Advertisements

Ketika Mengendalikan Supertanker Berbeda dengan Menyetir Becak*


Selamat pagi…

Kembali ke artikel awal: Trading untuk Pemula

Kalau Anda adalah orang yang sempat membaca beberapa ‘peringatan’ yang ada pada tulisan Wake Up Call Saya tiga minggu yang lalu, tanggal 27 Mei 2013, mungkin Anda orang yang beruntung.  Terlebih lagi jika Anda sempat membaca tulisan Market Outlook untuk Bulan Juni yang saya sebar luaskan pada sekitar tanggal 3 Juni 2013 kemarin lewat account twitter Saya: @rencanatrading, bisa jadi anda sudah melihat bahwa koreksi hingga kisaran 4721 – 4904 adalah sebuah koreksi yang wajar. Ketika market bergerak naik terlalu tinggi, atau turun terlalu dalam, kita harus selalu ingat:

Market memiliki kebiasaan untuk ‘ngerjain’ orang-orang yang lupa diri.

IHSG kemudian terkoreksi.  Agak kebablasan memang.  Suport di  4721 – 4904 tidak mampu menghentikan koreksi.  IHSG sempat mencapai titi terendah di 4510 sebelum rebound, kembali diatas support 4721 pada hari Jumat kemarin.

Sebagian besar orang panik.  Haru biru karena portfolio minus, merah membara mengikuti koreksi harga.   Alhamdulillah, Saya tidak termasuk yang panik.  Pasar naik atau turun, itu adalah hal yang biasa.  Terutama karena sejak awal bulan saya sudah mengantisipasi adanya koreksi.

Satu hal yang membuat saya ‘gak percaya sampai geleng-geleng kepala dan bahkan menepok jidat’ adalah: ketika pada pertengahan minggu kemarin, ketika IHSG sudah dibawah 4700, adanya orang-orang (baca: analis) yang kemudian membuat prediksi bahwa IHSG masih bisa turun 10 persen, 15 persen, atau bahkan lebih lagi, jika dibandingkan dengan posisi IHSG di hari-hari itu.  Benar-benar GILA!!!  Coba anda bayangkan deh: ketika IHSG sudah turun 10% dari titik tertingginya, ketika harga saham sudah turun 12 persen – 15 persen dari titik tertingginya, ada orang yang biang: “Hey… ini IHSG masih mau turun lagi 15 persen!!! Anda sebaiknya jual!”.  Pernyataan ini berasa seperti mendorong orang putus asa yang sedang berada di bibir jurang ke dalam jurang yang lebih dalam!

Saya jadi teringat pada hari-hari pertama ketika saya memutuskan untuk melakukan ‘come back’ ke pasar modal.  Ketika itu, awal tahun 2005.  Setelah kecelakaan mobil yang menimpa saya pada tahun 2004, yang membuat saya kehabisan uang untuk meneruskan kuliah S2 saya di UGM, PT. Trimegah akhirnya menerima saya sebagai analis teknikal.  Nasehat pertama yang saya terima dari Bapak Fajar Hidayat (ketika itu menjabat sebagai Head of Research) dan Bapak Rosinu (ketika itu menjabat sebagai Direktur) kurang lebih adalah sebagai berikut:

Tom… Kamu bukan lagi analis jalanan.  Kamu bukan lagi analis dari sebuah sekuritas kecil.  Kamu sekarang bekerja di sebuah perusahaan besar.  Omongan Kamu bakal didengar oleh semua orang.  Jangan bikin orang panik, jangan bikin perusahaan malu. 

Setelah itu, masa ospek saya tidak berlangsung lama.  Setelah berinteraksi dengan teman-teman: Kepala Cabang, Account Officer dan beberapa nasabah (ceritanya menjajaki keingingan dari pasar niy..), saya mengambil falsafah rekomendasi (yang sampai sekarang masih saya anut), seperti ini:

  • Rekomendasi itu harus dilakukan pada saham-saham yang aman.  Saham-saham yang fundamentalnya bagus.  Biar kalau yang ngikut nyangkut, mereka nantinya bisa lepas sendiri nyangkutnya ketika market naik (hehehe).
  • Jangan sampai keliru dalam memprediksi trend jangka menengah, karena itu akan menentukan reaksi beli atau jual dari para nasabah.  Nasabah kecil, mungkin tidak masalah karena posisi mereka bisa masuk-keluar, beli –jual dengan cepat.  Tapi, kalau nasabah besar, posisi beli atau posisi jual yang mereka lakukan, kadang perlu waktu beberapa harga atau beberapa hari untuk melakukan eksekusi.
  • Saham-saham tersebut juga harus memiliki likuditas yang cukup.  Ketika anda memiliki pengikut yang bejibun,banyak sekali, anda harus yakin bahwa likuditas dari saham itu cukup untuk menampung apabila seluruh rombongan anda masuk ke saham itu, dan kemudian bisa keluar lagi.  Ketika itu, saya ibarat mengendarai sebuah truk container.  Besar, berat, manuvernya juga sulit, jalan yang dilalui juga hanya jalan-jalan tertentu saja.  Tidak seperti mengendarai sebuah motor yang bisa lincah, sliat-sliut dimana-mana, masuk ke semua gang.
  • Cara prediksi, untuk saham besar, saham kecil, saham likuid, atau saham tidak likuid, sebenarnya sama.  Untuk ngomong prediksi pada publik, fokus hanya pada saham-saham yang kapitalisasi besar yang likuid.  Untuk saham-saham yang kecil, jawablah hanya jika ada orang yang bertanya.

Sekarang, Saya memang bekerja pada sebuah sekuritas yang lebih kecil.  Tapi, karena saya ‘eksis’ di berbagai media, entah itu melalui blog Rencana Trading atau blog di Kontan Online, Facebook, Twitter, media online, Koran, radio, bahkan televisi, tetap saja: Saya saat ini serasa sedang mengendarai sebuah Supertanker.  Manuvernya tidak bisa cepat dan lincah.  Rekomendasi tidak bisa lantas ‘sehari bilang beli, besoknya bilang jual’.  Tidak bisa juga hari ini rekomen, besok kemudian menghilang ketika rekomendasi saya salah arah.  Untuk belok saja, untuk menghadapi perubahan arah trend jangka menengah, saya harus bisa mengantisipasi beberapa hari sebelumnya.  Maklum,  dengan masa pengikut yang sudah semakin mendekati angka 10.000 orang, saya tetap  harus mampu memberikan gambaran yang obyektif terhadap kondisi pasar, memperlihatkan peluang, tapi tetap menjaga agar mereka tetap bertransaksi dengan rasional.

So…  Saya masih gak habis pikir dengan kelakuan analis jaman sekarang.  Sudah rekomendasinya telat, ngomongnya keras, bikin panik orang.  Iya kalau rekomendasinya betul… kalau ternyata IHSG nanti ke 5000 dulu sebelum ke 4000… apa nggak berabe? Terutama dengan stakeholder terpentingnya, yaitu Menteri BUMN sudah menginstruksikan BUMN dan Dana Pensiun untuk melakukan pembelian saham.  Apa nggak ‘menantang maut’ tuh?

Ini adalah beberapa point yang perlu diingat:

  • Saya masih tetap bullish.
  • Meski saya melihat bahwa kondisi saat ini memang jelek karena Pemerintah terlalu galau dalam menghadapi masalah BBM Subsidi, omongan pejabat yang tidak kondusif sebagai akibat dari kurangnya kualitas dari orang-orang yang ada di belakangnya, serta The Fed yang akan mengurangi besaran QE.  Tapi, saya tetap percaya bahwa seburuk-buruknya keadaan, kondisi fundamental emiten dan fundamental ekonomi, masih terlalu baik untuk menjustifikasi sebuah koreksi sebesar 15% atau bahkan 20%. 
  • Kalau dari hitungan teknikal saya sih (Anda bisa membaca posting saya pada hari minggu kemarin, mengenai arah pergerakan IHSG hingga akhir tahun), saya tetap berpegang pada prediksi bahwa IHSG tahun ini masih memiliki peluang untuk kembali mencetak rekor baru diatas level 5251 yang diukir bulan lalu.
  • Level tertingi IHSG hingga akhir tahun, sangat tegantung dari level terendah yang akan dicapai dalam trend turun kali ini.
  • Dalam kondisi terburuk, hanya akan terkoreksi menuju kisaran support 4200-4400.  Dan setelah itu, IHSG masih bisa mencapai kisaran 5200-5500 sekali lagi, atau setidaknya…
  • IHSG di akhir tahun, masih memiliki peluang yang sangat besar untuk ditutup diatas level psikologis 5000.
  • Koreksi adalah kesempatan untuk melakukan akumulasi pada harga yang lebih murah.  Kita hanya perlu memandang koreksi sebagai hal yang biasa, sama seperti kita memandang rally sebagai hal yang biasa juga.

Point terakhir yang ingin saya sampaikan:

Mengendalikan Supertanker itu berbeda dengan menyetir becak.  Kalau Anda adalah juru mudi dari sebuah Supertanker tapi kelakuan anda seperti tukang becak, bisa jadi tempat anda memang bukan di anjungan dari Supertanker.  Malah, bisa jadi Jakarta bukanlah tempat untuk Anda. Mungkin Anda harus pergi ke Tangerang. Becak sudah dilarang di Jakarta, tapi masih boleh beroperasi di Tangerang.  

(Oh iya… bagi anda pengendara supertanker yang ingin belajar mengemudi becak.. silakan mencari program terbaru dari Microsof: Becak Simulator. Hehehe..)

130617 Becak Simulator

Menjadi seorang analis, kita harus bijaksana dalam menceritakan masa depan yang kita lihat kepada stakeholder kita.  Prediksi itu untuk memberikan gambaran yang seimbang dan obyektif, bukan sebagai ajang untuk mencari popularitas, apalagi untuk menakut-nakuti.

Happy trading… semoga barokah!!!

Satrio Utomo

Kembali ke artikel awal: Trading untuk Pemula

*bacalah halaman disclaimer sebelum anda melakukan posisi beli atau posisi jual setelah anda membaca ulasan ini.  Terima kasih!!!

Sumber gambar: Kaskus, Google, diolah.

Advertisements
Comments
4 Responses to “Ketika Mengendalikan Supertanker Berbeda dengan Menyetir Becak*”
  1. agung says:

    joss pak// SIAP!!!!

Trackbacks
Check out what others are saying...
  1. […] #29: Memahami Pentingnya Trend Jangka Menengah […]



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Visit Website of Our Visitors

%d bloggers like this: