Advertisements

Kalau Duit Rp 10 Juta, JANGAN BELI SAHAM!!! Kecuali…*


Selamat pagi…

Pasar modal kita itu… baik otoritas maupun sekuritas… giat banget untuk melakukan penjaringan pemodal retail baru.  Maklum saja… hingga saat ini.. penetrasi dari pasar modal kita terhadap total jumlah penduduk tergolong sangat rendah.  Dalam fit and proper test yang pernah di selenggarakan oleh DPR pada tahun kemarin, Ibu Nurhaida, mantan Ketua Bapepam yang saat ini menjabat sebagai Komisioner OJK pernah bilang, bahwa penetrasi pasar modal kita, hanya 0,2 persen jumlah penduduk.  Angka ini jauh dibawah Singapore yang penetrasi pasarnya mencapai 30 persen dan Malaysia yang penetrasi pasarnya mencapai 20 persen.  Rendahnya anda penetrasi ini, membuat kalangan pasar modal giat mencari pemodal baru. Beberapa cara yang ditempuh diantaranya:

  • Menurunkan jumlah setoran awal.  Dulu, ketika saya pertama kali belajar jadi Broker Saham pada tahun 1998, setoran awal nasabah masih Rp 50 juta.  Tidak lama kemudian, turun menjadi Rp 25 juta.  Sekarang bahkan, Rp 10 juta sudah bisa buka rekening di sekuritas.
  • Menjaring pemodal syariah.  Hehehe…. saya orang Islam.  Tapi… secara sadar, saya masih belum kepingin untuk jualan saham dengan label ‘syariah’.  Mengapa? Hm.. tetap saja saya gilo (bahasa Indonesianya apa ya?) atau jijik kalau melihat ada orang berkerudung atau berkopiah tapi jualan Babi.  Lihat saja kualitas saham dalam list saham yang dianggap syariah: dulu sempat ada saham preferen yang notabene haram, masih banyak saham syariah yang rawan jebakan penggoreng.  Terus.. terakhir kemarin, saya juga baru sadar kalau saham hotel masih bisa masuk saham syariah.  Nggak usah Santika, Hotel Mandarin yang restorannya jelas menjual daging Babi masih masuk saham Syariah.  Buat saya… pilihan saya saat ini: Mendingan saya tetap jualan saham biasa tapi melawan praktek perjudian/goreng2an saham.. dari pada berkopiah tapi jualan Babi.  After all… saya juga sudah lama tidak trading saham rokok, apa lagi saham Bir.  Hehehe… salah juga ya?
  • Menurunkan jumlah lot saham.  Lot saham yang tadinya 500 lembar, nantinya akan dijadikan menjadi 100 lembar.  Di satu sisi… ini adalah ide jenius karena membuat saham-saham bagus seperti ASII, BMRI, BBRI, bahkan SMGR dan INTP, bisa terjangkau oleh masyarakat yang lebih luas.  Tapi.. tanya sama diri anda dan orang disekitar anda deh: kalau beli saham, mana yang lebih menarik: saham bakrie yang sedang digoreng-goreng, aktif di running trade, atau saham JSMR yang sedang diem.  Hehehe… saya sih masih yakin bahwa pemodal pemula, masih mudah tertarik oleh barang-barang yang bergerak di running trade, dibandingkan melihat kondisi fundamental yang sebenarnya dari perseroan.

Dan masih banyak lagi.  Intinya: mereka ingin menjangkau jumlah masyarakat yang lebih besar.

Tapi ya gitu… pemodalnya ini loh.. yang sering kali masuk ke pasar modal dengan kondisi ala kadarnya: Yang penting… punya duit.. buka account, terus beli-jual saham.  Setelah nyangkut, nanti baru cari ilmu… beli buku.. ikut kursus… tanya analis.. dll.  Ujung-ujungnya: alih-alih menjaring stock market lovers… banyak diantara mereka yang kemudian menjadi ‘stock market hater’, pembenci bursa saham.  Yang bilang kalau saham itu Judi, bla3… dll.  Kalau sudah begini.. bagaimana?

Itulah sebabnya:

Beli saham (terutama kalaju kita trading niy..) harus dilakukan dengan jumlah kapital yang cukup!!!

Pertanyaannya kemudian adalah: ‘Cukup’ itu berapa? Apakah 10 juta itu cukup? Apakah Rp 10 juta itu kurang? (Rp 10 juta adalah jumlah minimal dari kebanyakan sekuritas untuk membuka account).

Menurut saya.. dalam menentukan jumlah minimal kita untuk membeli saham ditentukan oleh beberapa faktor, seperti misalnya:

1.  Apakah pemodal itu melakukan trading? Atau sekedar berinvestasi…

Trading itu berbeda dengan investasi.  Trading itu jangka pendek, investasi itu jangka panjang.  Dan masih banyak perbedaan yang lain yang bisa anda baca pada tulisan saya sebelumnya.  Kalau anda berinvestasi, Rp 10 juta tentu saja cukup.  Tapi… kalau untuk trading, tentu saja angka Rp 10 juta ini sulit untuk dibilang cukup.  Mengapa? Kalau investasi, kita kan lihat returnnya  bisa 1-2 tahun lagi.. atau minimal.. 1 bulan deh.. baru dilihat untung ruginya.  Investasi ini cenderung woles.  Mau untung atau rugi 10%.. juga gampang.  Pelaku pasarnya juga adalah orang-orang yang sangat sabar.  (model sing: diantemi pasar.. yo meneng wae… hehehe).   Tapi.. kalau untuk trading, duit Rp 10 juta itu sulit untuk mendapatkan keuntungan yang ‘nendang’ (lihat penjelasanya pada nomor 2), sulit untuk memperoleh keuntungan yang signifikan.

2.  Berapa Rupiahkah hasil yang anda harapkan dari dana yang anda habiskan untuk membeli saham tersebut?

Haree genee… Sekali makan berempat di Warung Tegal atau Warung Nasi Udug, pasti dengan mudahnya melewati angka Rp 100.000,-.  KFC dan MacD berusaha keras agar kita bisa makan disitu berempat cuman habis Rp 100.000. Tapi yang jelas, Pizza Hut sudah gagal.  Arti uang Rp 100.000 bahkan Rp 500.000, sekarang ini sudah semakin kecil.  Pengemis di Bandung saja, mensyaratkan gaji Rp 10 juta per bulan untuk mau diubah menjadi tukang sapu.

Ini semua tentu saja, membuat return on equity dari seorang pemodal menjadi tinggi.  Kalau untuk investasi, tentu saja gampang.. orang lihatnya dalam jangka panjang.  Tapi.. kalau untuk seorang trader yang sehari-dua hari sudah dilihat? Hehehe.. mereka pasti menginginkan return Rupiah yang lebih tinggi.  Kalau misalnya niy.. setiap transaksi, seorang trader merasa harus untung Rp 1 juta.  Tentu saja membutuhkan jumlah uang yang lebih besar untuk transaksinya.  Rp 10 juta tidaklah mencukupi.

Kalau anda trading hanya dengan menggunakan Rp 10 juta, effort (usaha) yang anda lakukan, tidak akan sebanding dengan apa yang anda bisa dapat.   Anda bisa dengan mudah kecewa dengan kecilnya hasil yang anda dapat

3.  Seorang pemodal harus mampu membentuk sebuah portfolio yang sehat.

Kalau Investopedia itu.. bilangnya gini: portfolio yang ideal itu, terdiri dari 15-20 saham.  Emang bisa Rp 10 juta buat beli 15-20 saham yang semuanya berfundamental bagus? Hehehe… Pertama-tama…  kalau 15-20 saham yang berfundamental bagus, sepertinya tidak mungkin.  Terus… meski itu nanti 1 lot-an semua dengan jumlah lot yang baru (100 lembar).. tetap saja sangat sulit atau bahkan tidak mungkin.  Kalau isinya ada sebagian besar yang saham yang di harga autorijek bawah.. hehehe… tentu saja mungkin.  Tapi.. apakah itu cara yang kita inginkan untuk membimbing pemodal pemula? Kalau saya sih enggak.

131019 Diversifikasi Portfolio

Bagi saya… yang selalu menyarankan portfolio bagi seorang trader itu hanya terdiri dari 3 – 5 saham saja, membentuk posisi trading yang mampu memberikan keuntungan yang signifikan dari 3-5 saham saja, tetap saja sulit.  Bisa sih..  kalau kita isi saham blue chip big caps barang 2/3 posisi (dengan lot 100 lembar tentu saja), terus ditambah 1-2 saham yang lapis kedua.  Tentu saja bisa.  Tapi tetap saja: kita tidak  bisa memperoleh hasil yang signifikan untuk jangka pendek.  Kalau cuman untuk cari Rp 50.000 – Rp 100.000 per hari.. yah.. itu mungkin saja.  Tapi.. itu berarti kita harus menjaga agar kerugian yang kita alami jika terpaksa cut loss, harus kurang dari Rp 30.000 per transaksi.  Sebuah hal yang sulit untuk dilakukan, meski buat seorang trader yang cukup berpengalaman.

4.  Pemodal pemula lebih suka beli saham dalam jumlah ‘lot besar’.  Pemodal pemula itu, sering kali memulai pengalamannya dengan ‘rasa serakah yang luar biasa besar’, tapi dengan ‘rasa takut rugi yang luar biasa besar juga’.  Untuk memenuhi ‘rasa serakah yang luar biasa’ ini, mereka sering kali merasa bahwa untuk ‘trading’.. untuk untung besar.. maka harus dilakukan dalam jumlah lot besar juga. Lot besar ini.. berarti dia bakal cenderung beli pada jumlah puluhan.. bahkan kalau bisa dalam jumlah ratusan lot.  100 lot.. 200 lot.. atau kalau bisa ribuan lot.  Misalnya gini deh.. Harga saham yang paling murah.. adalah Rp 50 (gocap).  Kalau duit Rp 10 jt, dibelikan saham gocap.. dapetnya bisa 400 lot.  Kalau nanti pake lot baru dimana per lot adalah 100 lembar, maka seorang pemodal bisa beli sampai 2000 lot.  Kalau di lot baru ini.. kalau saham ASII di harga Rp 7000, pemodal hanya bisa beli sekitar 14 lot.  Mana yang akan dipilih? Portfolio 4 saham gocapan dengan masing-masing 500 lot? atau portfolio 4 saham blue chip dengan masing-masing hanya 5-10 lot? Hehehe..  kalau dari ‘penerawanagan’ saya… pemodal pemula bakal memilih bentuk portfolio yang pertama dibandingkan yang kedua.  Mereka akan memilih ‘jumlah lot besar’ dibandingkan dengan ‘rasa aman untuk membeli saham dengan fundamental bagus’.

So…. saya ulang sekali lagi:

Kalau duit  Rp 10 juta… JANGAN BELI SAHAM!!!

KECUALI…..

Iya.. tetap saja ada kecualinya.  Tentu saja.. saya tidak bisa melarang anda untuk masuk ke pasar modal dengan duit Rp 10 juta.  Orang ditempat saya aja (UBI) untuk buka rekening cukup dengan Rp 10 juta.  Anda bisa tetap masuk ke pasar modal dengan duit Rp 10 juta… jika anda sadar akan beberapa realtia sebagai berikut:

  • Jika Duit anda Rp 10 juta, anda harus sadar bahwa anda hanya bisa melakukan investasi… Anda bakal sangat kesulitan atau bahkan ‘hampir tidak mungkin’ untuk melakukakan trading dengan keuntungan yang ‘signifikan dan continue’, kalau duit anda hanya Rp 10 juta.  Jika duit anda hanya Rp 10 juta, anda harus jadi investor, bukan menjadi trader.
  • Jika Duit anda Rp 10 juta dan memutuskan untuk menjadi investor: anda harus benar-benar bertanggung jawab dalam melihat kondisi fundamental perseroan.
  • Jika Duit anda  Rp 10 juta dan memutuskan untuk menjadi investor: jangan terpaku dengan berapa jumlah volume saham yang anda beli, fokuslah pada kualitas dari fundamental emiten tersebut.

Di sisi lain… Jika Duit anda Rp 10 juta tapi anda memutuskan untuk ‘trading’, anda harus mempersikapkan beberapa hal berikut ini:

  • Anda harus siap bahwa posisi trading anda, keuntungannya secara nominal, tidak akan besar.
  • Padahal.. untuk posisi trading tersebut, anda harus mengeluarkan effort yang sangat besar.  Anda harus belajar untuk prediksi jangka pendek hingga memiliki kualitas prediksi yang prima, anda harus punya kemampuan untuk melakukan entry dan exit posisi dengan baik, manajemen emosi, dll.  Sebuah usaha besar, waktu yang tidak sedikit, dan biaya tidak murah.
  • Anda harus sadar, bahwa ini semua adalah sebuah proses pembelajaran.  Dan (sekali lagi…) sebuah usaha besar, waktu yang tidak sedikit, dan biaya tidak murah.
  • Sebagai percobaan… silakan baca ulasan saya ini deh… dan coba untuk menyelesaikannya.. dari yang pertama sampai yang terakhir.  Saya yakin…. sebagian besar dari anda pasti akan males untuk menyelesaikannya.  Hehehe.

So..

… trading adalah sebuah proses pembelajaran yang terkadang harus kita lalui dalam sisa hidup kita…

kalau anda tidak mau menjalani semua itu.. mendingan anda beli reksadana saham saja.  Effortnya kecil.. kalau mau untung lebih besar, anda tinggal belajar untuk prediksi IHSG jangka pendek, dan entry exit (beli jual) berdasarkan prediksi anda itu.

Sekali lagi:

Kalau Duit Rp 10 juta .. JANGAN BELI SAHAM!!! BELI SAJA REKSADANA SAHAM!!!

Happy trading.. semoga barokah!!!

Satrio Utomo

*bacalah halaman disclaimer sebelum anda melakukan posisi beli atau posisi jual setelah anda membaca ulasan ini.  Terima kasih.

PS: Saya adalah seorang pendendam yang buruk.  Seperti saya tidak mau lagi beli saham Bakrie dan juga saham Grup Lippo.  Terkadang… saya memang suka membuat pernyataan yang provokatif… untuk melihat.. siapa saja yang siap menikam saya dari belakang.  Saya sangat berterima kasih buat anda yang kemarin telah memberikan komentar positif karena telah berprasangka baik kepada saya.  Buat anda yang sudah memberikan komentar nyinyir di FB saya maupun twitter saya kemarin… saya sudah catat kok.  Selamat untuk anda yang termasuk golongan kedua.. karena anda ternyata memiliki bakat menjadi penjual dodol yang enak.  Terima kasih untuk anda semua deh pokoknya.

https://www.facebook.com/satrioutomo/posts/10200824139478034?comment_id=5047980&offset=0&total_comments=17&notif_t=feed_comment

Advertisements
Comments
96 Responses to “Kalau Duit Rp 10 Juta, JANGAN BELI SAHAM!!! Kecuali…*”
  1. Mhd Fauzan K says:

    ternyata ada tapi nya ya pak,,, terimakasih 😀 😀 😀

  2. rudy says:

    Ya pak satrio bikin ciut nyali padahal saya baru buka rekening efek cuma modal 1/10 dari yang diomongin, tapi bukan buat trading buat di keep sambil nemenin reksadana saham hehehe, niat belinya juga saham tempat ngantor dulu di telkom mumpung abis stock split jadi bisa kebeli walau cuma 1 lot 🙂

    • Satrio Utomo says:

      Bung Rudi…

      Berarti anda sadar bahwa anda beli saham itu untuk keperluan investasi kan? Mengapa harus ragu? Kan saya bilang disitu: Kalau investasi… gak masalah dengan modal Rp 10 juta. Tapi kalau untuk trading… sebaiknya jangan.

      Wassalam,
      Satrio

  3. Sandinata says:

    waduh pak satrio. ulasan ini menyentil banget nih buat saya. kebetulan modal saya pas sama yang bapak sebut dan saya trading. makanya saya setuju gak setuju nih posisinya. hehehe. untungnya saya gak pernah main saham gorengan. Rencana saya sih pak. kalo dengan modal sekarang ini saya bisa bertahan dan memperoleh keuntungan, Baru saya tambah lagi modalnya.

    Mohon doa dan bimbingannya pak. saya jadi tertantang juga nih. 🙂

    • Satrio Utomo says:

      Bung Sandi…

      Yang terpenting dan harus selalu diingat bagi pemodal dengan modal pas-pasan adalah: sebaiknya dilakukan dengan metode investasi. Selain itu.. kita juga harus sabar… karena kalaupun trading.. keuntungannya tidak bisa besar. Semoga anda bisa mendapatkan ilmu yang berguna, sesuai harapan anda.

      Wassalam,
      Satrio

  4. priyatno says:

    kenapa terhadap group Lippo pak? terimakasih

    • Satrio Utomo says:

      Bung Priyatno…

      Itu karena masalah penggorengan saham LPLI dan LPPS di awal tahun 2000-an. Terus.. sampai sekarang, grup Lippo kan masih terus melakukan ‘inovasi’ corporate action yang tidak ada di peraturan BEI dan OJK. Lucunya.. BEI dan OJK selalu menggunakan pasal: yang belum diatur adalah boleh. Padahal.. dengan berdasarkan aturan ‘bahwa BEI dan OJK wajib menyelenggarakan perdagangan yang wajar’, menurut saya.. BEI dan OJK bisa saja mensuspen pergerakan harga sahamnya, sampai BEI dan OJK mengeluarkan peraturan tentang masalah tersebut.

      Wassalam,
      Satrio

  5. Giez says:

    Pak Tommy … mohon masukannya juga untuk pake modal pinjeman/bank untuk ‘serius’ didunia trading dan menjadikannya bisnis utama. Apa2 saja yang harus diperhatikan -kalo boleh- menggunakan modal pinjeman ini … sebelumnya terima kasih atas segala sumbangsih dan ilmu yang Pak Tommy kasih.

  6. rahman says:

    Waduh mas satrio bikin takut aja nih, kebetulan saya baru aja daftar di bni dgn modal 1 juta. Niatnya sih untuk investasi dgn tiap bulannya nambah 100ribu. strategy nya sih keluar masuk berbasiskan indikator moving average.

    Sekedar info buat mas satrio, kalaupun dr trading cuma dpt 10rb atau 20rb sehari, itu buat saya udah lumayan banget, bisa buat makan seharian: -)

    Tergantung dari kita memandangnya aja.

    • maria90 says:

      Di bni sekuritas min. 1 jta ? Krn kmrn saya tnya mim. Deposit 5 jt
      thx u

    • eka setiyaningsih says:

      Kak saya sedang ingin mencari investasi2 yg tepat untuk mahasiswi seperti saya, ini yg modal 1 juta di bni maksudnya gmn ya kak? Mohon penjelasannya kak terimakasih

      • Satrio Utomo says:

        Eka…

        Kalau mau investasi langsung ke saham, jumlah itu saya kira terlalu kecil. Memang sih bisa buka account, tapi tetap saja.. nanti yang dibeli, bakal cenderung saham-saham yang fundamentalnya kurang sehat.

        Sebaiknya, kalau dana segitu, dibelikan reksadana saham saja. Reksadana saham tapi yang benchmarknya IHSG atau ISSI. Jangan yang benchmarknya indeks sektoral atau indeks lainnya karena nanti resikonya jadi lebih besar.

        Wassalam,
        Satrio

  7. Bila modal didapatkan dari ber hutang apakah boleh untuk trading pak?

    • Satrio Utomo says:

      Bung Hermawan…

      Sebaiknya.. jangan trading dengan menggunakan hutang, kecuali hanya jika anda sudah bisa membaca trend dan arah pergerakan harga, serta anda sudah bisa cut loss. Trading itu jangka pendek sebenarnya ‘stress’-nya sudah tinggi. Kalau dilakukan dengan menggunakan hutang.. stressnya akan lebih tinggi lagi. Pressure yang sangat tinggi ini, sebaiknya hanya dilakukan bagi mereka yang sudah ahli.

      Wassalam,
      Satrio

  8. diniwilinda says:

    Wah, pas bgt modal sy dg yg bapak sebutkan.. Hehe… Saya pemula, dan masih belajar… Sy maunya buat trading, sprtinya harus nambah nh… Tp sy ga mau man di gorengan, takuuuttt huhuhu…

  9. diniwilinda says:

    Reblogged this on diniwilinda's Blog.

  10. Pak Satrio, kalau untuk tujuan investasi dengan modal awal 10 juta,

    1. sebaiknya diberikan saham blue chips apa saja dan berapa lot ya? (maaf masih pemula banget),,

    2. lalu utk jangka waktu 5 tahun, apabila untung kira-kira modal 10 juta itu bisa berkembang jadi berapa (kisaran saja)? (sebagai gambaran supaya saya bisa kalkulasikan dengan tujuan dalam 5 tahun itu)

    Terima kasih Pak
    Salam

    • Satrio Utomo says:

      Bu Renna…

      Kalau 10 juta.. mendingan jangan bu. Mendingan Ibu beli reksadana saham saja. Reksadana Saham berbasis IHSG. Kalau dibelikan saham langsung, nanti malah jadi gak berasa keuntugnannya.

      Wassalam,
      Satrio

      • rendy says:

        pak satrio, hanya ingin tau gambarannya saja, misal dana 10jt dibelikan reksadana saham berbasis IHSG, kelebihannya dibanding reksadana yang lain apa pak?
        saya juga pemula, dan memang dari sekian bnyk masukan memang lebih diarahkan ke reksadana untuk dana kisaran 10jt..
        saya masih proses mempelajari jenis instrument’nya sebelum benar2 mulai berinvestasi.
        kalau boleh bertanya, pengen nih dijelasin tentang reksadana, macamnya, resikonya, dan keuntungan yang diberikan..
        Terima kasih sebelumnya….:)

      • Satrio Utomo says:

        Bung Rendy…

        Kalau secara umum, reksadana itu terbagi menjadi 3: reksadana pendapatan tetap (berbasis surat hutang), reksadana campuran (50% surat hutang, 50% saham), dan reksadana saham (80% – 100% saham).

        Reksadana pendapatan tetap itu, terdiri dari 2 macam: pendapatan tetap biasa, dan pendapatan tetap terproteksi. Reksadana campuran dan reksadana saham, itu kadang kala masih bisa dikelompokkan lagi berdasarkan sektor (baik dari saham maupun obligasi) dari reksadana tersebut berinvestasi. Ada yang berbasis indeks umum (IHSG, IDX30, LQ45), syariah (ISSI, JSI), maupun indeks sektoral (infrastruktur, konstruksi, konsumer, properti dll.).

        Untuk resikonya.. yah.. kurang lebih.. urutan diatas sudah saya urutkan sejalan dengan resikonya…

        Wassalam,
        Satrio

  11. indra says:

    mantap nih pembahasannya, karena modal saya kecil jadi sementara ini untuk investasi saja dulu..
    makasih pak ilmunya…

  12. ardi says:

    saya berterima kasih sekali dengan apa yang ada tulis.
    mohon saran pak, ini pola pikir rencana saya :
    :
    (1) modal awal invest 30 jt pada saham besar (dengan resiko jumlah lot yg kecil)
    saya berencana invest di saham untuk rentang (5-10 tahun)
    (2) setiap tahun saya mewajibkan diri saya untuk menambah jumlah lot saya di saham tsb.
    saya dalam rentang waktu tsb saya hanya invest di 1 produk saham sj.

    bagaimana menurut opini bpk, mengenai pola pikir saya?

    terima aksih atas opininya

    regards
    ardi

    • Satrio Utomo says:

      Bung Ardi…

      Bagaimana? Kok sepertinya terputus emailnya…

      Wassalam,
      Satrio

      • klo diweb utuh koq pak, comment saya

      • Satrio Utomo says:

        Bung Ardi..

        Ide anda bisa dikatakan bagus. Kalau boleh saya sarankan, waktu untuk melihat kembali, itu ditetapkan pada bulan April atau Mei. Bulan ketika laporan keuangan kuartal pertama sudah keluar, sehingga anda sudah punya proyeksi.. bagaimana kira-kira kondisi fundamental dari perusahaan untuk setahun kedepan.

        Wassalam,
        Satrio

  13. annas says:

    wah pak ini saya baru mau terjun dengan modal deposit min 5jt di BNI sekuritas, melihat isi di atas kog menjadikan saya ragu untuk terjun ke dunia trading,.saya sempat dapat pengalaman dari teman yang dari sma sudah bermain trading dengan modal segitu jg, dan sampai sekarang sudah 5 tahun dia masih bertahan.. dari situ saya termotivasi untuk ikut dan sekarang masih mecari ilmu2 nya dahulu walaupun saya mahasiswa akuntansi tapi menurut saya masih kurang pengetahuan saya dalam perdagangan efek…menurut bapak saya harus lanjut atau mengumpulkan modal tambahan terlebih dulu?

    • Satrio Utomo says:

      Hehehe…

      Sebenarnya sih… Sebaiknya tetap diatas Rp 50 juta. Kalau dibawah itu, banyak sekali ‘perangkap pemula’-nya…

      Semoga anda berhasil
      Wassalam,
      Satrio

  14. annas says:

    begini pak saya mau tanya,.saya tertarik terjun k dunia trading setelah meilhat teman saya yang lumayan jalan dalam memainkan trading.. saya berfikir karena saya seorang mahasiswa basic akuntansi mungkin akan lebih mudah dalam mempelajari hal ini,.tp modal saya hanya pas2an dan mungkin bakal buka d BNI sekuritas dengan deposit min yaitu 5jt,. nah dari Penjelasan bapak d atas saya jadi ragu apa harus melanjutkan untuk bergabung ke dunia trading atau meneruskan nya??saya mohon pencerahan dari bapak yang sudah berpengalaman..

    • Satrio Utomo says:

      Bung Annas…

      Berarti… anda mau coba dengan model ‘Investasi’ ye? Silakan dicoba. Saya kan tidak bisa melarang. Tapi tolong.. itu berarti anda juga harus ekstra sabar. ‘Investasi’ itu, berarti anda harus mau untuk benar-benar mencari saham yang fundamentalnya bagus, beli, lantas simpan. Anda harus rela untuk tidak melihatnya dalam periode yang cukup lama. Jangan berharap seperti ‘trading’ dimana anda akan bertransaksi secara sering dan berharap keuntungan yang cepat.

      Semoga sukses….

      Wassalam,
      Satrio

  15. Rahmat Ranggonang says:

    Assalamualaikun mas satrio
    Saya perkenalkan Ranggo
    Saya mau nanya reksadana saham yang berbasis ihsg itu seperti apa contohnya ya, apa mnc dana syariah ekuitas termasuk?
    Suwun

    • Satrio Utomo says:

      Bung Rahmat,

      Kalau dilihat dari ‘nama reksadana’-nya… MNC Dana Syariah Ekuitas sudah termasuk dalam reksadana berbasis indeks.. paling tidak, indeksnya adalah indeks syariah. Untuk lebih jelasnya, anda bisa lihat portfolio holdingnya melalui prospektusnya, atau bisa juga lewat http://www.infovesta.com

      Wassalam,
      Satrio

  16. Didit says:

    Ulasan anda menarik bagi saya .. Ini membuat saya sedikit paham tentang pasar saham

  17. rendy says:

    pak satrio, hanya ingin tau gambarannya saja, misal dana 10jt dibelikan reksadana saham berbasis IHSG, kelebihannya dibanding reksadana yang lain apa pak?
    saya juga pemula, dan memang dari sekian bnyk masukan memang lebih diarahkan ke reksadana untuk dana kisaran 10jt..
    saya masih proses mempelajari jenis instrument’nya sebelum benar2 mulai berinvestasi.
    kalau boleh bertanya, pengen nih dijelasin tentang reksadana, macamnya, resikonya, dan keuntungan yang diberikan..

    kemudian dari segi risk dan return’nya, dengan dana 10jt itu, jika tujuannya sama2 investasi dan bukan trading, untuk rentang waktu 1-3tahun, lebih baik disaham atau reksadana saham saja pak??

    • Satrio Utomo says:

      Bung Rendy…

      Kelebihan dari reksadana berbasis IHSG dibandingkan dengan reksadana yang lain (misalnya yang berbasis indeks konsumer, properti, komoditas), adalah karena indeks ini akan terus bergerak seiring dengan pergerakan pasar dan kondisi ekonomi secara umum. Reksadana ini juga cenderung untuk memfokuskan portfolionya pada saham-saham berkapitalisasi pasar yang besar, sehingga pergerakannya tidak terlalu berbeda dengan pergerakan IHSG dengan beta sekitar 1 – 1,2. Artinya: kemanapun IHSG bergerak, NAV dari reksadana tersebut akan mengikuti. Berbeda dengan reksadana konsumer misalnya, tahun 2013 kemarin, mereka mungkin menjadi yang terbaik. Tapi, ketika sektor tersebut ditinggalkan orang karena peminatnya berkurang, reksadana berbasis sektor itu akan cenderung tertinggal pergerakannya dibandingkan dengan IHSG.

      Wassalam,
      Satrio

  18. usup permana says:

    Seandainya mau main saham dengan modal awal 100 juta, tapi supaya transaksinya aman bagaimana?’

  19. andy says:

    saya suka ulasan anda, nyelekit, tapi sesuai realita.
    dengan modal 10 juta, kalo memang niatnya makan dari saham aja ya mana cukup.
    Biaya hidup aja anggap Rp 5 juta perbulan, masak mau untung 50% perbulan, ya gak mungkinlah.
    normalnya untung 3 persen perbulan aja udah termasuk jago. tapi masak hidup sebulan dengan penghasilan Rp. 300.000,- .gak mungkin jugakan?
    Dua jempol untuk anda pak.

  20. almahdi79 says:

    Bang Satrio
    Untuk mengetahui reksadana saham yang berbasis IHSG atau syariah bagaimana caranya? Apakah dari prospektusnya?

  21. zeco says:

    Satrio Utomo says:
    June 2, 2014 at 10:32

    Eka…

    Kalau mau investasi langsung ke saham, jumlah itu saya kira terlalu kecil. Memang sih bisa buka account, tapi tetap saja.. nanti yang dibeli, bakal cenderung saham-saham yang fundamentalnya kurang sehat.

    Sebaiknya, kalau dana segitu, dibelikan reksadana saham saja. Reksadana saham tapi yang benchmarknya IHSG atau ISSI. Jangan yang benchmarknya indeks sektoral atau indeks lainnya karena nanti resikonya jadi lebih besar.

    Wassalam,
    Satrio

    mengutip ini,contoh real nya apa ya pak untuk reksadana IHSG dan ISSI. Maklum Pak saya belum mengerti.

    • Satrio Utomo says:

      Bung Zeco…

      Itu harus dilihat satu per satu pak. Harus dilihat di prospektusnya. Kalau anda sedang membeli reksadana di counter bank.. bisa ditanyakan ke marketingnya kok.. ‘benchmark dari reksadana itu apa’… kalau reksadana saham.. umumnya IHSG. Kalau reksadana Syariah, umumnya JII atau ISSI, kalau reksadana sektoral, biasanya ke indeks dari masing2 sektor. Coba ditanyakan ke penjual reksadana saja. Kalau dia tidak tahu.. hehehe.. cari saja penjual reksadana lainnya. Atau… anda bisa coba googling prospektus dari reksadana itu.

      Wassalam,
      Satrio

  22. Iskandar Saher says:

    Saya, Iskandar Saher. Ingin mulai trading, sudah membaca lumayan banyak tentang investasi & trading, tapi masih belum berani memulai. Saya agak kuatir salah menggunakan aplikasi online dlm trading. Adakah pelatihan utk ini di wilayah Jateng/DIY?
    Terima kasih banyak

    • Satrio Utomo says:

      Pak Iskandar…

      Kalau on line trading itu… pasti ada pelatihannya lah.. dari sekuritas masing-masing. Itu sebabnya, anda sebaiknya mencari sekuritas yang memiliki cabang di kota anda. Di Jogja ada banyak kok pak… cuman sayangnya perusahaan saya tidak ada cabang disana. 😀

      Untuk OLT biasanya.. kita coba-coba dan eksplorasi sendiri untuk mendapatkan kapasitas yang maksimalnya. Market info apa saja yang bapak butuhkan dari OLT.. itu yang harus Bapak eksplorasi sendiri. Misalnya niy.. kalau saya kan suka lihat aliran dana asing yang ada di pasar reguler. Itu belum tentu ada di semua OLT. Bapak harus tanya2 sendiri apakah fasilitas itu ada.

      Mengenai order… Kalau Bapak takut salah… ya ordernya jangan besar-besar dulu. Dan sebenarnya.. salah itu manusiawi kok pak.. saya aja kadang suka salah maunya beli jadi jual atau maunya jual jadi beli. Hehehe.

      Wassalam,
      Satrio Utomo

  23. frankyrivan says:

    Wah baru baca artikel ini. Keren pembahasannya Pak Satrio. Mau kasih tambahan masukan pak, menurut saya kalo mau trading dipisah accountnya dengan account invest. Kalau bisa account untuk invest di sekuritas2 yang fee beli/jual nya gede biar lebih bikin malas trading. Akan lumayan berasa sih manajemen emosinya. Ini pengalaman pribadi aja sih heheeee…

    Salam – @frankyrivan

  24. Edy says:

    Salam kenal Pak Satrio….
    Untuk mendapatkan profit 5 juta / bulan, kira-kira berapa invsetasi yg dibutuhkan.
    Terima kasih.

    • Satrio Utomo says:

      Bung Edy…

      Semua tergantung Skill anda. Kalau anda bagus.. untuk dapat 5% per bulan.. cukup dengan modal Rp 50 juta. Tapi.. kalau anda biasa-biasa saja.. anda butuh modal sekitar Rp 150 – 200 juta untuk mendapatkan Rp 5 juta per bulan.

      Wassalam,
      Satrio

  25. aldy says:

    Mas Satrio,,, awal nya saya buka rekening 5 jt dah dpet untung 800 ribu trus saya tmbah lagi 5 juta mendapat utung keseluruhan 2,5 juta tuch,,,, Saya ingat belu kata2x nya kita harus disiplin dalam trading,,, beli ketika harga naik dan jual ketika turun memeng sich kadang saya harus loss sekitar 100-200 ribu tp kan untung nya dah lebih dr itu,,,makasih ya msa atas ilmu nya yg bermanfaat ini

  26. arcopiero says:

    Mas Satrio, lebih baik mana uang 10jt saya masukkan ke reksadana saham atau saya belikan saham blue chip kemudian saya jual kembali setiap 3 bulan (dengan harapan 3 bulan tersebut posisi sedang gain)?

  27. soniyap says:

    hahaha ..kayak nya ribet ya punya 10 jt mau main dmana… mohon saran aja reksadana mana yg menguntung kan…tq Bung Satrio

    • Satrio Utomo says:

      Bung Sonny…

      Selera saya gak aneh-aneh kok.. kalau itu bunyinya reksadana saham..selamat benchmarknya IHSG dan Beta-nya sekitar 1 – 1,2 .. itu sudah cukup bagus buat saya.

      Wassalam,
      Satrio

  28. Taufik says:

    Saya baru akan mulai investasi saham, dengan tujuan untuk biaya pendidikan anak 1 tahun lagi.
    Tabungan saya sudah ada Rp.100 juta, tetapi saya masih khawatir mengalami kerugian dalam berinvestasi saham karena sangat awam. Menurut bapak apa yang harus saya lakukan / belanjakan dengan uang tsb. Saya disarankan membeli beberapa macam saham LQ 45. Bagaimana menurut bapak ? Terimakasih

    • Satrio Utomo says:

      Bung Taufik….

      Investasi saham secara langsung itu.. membutuhkan waktu juga. Anda juga harus punya waktu luang yang cukup. Waktu luang untuk belajar, waktu luang untuk mempelajari pasar. Apakah anda memiliki hal tersebut?

      Jika tidak.. sebaiknya anda beli reksadana saja.

      Wassalam,
      Satrio

  29. runtrader says:

    Benar memang pak satrio, menganalisa saham (dengan serius) itu perlu energi, tapi kalau setelah analisa belinya cuma sedikit karena modalnya kecil ya untungnya dikit, memang benar berat sekali kalau melihat nominalnya, tapi saya punya tips yang persis dengan pak satrio, yaitu melihat pertumbuhannya (%-nya) jangan nominalnyal

    Saya sudah 4 tahunan trading, porto remuk pernah juga karena tergoda saham gorengan, makanya sekarang kembali ke jalan yang benar saja..

  30. yono says:

    Pak Satrio sebentar lagi bbm naik, saham apa ya pak yang cocok untuk di beli saat ini. terimakasih pakinformasinya.

    • Satrio Utomo says:

      Bung Yono…

      Saham yang bagus setelah kenaikan BBM Subsidi adalah saham yang berada dalam sektor yang mendapatkan dana limpahan dari pengalihan subsidi.

      Sektornya bisa sektor kesehatan (farmasi), konstruksi, dan infrastruktur.

      Wassalam,
      Satrio

  31. almahdi79 says:

    Pak satrio bagaimana kalau pembelian saham yg bertujuan investasi dimulai dari pembelian saham pra ipo? Apakah modal 10 jt ini cukup.

  32. dwiyan says:

    pak saya bisa kah tanya” lewat email dengan bapak? trimakasih, nunud333@gmail.com

  33. mukhlisin says:

    saya (16) sangat awam, saya pikir saham bisa di beli dengan inves 4 jtb 😀

    • Satrio Utomo says:

      Bung Mukhlisin

      Sebenarnya… kalau sekedar jual beli saham… Rp 100.000 juga bisa. Tapi… untuk bisa mendapatkan keuntungan yang cukup dan terasa, kita memang harus memiliki modal yang lebih besar. Ini karena investasi saham sebagian besar dilakukan tanpa leverage.

      Wassalam,
      Satrio

  34. Pantai says:

    Mas, sebenarnya apa sih yang dilakukan si spekulator raksasa george soros ini? saya kurang paham. http://www.gurufocus.com/news/276957/george-soros-20-billion-bet-on-a-stock-market-collapse-

    • Satrio Utomo says:

      Bung …

      Indeks DJI dan S&P 500 kan selama november naik tajam banget. Semata-mata, dia hanya betting kalau marketnya ketinggian dan sebentar lagi koreksi. Tapi.. sampai hari ini (27 Desember 2014).. koreksi itu kan belum pernah datang juga.

      We’ll see deh…

      Wassalam,
      Satrio

  35. abdul gafur tayeb says:

    saya termasuk orang yg baru mengenal dunia trading namun kemarin, saya sudah di hubungi oleh broker iforex orang malaysia yg langsung dari eropa katanya kita di iforex akan membimbing pemula2 yang baru bergabung dan hanya dengan modal 100 dollar bisa saja jadi 1000 dollar asalkan mengikuti bimbingan dari mereka.
    jadi mohon masukannya bagaiman saya menyikapinya pak trimakasih

    • Satrio Utomo says:

      Bung Abdul Gafur Tayeb…

      Forex itu, berbeda dengan saham. Dalam trading forex, biasanya dilakukan dengan leverage yang sangat tinggi sehingga pergerakan harga yang sedikit saja, bisa membuat dana anda berlipat ganda, atau malah hilang sama sekali. Biasanya, pilihan yang kedua ini yang sering terjadi.

      Kalau buat saya, forex tidak pernah menjadi pilihan pertama. Lagian.. secara Islam transaksi forex untuk tujuan keuntungan atau spekulasi itu haram.

      Wassalam,
      Satrio

  36. Daniel says:

    Pak kalau reksadana itu, interestnya perbulan Atau gimana pak? Thx.

    • Satrio Utomo says:

      Bung Daniel…

      Ketika membeli reksadana, anda akan membeli berdasarkan nilai NAB (Net Aset Bersih) dari reksadana itu. Fungsinya semacam ‘harga’ dari reksadana. Harga reksadana ini, akan naik turun sesuai dengan nilai investasi yang dilakukan oleh fund manager. Keuntungan (atau kerugian) potensial dari reksadana berasal dari kenaikan (penurunan) dari NAB ini. Saya sebut potensial mengingat keuntungan (kerugian) baru dirasakan pada saat reksadana tersebut dijual kembali.

      Wassalam,
      Satrio

  37. raitucarp says:

    Pak mau tanya ttg kerugian trading saham. Bukannya kalo sudah open posisi, dana kita tertahan ya? Bukannya beda seperti forex yg pake leverage sehingga bisa margin call. Di saham memangnya masih ada MC pak? Terima kasih

    • Satrio Utomo says:

      Bung RP…
      Logikanya semacam itu. Tapi beda.

      Di saham… ada sebagian yang beli saham didanai hutang (margin). Tapi.. marginnya tidak besar. Kalau di Forex.. margin kan bisa 1:30 hingga 1:50 tuh? Kalau di saham.. margin 1:3 sudah dianggap besar. Tapi kebanyakan.. sekitar lebih dari 70% investor.. main saham itu cuman pake rasio 1:1 .. tanpa margin.

      Kalau pemodal itu ada posisi margin… disitu kemungkinan kena margin call dan forced sell.

      Wassalam,
      Satrio.

  38. Satrio Utomo says:

    hallo pak Satrio,
    saya baca ulasan bapak sangat menarik, yang mau saya tanyakan, di kota saya banyak sekali disiarkan di media masa radio, koran adanya seminar trading yang menjanjikan 1 jam profit, bahkan trading nya bukan di dalam negeri tapi di luar negeri, tentunya pakai US$, apakah ini masuk akal pak, saya tertarik tapi ragu karena belum paham seluk beluk trading ini.

    • Satrio Utomo says:

      Itu biasanya instrumennya bukan saham dalam negeri pak. Kemungkian besar forex, indeks, atau bahkan saham luar negeri. Investasi seperti itu resikonya sangat tinggi karena marginnya bisa 1:30. Dengan kata lain: kalau bapak punya duit 1 juta.. investasi yang sebenarnya adalah sebesar 30 juta. Jadi Bapak kena untung rugi yang 30 juta tersebut, dengan hanya menggunakan jaminan Rp 1 juta. Kalau untung memang berlipat. Tapi… yang sering… uang bapak sudah habis dalam hitungan 1-2 hari.

      Wassalam,
      Satrio

  39. Satu ulasan yang menarik, saya jadi ingat pengalaman main trading pertama kali, saya main forex, dalam hitungan menit uang 1 jt saya amblas. dan saya hanya bisa gigit jari. terimakasih pak, saya bookmark dulu.

  40. mandiri says:

    WARREN BUFFET START FROM BUYING 3 SHEETS OF SHARE @$36

    • Satrio Utomo says:

      Bung…

      Berarti WB tidak beli saham penny stock kan? Disana satuan perdagangan saham (lot) memang lebih fleksibel. Disini sebaiknya juga begitu.

      Wassalam,
      Satrio

  41. Diana Putri says:

    Thanks atas artikelnya yang dapat dijadikan sebagai tambahan informasi dan pengetahuan bagi para pembaca.

  42. erwin_galau says:

    Permisi pak Satrio
    Numpang tanya
    Kalau punya uang 100juta,, mendingan beli RD Saham atau beli Saham ya
    soalnya kata artikel diatas “portfolio yang ideal itu, terdiri dari 15-20 saham” apakah dengan 100juta bisa dapat 15-20 saham blue chips
    matur nuwun

    • Satrio Utomo says:

      Bung Erwin…

      Porto ideal 15 – 20 saham itu.. kalau menurut investopedia… saya sih biasanya hanya 3-4 saham.
      Kalau anda memiliki dana 100 juta… dan anda harus memutuskan … apakah invest atau trading di saham langsung atau di reksadana… anda jawab dulu pertanyaan ini: Apakah anda punya waktu? Apakah anda punya waktu untuk belajar dan mengamati investasi atau posisi trading yang anda lakukan?

      Kalau anda tidak punya waktu… mendingan anda beli reksadana. Kalau and memiliki waktu (minimal sekitar 1 jam sehari), anda baru bisa melakukan beli jual saham secara langsung di Bursa Efek Indonesia.

      Wassalam,
      Satrio

      • erwin_masih_galau says:

        pak Satrio,
        terimakasih atas tanggapannya..
        terus terang saya tidak ada waktu 1 jam di jam kerja
        opsi saya adalah saham sebagai investasi bukan trading.. jd kalau tidak salah tidak perlu dimonitor setiap hari (cmiiw).. mungkin kalau seminggu sekali bisa.. oleh karena itu pilihan saya di saham2 yg fundamentalnya bagus (blue chip)
        bagaimana menurut pak Satrio apakah skenario ini bisa dijalankan dan layak dengan 100juta
        makasih

      • Satrio Utomo says:

        Pak Erwin…

        Waktu 1 jam itu bebas Pak.. Bisa diluar jam trading. Yang pentign punya waktu untuk belajar dan melototin grafik. Kalau untuk investasi… gimana ya pak… kalau memang untuk investasi.. mendingan dimasukkan ke reksadana saja. Kalau di belikan saham langsung, sering hasilnya malah kurang maksimal.

        Saran saya sih begini: silakan dicoba saja. Nanti kalau hasilnya mengecewakan… ya berarti memagn harus dipindah ke reksadana saja.

        Investasi atau trading itu sama sebenarnya pak. Butuh perhatian… butuh waktu untuk menganalisis. Kalau investasi, waktu terbesar biasanya dilakukan sebelum kita membeli saham. Karena setelah membeli, biasanya kita tunggu saja. Kalau trading.. waktu terbesar habis untuk melihat perkembangan pergerakan harganya. Untuk memprediksi arah pergerakan selanjutnya. Kalau Bapak tidak punya waktu untuk itu.. ya sudah.. beli reksadana saja. Hati lebih tenang karena investasi sudah ada yang mengelola.

        Wassalam,
        Satrio

      • Salam. Pak satrio, saya mahasiswa pak. Saya sangat tertarik dengan investasi ini dan masih sangat pemula. Tetapi saya baru punya modal 2jt. Menurut bapak saya ikut reksadana di commbank atau bukanl rek sekuritas ya pak? Dan apa perbedaan dari keduanya pak. Terimakasih pak.

      • Satrio Utomo says:

        Mbak Kidung…

        Kalau dana sebesar itu… sebaiknya memang dibelikan reksadana saja. Kecuali kalau anda benar-benar mau belajar tentang transaksi saham.

        Kalau Mbak Kidung bertanya… strateginya bagaimana… nanti saya bikin tulisannya deh. Hari-hari ini soale saya sedang fokus bikin modul Fibonacci Retracement… ngejar untuk bisa release ketika ramadhan.

        Wassalam,
        Satrio

  43. sukma says:

    Salam..p.Satrio,saya ibu r.tangga yg ingin menginvestasikan uang 100 jt untuk pendidijan kedua anak saya..kl saya mengambil reksadana,sebaiknya reksadana yg mana…kira kira dana itu saya butuhkan 8 thn lg…saya awan sekali mslh reksadana,tp sangat tertarik produk investasi ini…tolong dijelaskan jg kemungkinan resiko dr reksadana ini…mohon pencerahan pak..trm kasih

    • Satrio Utomo says:

      Ibu Sukma…

      Mengenai jenis reksadana yang bisa diinvestasikan…. sebenarnya.. nanti akan saya bahas pada sebuah artikel tersendiri. Maklum.. pembahasannya harus panjang dan detail sehingga tidak cukup untuk saya sampaikan disini. Akan tetapi, pada intinya: semua tergantung preferensi Ibu atas resiko. Kalau ibu kepingin merasakan keuntungan dari saham yang moderat ketika market naik tapi kalau turun reksadananya gak turun terlalu dalam nilainya… ibu bisa ambil reksadana campuran. Kalau Ibu siap akan untung rugi investasi saham… biasanya ibu bisa ambil reksadana saham. Cuman bu.. untuk detailnya… nanti saja saya tulis lain waktu. Atau kalau ibu terburu-buru… silakan telpon saya di 08111268889.

      Wassalam,
      Satrio

  44. aseonthewords says:

    Mas satrio, emailnya apa ya.. sy pemula mau tanya bnyk tentang, investasi, reksadana, dan trading.. trimksh ya mas

  45. Reza Azharie says:

    saya masih pelajar, bagaimana untuk memulai menjadi trading saham ? saya tertarik dengan ini

    • Satrio Utomo says:

      Bung Reza…

      Trading saham itu perlu modal. Anda harus siap modalnya. Kalau anda tidak siap modalnya, anda tetap bisa belajar dengan menggunakan fasilitas pembelajaran trading yang dimiliki oleh berbagai sekutitas atau lembaga.

Trackbacks
Check out what others are saying...
  1. […] Saya biasanya mensyaratkan setoran awal sebesar Rp 50 juta.  Karena dengan jumlah dibawah itu, keuntungan atau kerugian yang anda sering kali ‘kurang berasa’ terutama kalau anda adalah pemain bluechip seperti […]



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

  • Visit Website of Our Visitors

%d bloggers like this: