Advertisements

Ketika Harga Saham adalah sebuah Fungsi Komunikasi


Yang terhormat, para pemegang saham pengendali, Direksi /Pengelola, dan Investor Relation dari Perusahaan Terbuka…

Selamat pagi…

Kembali ke artikel awal: Trading untuk Pemula

Kondisi pemodal saat ini, sebenarnya sudah jauh lebih baik dibandingkan dengan kondisi ketika saya mulai belajar saham di awal tahun 2000-an.  Dulu, cari buku mengenai investasi atau saham, sangatlah sulit.  Tapi semenjak booming buku investasi/pasar modal yang terjadi mulai tahun 2005 – 2008 yang lalu, telah menjadikan banyak orang menjadi lebih melek investasi.  Salah satu hasil yang paling dirasakan adalah: maraknya orang-orang yang kemudian masuk ke pasar modal, dengan dibekali pengetahuan investasi serta trading yang sudah cukup mumpuni, meski itu hanyalah pengetahuan text book.

Salah satu pengetahuan yang dinilai cukup ‘standar’, adalah pandangan bahwa seseorang pemodal harus membeli saham berdasarkan nilai (value) dari saham tersebut.  Pandangan ini berasal dari teori yang dinamakan  sebagai Deviden Discount Model.    Deviden Discount Model adalah sebuah teori dimana nilai dari sebuah saham, tidak lain adalah nilai saat ini dari semua deviden yang akan dibayarkan oleh perusahaan tersebut untuk masa yang akan datang.  Persamaan yang digunakan untuk menghitung nilai dari sebuah emiten ini, disebut sebagai Gordon Growth Model yang rumusnya adalah seperti dibawah ini:

Dimana:

D = Pengharapan atas Dividen yang akan diterima pada masa yang akan datang

k = Tingkat return yang diinginkan oleh seorang investor

G = Tingkat pertumbuhan deviden

Dari ketiga variabel tersebut, hanya variabel k (tingkat return yang diinginkan oleh investor) yang benar-benar tidak bisa dikontrol oleh emiten.  Faktor Deviden dan tingkat pertumbuhan deviden, adalah dua buah variabel yang sepenuhnya berada dalam kontrol emiten.  Deviden didapat apabila emiten memiliki laba bersih persaham yang positif.  Laba bersih per saham yang positif bisa saja didapat dari dua hal: laba operasional yang positif, atau pendapatan lain-lain yang positif juga.  Pemodal publik jelas lebih menyukai laba operasional yang positif karena ini berarti ada aliran dana riil yang masuk ke perseoran.  Laba operasional yang positif dan meningkat, bisa berasal dari penjualan yang meningkat, biaya yang berkurang karena emiten lebih efisien, atau bisa juga keduanya.

Benarkah harga saham adalah fungsi dari deviden? Belum tentu juga sih.  Terima kasih kepada Microsoft yang keukeuh untuk tidak bagi dividen dalam waktu yang sangat lama (semenjak IPO pada tahun 1984 hingga 2003) meskipun perusahaan tersebut telah memperoleh laba bersih yang positif (mengalami keuntungan) untuk waktu yang sangat lama.  Ini membuat pemodal juga memiliki kepercayaan bahwa  pembagian deviden sebenarnya tidak relevan terhadap harga saham, selama mereka percaya bahwa emiten mampu mereinvestasikan laba bersih tersebut, menjadi keuntungan yang lebih besar lagi untuk di masa yang akan datang.  Harga saham akan didorong oleh kemampuan dari emiten untuk memperoleh laba.

Jadi, persamaannya ada dua.  Yang pertama, harga saham adalah sebuah fungsi dari laba.  Dan, persamaan kedua:   Laba Bersih <– Laba Operasional   <–(Penjualan – Biaya Operasional).

Didalam benak investor:  Tugas dari manajemen perusahaan adalah maksimisasi nilai pemegang saham, melalui penciptaan laba, dimana laba tersebut (sebaiknya) berasal dari operasional perusahaan

Hanya laba? Tentu saja tidak.  Pemegang saham sudah barang tentu juga ingin mendapatkan keuntungan dari capital gain, dari kenaikan harga yang terjadi setelah pemodal membeli saham dari emiten tersebut.  Dari mana capital gain ini berasal? Bagaimana pergerakan harga saham ini terjadi?  Tentu saja dari kemampuan dari emiten tersebut, untuk mengkomunikasikan pencapaiannya kepada pemegang saham publik.

Hare gene, kalau emiten keluar untuk mengkomunikasikan pencapaiannya kepada publik dan ketemunya hanya wartawan bodrek… well… itu berarti anda adalah emiten yang sangat sial atau anda memang kurang bergaul, atau malah salah pergaulan.  Hare gene.. yang namanya media cetak, sudah sangat banyak.  Media online lagi.. sudah lebih banyak lagi.  Benar-benar bejibun (banyak sekalee).  Mereka pasti akan berlomba-lomba untuk mendapatkan berita baru, terkini, dan pertama.  Jadi sebenarnya penyebarluasan informasi, itu bukan hal yang sulit lagi.

Setelah laba dicetak, manajemen perusahaan harus mampu mengkomunikasikannya kepada publik agar harga saham dari perusahaan tersebut, bisa tervaluasi dengan benar atau optimal, agar pemegang saham juga bisa memperoleh capital gain seperti yang diharapkan.

Bentuk komunikasi ini bisa bermacam-macam.  Kalau yang ‘tingkat dasar’, mungkin anda hanya sekedar membuat laporan keuangan untuk setiap kuartal.  Tapi kalau cuman tiga bulan sekali, rasa-rasanya kok ya tidak lucu.  Harga saham yang bisa berubah setiap hari.  BEI juga kepingin agar transaksi bisa berlangsung secara aktif setiap hari.  Lantas apa yang bisa dilakukan oleh emiten? Apakah harus menghubungi ‘bandar’ atau menyewa market maker?  Tentu saja tidak.  Banyak hal yang bisa dilakukan.  Seperti misalnya:

  • Emiten bisa mengundang analis agar analis tersebut bersedia untuk melakukan liputan mengenai kondisi fundamental perseroan
  • Melakukan publikasi-publikasi secara rutin melalui berbagai media tentang kegiatan yang dilakukan oleh perseoran
  • Melakukan publikasi kondisi keuangan yang lebih sering, seperti misalnya release data penjualan bulanan,
  • Melakukan publikasi advertorial berupa kondisi industry, dan masih banyak lagi.

Awalnya, mungkin emiten memang harus lebih proaktif.  Tapi kalau sudah rutin, biasanya tinggal ditaruh di website perseoran.  Maka orang sudah berebutan untuk mencarinya.

Emiten harus mampu mengkomunikasikan kondisi fundamentalnya secara benar, agar harga saham bisa mencerminkan valuasi dengan benar.

Apa untungnya buat emiten?

Beberapa waktu yang lalu, saya sempat mendengar keluhan dari teman yang dekat dengan emiten: Listing itu tidak menyenangkan.  Setelah listing, tiap tahun kita harus bayar deviden kepada orang yang tidak kita kenal.  Masih harus keluar duit untuk public expose, iklan laporan keuangan di surat kabar, dan masih banyak tetek-bengek yang laen.  Udah gitu, saham yang kita miliki juga tidak bisa diapa-apakan.  Apa enaknya listing?

Waduh… salah banget ini.  Kalau emiten anda adalah emiten yang perdagangannya tidak aktif padahal emiten anda adalah emiten yang pintar mencetak laba, pendapat ini tentu saja salah besar.

Saham itu adalah selembar kertas.  Sebuah kertas yang diberi tanda, sehingga memiliki nilai.  Kertas tersebut, kemudian ditukarkan dengan uang yang dimiliki oleh pemodal.  Sebagai emiten, anda bisa mencetak kertas untuk kemudian ditukarkan dengan uang.  Apa yang lebih enak daripada itu?  Mencetak kertas untuk kemudian ditukarkan dengan uang, adalah kenikmatan utama yang didapatkan oleh sebuah perusahaan, ketika dia sudah tercatat di lantai bursa.  Selama harga di pasar masih memiliki posisi bid, berarti masih ada orang yang mau membeli saham yang dicetak oleh emiten.  Entah itu melalui right issue, preemptive right issue, private placement, dan sebagainya.  Intinya: mencetak kertas, untuk ditukar dengan uang.  Dengan iming-iming prospek perseroan.

Apakah memang semudah itu? Tentu saja tidak.  Pemilik dari perseroan sering kali akan merasa sangat keberatan untuk kehilangan kontrol akan perusahaan, kehilangan kepemilikan mayoritas, jika perusahaan tersebut terus menerus mencetak saham.  Selain itu, perusahaan yang terlalu sering mencetak saham untuk ditukarkan dengan uang, seringkali malah dihindari oleh pemodal karena dianggap sebagai pencetak uang palsu.  Mereka mencetak saham dari perusahaan yang prospeknya kurang baik, sehingga ‘berasa’ seperti menggelontorkan uang palsu (secara legal) ke pasar modal.

Penutup

Bagi emiten, harga saham, selain merupakan fungsi kinerja dari perseroan, adalah juga merupakan fungsi komunikasi yang anda lakukan, dengan publik pasar modal.  Komunikasi ini harus dilakukan dengan benar, agar nilai dari perusahaan anda, benar-benar tercermin secara benar.   Saham yang tidak tervaluasi dengan benar, belum tentu disebabkan oleh kinerja dari perusahaan anda yang tidak optimal, tapi bisa juga karena anda gagal mengkomunikasikan perkembangan fundamental perusahaan anda secara benar.

Happy trading… semoga untung!!!

Satrio Utomo

Kembali ke artikel awal: Trading untuk Pemula

Advertisements
Comments
8 Responses to “Ketika Harga Saham adalah sebuah Fungsi Komunikasi”
  1. Afif says:

    Betul Pak Satrio. Terutama saham-saham kabel. Kinerjanya bagus2, tapi harga sahamnya ya segitu2 aja… Kenapa ya pak bisa begitu?

    • Satrio Utomo says:

      Bung Afif…

      Memang karena kurang komunikasi pak… faktor market cap juga. Gak ada yang promosi.. mana ada yang mau beli? Dan kalau gak ada yang mau beli, harga saham alamat susah untuk naik.

      Wassalam,
      Satrio

  2. Gilbert Subay says:

    Pak Satrio, jika kita membeli saham di perusahaan “A” lalu saham tersebut harganya terus menurun, apa yang akan terjadi pak?

  3. Bambang says:

    Saham yang seperti apa yang bagusnya dibeli pak? terutama bagi pemula di bisnis ini.

Trackbacks
Check out what others are saying...
  1. […] #23: Harga Saham: Sebuah Fungsi Komunikasi […]



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Visit Website of Our Visitors

%d bloggers like this: