Pasar Modal Syariah

??????????

Selamat pagi…

Pasar adalah sebuah tempat pertemuan antara pembeli dan penjual, tempat dimana pihak-pihak yang memiliki permintaan (demand), memiliki kebutuhan dan memiliki uang untuk memenuhi kebutuhan tersebut, bertemu dengan penawaran (supply), pihak-pihak yang memiliki barang atau jasa, atau sesuatu, yang ingin dijual.

Ketika kita berbicara mengenai pasar modal, berarti ‘barang’ yang ingin diperbelijualkan disini adalah berupa ‘modal’.  Modal dalam arti kekayaan finansial, yang bisa digunakan untuk menjaga kelangsungan bisnis.  Terkait dengan pasar modal, maka modal yang diperbelijualkan terbagi menjadi dua, modal yang bersifat kepemilikan, berupa saham, atau modal yang bersifat hutang, yang berupa obligasi.  Kedua instrumen finansial ini, saham dan obligasi, adalah obyek utama dari pertukaran yang terjadi pada sebuah pasar modal.

Pasar Modal Syariah

Pasar modal syariah adalah sebuah pasar modal, dimana perdagangan yang terjadi didalamnya, tidak bertentangan dengan prinsip syariah, prinsip perdagangan yang sesuai dengan hukum Islam.  Kegiatan pasar modal syariah ini menyatu dengan pasar modal konvensional yang ada, hanya peraturan tentang produk dan aturan perdagangannya berbeda.  Kalau meminjam istilah yang terdapat pada website lama Bapepam:

Secara umum kegiatan Pasar Modal Syariah tidak memiliki perbedaan dengan pasar modal konvensional, namun terdapat beberapa karakteristik khusus Pasar Modal Syariah yaitu bahwa produk dan mekanisme transaksi tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip syariah.

Penerapan prinsip syariah di pasar modal tentunya bersumberkan pada Al Quran sebagai sumber hukum tertinggi dan Hadits Nabi Muhammad SAW. Selanjutnya, dari kedua sumber hukum tersebut para ulama melakukan penafsiran yang kemudian disebut ilmu fiqih. Salah satu pembahasan dalam ilmu fiqih adalah pembahasan tentang muamalah, yaitu hubungan diantara sesama manusia terkait perniagaan.

Pasar modal syariah di Indonesia dilaksanakan dengan berdasar pada kaidah fiqih muamalah yang menyatakan bahwa ‘semua boleh, kecuali ada dalil yang mengharamkannya’.  Untuk itu, kita harus mengetahui berbagai hal yang dilarang, ketika kita memutuskan untuk berinvestasi secara syariah.

Emiten Syariah

Ada dua cara dimana suatu Emiten dinyatakan termasuk dalam ketegori emiten syariah.  Yang pertama adalah ketika emiten tersebut menyatakan dirinya sebagai emiten syariah.  Artinya emiten tersebut secara sukarela menyatakan bahwa dirinya tunduk dengan aturan-aturan syariah.  Cara kedua, adalah ketika emiten tersebut masuk dalam kriteria syariah.  Kriteria syariah ini adalah seperti yang terdapat dalam Peraturan OJK no II.K.1 dan juga pada Fatwa Dewan Syariah Nasional – Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI) no. 40/DSN-MUI/2003, yaitu:

a)      tidak melakukan kegiatan usaha yang tergolong sebagai judi, perdagangan yang tidak disertai dengan penyerahan barang dan jasa, jasa keuangan ribawi (seperti bank konvensional dan asuransi konvensional), melakukan produksi, distribusi, dan perdagangan atas barang atau jasa yang zatnya haram dan/atau merusak moral, serta melakukan transaksi suap.

b)      Dari aspek keuangan, emiten tersebut memiliki rasio total hutang berbasis bunga dibandingkan dengan total asset tidak lebih dari 45%, serta total pendapatan non-halal sebanyak maksimum 10%.

Perdagangan Saham Syariah

Perdagangan saham syariah tidak dilakukan secara terpisah dengan perdagangan saham konvensional.  Perdagangan saham syariah dilakukan dalam satu bursa, bersama-sama dengan saham konvensional, yaitu dalam Bursa Efek Indonesia.  Perbedaannya, pada perdagangan saham secara syariah, berlaku beberapa aturan perdagangan yang tidak diperbolehkan secara syariah.  Dalam Fatwa DSN no 80 tahun 2011, dijelaskan bahwa transaksi saham secara syariah harus dilakukan menurut prinsip kehati-hatian serta tidak diperbolehkan melakjukan spekulasi, manipulasi, dan tindakan lain yang didalamnya mengandung unsur dharar, gharar, riba, baisir, risywah, maksiat, dan kezhaliman, tagrir, ghisysy, tanajusy/najsy, ihtikar, bai’ al-ma’dum, talaqqi al-rukban, ghabn, riba, dan tadlis.

  1. Yang tergolong sebagai kategori tadlis adalah front running (transaksi mendahului nasabah) dan penyebaran informasi yang menyesatkan
  2. Yang tergolong sebagai taghrir adalah wash sale (perdagangan semu yang tidak mengubah kepemilikan), serta transaksi yang sudah dirancang.
  3. Yang tergolong sebagai Najsy adalah pump and dump (adanya pihak yang membuat harga bergerak naik harga dengan tujuan ingin melakukan posisi jual dalam jumlah yang sangat besar), hype and dump (semacam pump and dump tapi dengan penyebaran informasi yang berlebihan), serrta menciptakan penawaran dan permintaan palsu.
  4. Yang tergolong sebagai Ikhtikar antara lain adalah pooling of interest (transaksi yang terjadi aktif untuk menarik pihak lain untuk membeli, atau menjadikan saham tersebut sebagai benchmark), dan cornering (mendorong pergerakan harga saham agar pihak lain melakukan transaksi yang merugikan)
  5. Yang tergolong sebagai Ghisysy adalah marking on close (melakukan pembentukan harga penutupan yang tidak wajar), dan alternate trade (perdagangan dimana pembeli dan penjual hanya berputar pada beberapa anggota bursa).
  6. Yang tergolong sebagai ghabn fahisy adalah insider trading (orang-orang yang berusaha memperoleh keuntungan dengan menggunakan informasi yang belum dipublikasikan)
  7. Yang tergolong sebagai ba’i al-ma’dun adalah short selling (menjual saham yang tidak dimiliki)
  8. Yang tergolong sebagai riba adalah transaksi dengan menggunakan pembiayaan (margin trading).

Mengapa harus ada Pasar Modal Syariah?

Investasi saham secara syariah, sebenarnya tergolong salah satu aliran dari investasi berbasis etika yang saat ini tengah berkembang dengan pesat.  Investasi berbasis etika ini menarik minat pelaku pasar, diantaranya disebabkan oleh kemampuan dari investasi ini untuk bertahan ditengah krisis, terutama ketika krisis subprime mortgage beberapa waktu yang lalu (Adamo, 2010), disamping juga memiliki kinerja yang lebih baik, jika dibandingkan dengan investasi konvensional (Peifer, 2010).

Dalam kasusnya di Indonesia, konsep pasar modal syariah ini berkembang, karena otoritas pasar modal (dalam hal ini self regulated organization, yang termasuk didalamnya adalah Otoritas Jasa Keuangan/OJK serta Bursa Efek Indonesia/IDX) ingin ‘memperdalam’ basis pemodal retail Indonesia.  Maklum saja, setelah lebih dari 30 tahun pasar modal Indonesia diperkenalkan kepada masyarakat, jumlah pemodal retail kita, tidak juga beranjak dari angka 0,15 persen dari total jumlah penduduk.  Jumlah ini sangatlah kecil, mengingat pada tahun 2010 lalu, jumlah pemodal retail di Malaysia sudah mencapai 12,5 persen dari jumlah penduduk. Singapura bahkan sudah mencapai 60 persen dari jumlah penduduk.  Dengan jumlah penduduk beragama Islam sebesar 87,18 persen dari total 237 juta jumlah penduduk Indonesia, pengembangan

Realita Pasar Modal Syariah Indonesia = Syariah Setengah Hati

Indonesia adalah sebuah negara hukum. Seseorang atau sesuatu praktek hanya bisa dikatakan sebagai melanggar hukum, apabila sudah terbukti terdapat pelanggaran hukum.  Permasalahan kemudian terjadi, ketika bagaimana jika pihak-pihak yang berkepentingan dalam penegakan hukum ini, kemudian hanya melakukan penegakan hukum dengan setengah hati.  Dalam kasus pasar modal syariah ini, sebenarnya peraturannya sudah jelas: mana yang boleh dan tidak boleh.  Akan tetapi, permasalahannya ada pada penegakan hukumnya.  Permasalahan kriteria syariah misalnya, beberapa kali kejadian dimana saham yang seharusnya tidak lolos dalam kriteria syariah ternyata bisa masuk kedalam Daftar Efek Syariah.  Kalau masalah aturan perdagangan syariah, kondisinya malah jauh lebih memprihatinkan.  Kalau hanya Ghisysy, aturan pembentukan harga penutupan melalui proses ‘pre-closing’ yang saat ini berlaku, jelas amat rawan terjadinya marking on close.  Terlebih lagi kalau sudah alternate trade, saya kira, diluar sana sudah banyak pihak yang bisa membuktikan bahwa transaksi pada saham-saham tertentu, hanya berputar-putar di kalangan broker tertentu saja.  Dalam sebuah ‘penggorengan saham’, praktek-praktek pump and dump, hype and dump, dan creating fake demand/supply adalah sebuah hal yang sering kali ‘sangat jelas terlihat’.  Tapi, karena tidak pernah ada usaha untuk membuktikan, ya sudah… berarti tidak ada pelangggaran hukum… karena tidak ada pelanggaran hukum… berarti semua masih ‘boleh’.  Pelanggaran aturan perdagangan syariah masih sering dilakukan, terutama pada saham-saham syariah yang masuk ke dalam DES karena masuk dalam kriteria syariah DES.

Apa yang bisa kita lakukan?

Pengembangan pasar modal syariah di Indonesia, sebenarnya dilandasi oleh berbagai macam studi yang telah dilakukan oleh Tim Studi Syariah dari Bapepam.  Dalam studi yang dilakukan pada tahun 2004, Tim Studi Syariah Bapepam sebenarnya juga sudah bisa melihat, adanya faktor-faktor yang bisa menghambat perkembangan pasar modal syariah di Indonesia.  Faktor-faktor tersebut adalah: Tingkat pengetahuan dan pemahaman tentang pasar modal syariah, ketersediaan informasi tentang pasar modal syariah, minat pemodal atas efek syariah, kerangka peraturan tentang efek syariah, pola pengawasan oleh lembaga terkait, pra-proses penerbitan efek syariah, dan kelembagaan atau institusi yang mengatur dan mengawasi kegiatan pasar modal syariah di Indonesia.  Setengah dari faktor penghambat tersebut, bisa diselesaikan dengan sosialiasi yang lebih intensif, seperti yang saat ini tengah rajin dilakukan oleh Bursa Efek Indonesia, dan juga oleh Otoritas Jasa Keuangan.  Bursa Efek Indonesia terlihat giat dalam melakukan Sekolah Pasar Modal Syariah, sedangkan OJK juga giat dalam melakukan sosialiasi, terutama yang terkait dengan program peningkatan literasi keuangan.  Akan tetapi, masalah pengawasan penerapan prinsip syariah, sepertinya saat ini bukan menjadi perhatian dari mereka.  Dalam penelitian yang dilakukan oleh Bapepam pada tahun 2011, masalah lembaga yang tugasnya mengawasi penerapan prinsip syariah ini, bahkan sudah hilang dari ‘radar’.  Disinilah sebenarnya, peran kita, pemodal yang berkeinginan untuk melakukan investasi secara syariah ini kemudian dituntut.  Cara yang bisa kita lakukan, diantaranya adalah dengan membuat Daftar Efek Syariah kita sendiri, berdasarkan modifikasi (baca: pengurangan) dari DES yang ada.  Daftar Efek Syariah yang ada dari OJK, memang sudah komprehensif.  Akan tetapi, pemodal sebaiknya melakukan pencoretan sendiri, sesuai dengan kriteria-kriteria yang ditentukan oleh diri anda sendiri.  Misalnya: pemodal bisa saja mencoret saham-saham yang menurut pemodal praktek pengelolaannya tidak sesuai dengan syariah.  Atau bisa saja, pemodal mencoret saham-saham yang menurut pemodal proses perdagangannya tidak sesuai dengan syariah: mencoret saham yang sering masuk UMA, mencoret saham-saham yang sering muncul rekomendasi beli di kolom rumor tapi harganya malah turun terus, dan masih banyak lagi.

Penutup

Posisi saya sebagai Head of Research dari sebuah perusahaan sekuritas konvensional, memang membuat saya ‘belum memungkinkan’ untuk secara total melakukan kampanye terhadap Pasar Modal Syariah.  Akan tetapi, konsep dari pasar modal syariah ini, tetap menarik perhatian saya.  Terlebih lagi, karena konsep pasar modal syariah ini, saya pandang sebagai jalan keluar untuk menghindari jebakan yang terus menganga dari perangkap saham-saham gorengan.  Pemodal juga tidak bisa berharap banyak dari pihak OJK dan BEI, karena mereka juga ditahan oleh kepentingan-kepentingan yang ada pada organisasi mereka.

Lakukanlah investasi syariah sesuai dengan kebutuhan anda, karena setiap individu memiliki pemahaman agama yang berbeda…

Happy trading… semoga barokah!!!

Satrio Utomo

Comments
3 Responses to “Pasar Modal Syariah”
  1. Salam, blognya cukup informatif. Kami perlu beberapa tulisan mengenai pasar modal/ saham syariah. Kalau boleh, kami salin dari Blog Anda. Tentu kami berikan baclkink do follow-nya. Kami juga ada multimedia content di blog kami mengenai saham syariah. Silakan kalau mau dipakai mampir ke http://mysharing.co/tag/pasar-modal-syariah. Looking forward your response…Terima kasih banyak Pak…:D.

  2. Satrio Utomo says:

    Bung Eco…

    Itu sebenarnya itu saya dapat dari kuliah Ust. Gunawan Yasni. Tapi kalau kita lihat dari Fatwa DSN, Bung Eco bisa lihat fatwa no 40.

    – Pasal 13 ayat 3: Perusahaan yang akan menerbitkan efek syariah, wajib menandatangani dan memenuhi ketentuan akad secara syariah –> ini untuk mereka yang yang secara sukarela menjadi emiten syariah karena ingin menerbitkan efek syariah.

    Kalau yang mengenai cara yang kedua, menjadi efek syariah karena sesuai dengan kriteria, kriterianya sendiri ada pada pasal 13 dan 14 dari Fatwa tersebut.

    Wassalam,
    Satrio

Trackbacks
Check out what others are saying...
  1. […] tulisan saya sebelumnya mengenai Pasar Modal Syariah, kita sudah mengetahui bahwa untuk menjadi saham syariah, caranya ada dua: yang pertama adalah […]



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Visit Website of Our Visitors

%d bloggers like this: