Pasar modal yang lebih ‘ramah’…*


Selamat pagi…

Tadi siang… saya bertemu dengan salah satu teman orang tua saya… beliau kebetulan adalah salah satu ‘mantan direktur perdagangan BEI’ di tahun  1990an…

Hehehe… setengahnya … saya ‘diomelin’.

Inti yang saya tangkap tadi adalah:

Tommy… kamu nggak bisa dong merubah pasar sesuai dengan kemauan kamu.

Hehehe… Pasar Indonesia itu… gagal dalam melakukan penjaringan pemodal retail.  Dibandingkan dengan negara tetangga seperti Malaysia yang 12% penduduknya sudah memiliki account pasar modal… dan Singapore yang sudah 60% penduduknya memiliki account pasar modal.. Indonesia masih stuck dengan 0,15%.   Hehehe… IYA!!! 0,15%!!!!

Permasalahannya memang… kalau menurut saya niy….

  1. Masalah penyebaran informasi
  2. Masalah tingkat pendidikan dari sebagian penduduk Indonesia (belum meratanya pendidikan)
  3. Masalah sosialisasi pengetahuan pasar modal
  4. Kecenderungan untuk ‘ngerjain’ mereka yang sudah terlanjur masuk di pasar modal

Terkait dengan masalah 1 – 3 … OJK sebenarnya sudah menyelesaikan melalui program Finansial Literasi yang saat ini sedang berjalan.

Tapi.. kalau urusan yang nomor 4… Saya itu jadi teringat sebuah ‘kalimat keramat’ di restoran Padang:

Kalau hidangan kami enak, tolong beritahukan ke orang lain.  Tapi kalau tidak enak, beritahukan kepada kami

Problem di pasar modal kita adalah: korbannya sudah terlalu banyak… Terlalu banyak orang yang kemudian pulang dengan tangan hampa.  Kalau kekalahan yang terjadi adalah karena ‘resiko pasar’, tentu saja alasannya bisa terjadi.  Dan sebenarnya.. sebagian besar kekalahan… itu terjadi karena pemodal itu sendiri yang terlalu serakah.  Bisa serakah.. bisa karena tidak sadar system… tapi bisa karena pengetahuan yang kurang.  Tapi.. sekarang… kalau itu terjadi karena ada ‘sebagian orang yang membuat system lebih menguntungkan buat sekelompok orang’… lantas.. apakah benar bahwa kekalahan itu adalah salah dari pemodalnya???

Sesuai dengan UU Pasar Modal… Tugas dari BEI dan Bapepam… itu adalah ‘menyelenggarakan pasar modal yang wajar’.  Kalau menurut saya… ini adalah sebuah pasal karet.  Mau dibikin kencang.. atau dibikin kendor.. semua tergantung dari pelaksananya.  Tapi… kalau pelaksananya ternyata ‘tidak berpihak pada kepentingan bangsa’, tidak berpihak pada kepentingan konsumen (baca: pemodal retail), dan hanya berpihak kepada kepentingan orang-orang yang bisa memberikan ‘manfaat’ kepada dirinya sendiri (atau setidaknya kepada dia dan kelompoknya).. ya sudah.. selesailah sudah semuanya.

Hehehe…. Aneh…. orang bingung jumlah pemodal sedikit… padahal jawabannya ada pada dirinya sendiri.

Walah… kok malah jadi curhat.  Gak ngerjain thesis malah bikin tulisan gak jelas seperti ini.  Hahaha…. Maaf ya Prof.  Sudarso… hati saya sedang galau niy…

Happy trading… semoga barokah!!!

Satrio Utomo

 

 

 

 

 

 

Comments
One Response to “Pasar modal yang lebih ‘ramah’…*”
  1. Ekonomi merupakan ilmu sosial yang mempelajari aktivitas manusia yang berhubungan dengan produksi, distribusi, dan konsumsi. Dengan meningkatnya produksi dalam ekonomi maka mempengaruhi perkembangan pasar modal..
    Saya juga mempunyai tulisan yang sejenis mengenai pasar modal yang bisa anda kunjungi di http://www.pasarmodal.blog.gunadarma.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Visit Website of Our Visitors

%d bloggers like this: