peran’ (role) dari seorang analis, itu kurang lebih sama.  Dia harus menjadi leader, menjadi sumber inspirasi, menjadi petunjuk jalan, memberitahukan apa yang harus dilakukan.

  • Seorang Kapten Kapal harus mampu ‘melihat lebih jauh kedepan’.  Melihat bagaimana kondisi cuaca didepan.  Apakah kapal masih bisa melewati jalan tersebut, atau kapal harus mencari rute yang lain.  Kalau ada badai didepan, Kapten Kapal harus memutuskan untuk terus, atau menghindar.
  • Kalau kapal masuk ke perairan dangkal, seorang Kapten Kapal harus tahu resiko yang dihadapi.  Mana daerah-daerah yang dangkal dan berpotensi membuat kapal kandas.
  • Ketika kapal kandas, seorang Kapten Kapal harus mampu ‘menampingi’ orang-orang yang berada di sekitarnya, ketika saat-saat kritis. Setiap jam, menit, ataupun (kalau mungkin) detik akan menjadi sangat berharga.
  • Ketika kapal kandas, ketika ‘kondisi berkembang tidak seperti yang diharapkan’, seorang Kapten Kapal tidak boleh menjadi pengecut yang memilih keselamatan diri sendiri, meninggalkan tanggung jawabnya, demi keselamatan diri sendiri, popularitas, atau demi apapun.  Seorang Kapten Kapal harus menjadi seorang mampu ‘melindungi’, menjadi orang yang terakhir keluar.  Atau, setidaknya, Kapten Kapal harus ‘make sure’ (meyakinkan diri) bahwa semua orang sudah keluar kapal, baru setelah itu dia bisa meninggalkan kapal.  Jika tidak… hehehe… kabarnya, Kapten Kapal dari Costa Concordia terancam hukuman 15 tahun karena meninggalkan kapal sebelum ia melakukan langkah-langkah penyelamatan yang diangap perlu.

Menjadi analis atau mungkin juga ‘kompor’ di pasar modal, itu kurang lebih sama.

Jadi analis itu, jangan hanya berani bilang beli ini, beli itu, tapi ketika market bearish, menghilang.  Yang lebih ancur lagi, ketika tren harga mulai patah, malah semakin giat memberikan rekomendasi beli, agar teman-teman bandarnya bisa jualan, sedangkan pengikutnya pada nyangkut semua.

Market mau naik, market mau turun, semua cuman disitu.  BEI juga disitu.  Indonesia juga tidak bisa pindah.  Dalam kondisi seperti apapun, kita harus selalu bersama-sama orang yang kita dampingi.

Analis (kompor pasar modal) itu, jangan malah menjadi pendorong bagi mereka yang sedang ditepi jurang.  IHSG sudah jatuh dari atas 4000, harga sudah sampai 3700-3750.. malah sudah tembus.  Orang sudah stress.. mau bilang IHSG 3600? 3550?  Lantas ngapain? IHSG  masih bisa turun 50-100 poin, terus mau suruh jualan? Nggak lihat apa kalau IHSG sudah turun hampir 10 persen?

Menjadi analis (atau kompor) di pasar modal, kita harus bisa melihat kedepan dengan lebih jauh.  Melihat apa yang berada dibalik horizon.

Jangan hanya terus ‘fokus’ pada ‘saat’ ini.  Tidak pula fokus pada ‘kemarin’.  Jangan pula fokus pada sesuatu yang terlalu jauh, yang jelas tidak terlihat (valuasi 10 tahun lagi.. jangan dilihatin.. ngapain juga gitu loh?).  Realistis lah… Rasional

Pagi ini… IHSG sudah melewati resisten 3781.  Masalah masih ada pada HSI yang belum juga melewati resisten.  Tapi.. kalau ternyata resisten ditembus:

Sadarlah bahwa volatilitas pasar, volatilitas harga, memang sangat tinggi.  Kita hanya bisa mengandalkan diri kita sendiri.

Orang yang cuman bisa rekomendasi ketika pasar sedang bagus, itu hanya seperti sekawanan hyena yang terus terdengar tertawa-tawa, ketika kita sudah menjadi bangkai.

Happy trading… semoga untung!!!

Satrio Utomo

Advertisements
Comments
3 Responses to “Susahnya menjadi Kapten Kapal… Susah juga menjadi Analis..*”
  1. Adri says:

    kayaknya jarang ada analis seperti Anda, Mas Tommy. Mau membuka “tabir” dan berkata apa adanya. Nyeleneh ? biarih aja Mas, kita kan hidup ngga cuman di dunia, ada yg kekal nantinya.
    Selama ini saya kalo baca tulisannya para analis, cuman ditelen 50 %. Cuman tulisan Anda yg mau saya telen lebih dari 70%. Salam kenal 🙂

  2. chandra says:

    saya seneng sama pengandaian yang terakhir… may God bless you pak satrio… salah satu analis yang berani tanggung jawab sama omongannya…

Trackbacks
Check out what others are saying...
  1. […] analis itu.. memang susah.  Analis itu harus mampu menjadi nahkoda dari sebuah kapal yang besar. Analis itu harus mampu mempersiapkan penumpangnya untuk menghadapi kondisi kedepan.  Itu yang […]



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Visit Website of Our Visitors

%d bloggers like this: