Karena @PDI_Perjuangan tidak bisa memenangkan Pemilu Presiden Sendirian…*

140515 Jokowi JK

Selamat pagi…

Pilpres 2014 ini bagi pergerakan IHSG, memang sedikit berbeda dengan pilpres sebelumnya. Kalau biasanya IHSG merespon positif pilpres karena adanya ‘harapan akan perubahan’ atau ‘harapan akan masa depan yang lebih baik’ yang selalu melekat pada siapapun calon pemimpin yang ada, maka pilpres kali ini menjadi berbeda karena market, terlihat ‘lebih suka terhadap satu calon’ dan ‘netral terhadap calon yang lain’.

Kesukaan market terhadap salah satu calon ini, ditunjukkan dengan pergerakan IHSG (dan juga aliran dana asing), yang lebih merespon perkembangan elektabilitas dari salah satu calon presiden, capres.

Market lebih suka pada Jokowi dibandingkan dengan capres yang lain. Market lebih bergerak mengikuti elektabilitas dari Jokowi, dan tidak terlalu perduli terhadap elektabilitas pasangan yang lain.

Beberapa kejadian yang memperlihatkan hal ini:

1. Ketika deklarasi pencalonan Jokowi sebagai Capres oleh PDIP, IHSG yang pada pagi hari cenderung bergerak flat-turun, langsung bergerak naik dan ditutup dengan kenaikan yang signifikan. Dana asing pada pagi hari cenderung net sell, sore hari juga naik lumayan tinggi.

2. Ketika Megawati ‘memaksakan’ calon-calon wakil presiden (cawapres) dari internal PDIP, market cenderung merespon negatif, market bergerak flat-turun. Sebut saja.. ketika Puan, Ryamirzard, dan Rini Suwandi mengemuka.. IHSG cenderung bergerak flat-turun.

3. Ketika Prabowo terlihat mesra dengan Ical, IHSG bergerak naik. Hehehe. Tapi ini bukan karena ‘market suka’, tapi lebih karena ‘market yakin bahwa kalau Prabowo berpasangan dengan Ical, maka Prabowo akan kalah’. Hehehe

4. Ketika deklarasi pasangan PRAHARA (Prabowo-Hatta Rajasa) kemarin, IHSG hanya cenderung flat.

5. Jangan lupa juga bahwa sehari setelah pemilu, IHSG turun tajam. Sebagian orang bilang bahwa koreksi itu karena perolehan suara PDIP yang jauh dari perkiraan. Tapi.. kalau menurut saya siy.. itu lebih disebabkan oleh Jokowi yang pelukan mesra dengan Ical pada sore hari setelah Pemilu Legislatif (pileg).

So.. Pasar bergerak naik turun sesuai dengan elektabilitas atau peluang dari Jokowi.

Sekarang… bagaimana reaksi pasar terhadap Penguman Cawapres dari Jokowi?

Hehehe… sama saja lah.

Kalau Megawati tetap memaksakan calon internal dari PDIP.. ya IHSG bisa langsung lemes.

Hasil pemilu kemarin.. sebenarnya merupakan cerminan dari kekuatan murni dari PDIP. Mereka itu hanya kuat di Jawa. Tapi

Tidak hanya itu.. kegagalan dari Jokowi Effect untu mendongkrak perolehan suara PDIP.. bisa jadi karena nama daripada Jokowi itu.. hanya laku untuk dijual di Internet. Jokowi itu hanya menarik bagi orang-orang yang sudah tahu. Kalau untuk orang di pedesaan, terutama pedesaan luar jawa yang tidak punya akses internet atau punya TV tapi hanya untuk nonton sinetron… mereka mana tahu ‘Jokowi itu makanan apa?’.

Untuk menjadi presiden, Jokowi butuh suara dari ‘pemilih tradisional’ dari NU dan Golkar yang pada pileg kemarin terlihat solid di luar jawa.

PDIP memang harus mau untuk berbagi kekuasaan. Gak bisa kalau dikekepin sendiri.

Eh.. tapi pren.. kalaupun cawapresnya nanti JK, yang tidak lain adalah calon yang paling disukai pasar dan juga calon yang paling make sense karena diterima oleh semua partai yang menjadi anggota koalisi Jokowi.. marketnya juga belum tentu naik kok. Paling nanti ada koreksi Piala Dunia. Belum lagi.. data-data ekonomi negatif yang sudah membanjiri pasar dalam 2 minggu terakhir juga belum direspon. Marketnya memang masih rapuh.

Respon sebenarnya dari siapa cawapres Jokowi ini, nanti baru terlihat pada rally menjelang pilpres, sekitar pertengahan Juni hingga pilpres 9 Juli: kalau cawapresnya JK (atau siapapun juga yang dari eksternal PDIP).. market akan lebih bersemangat. Tapi.. kalau PDIP tetap memaksakan calon dari internal.. ya.. pergerakan IHSG sepertinya bakalan kurang Viagra.

So… pagi ini… Megawati terlihat masih memaksakan nama Puan. Market tentu saja siap untuk memberikan responnya.

Jokowi sudah tahu bahwa dia butuh cawapres eksternal untuk memenangkan Pilpres ini. Megawati (dan PDIP) sebaiknya tahu bahwa mereka tidak bisa memenangkan Pilpres tanpa bantuan dari partai lain.

Megawati sebaiknya fokus untuk menjadikan Jokowi sebagai Presiden.

Puan Maharani? Dicoba dulu nanti di pemilihan Gubernur Bali. Kalau dia bisa terpilih… baru nanti dicalonkan sebagai cawapres Jokowi untuk periode kedua.

PAHAM?

Happy trading… semoga barokah!!!
Satrio Utomo

*disclaimen ON

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Visit Website of Our Visitors

%d bloggers like this: