Prabowo vs Pasar Modal Indonesia: Ada apa?*

140530 Bank Niaga Lama

Selamat pagi…

Minggu pagi kemarin, saya sebenarnya mengawali pagi dengan sedih hati.  Maklum… ketika saya baru saja bangun dan melihat update status dari teman-teman yang ada di Facebook.  Yang ada hanya pujian terhadap capres atau cawapres yang didukung di satu sisi, dan olokan atau bahkan cacian bagi capres atau cawapres pesaing.Tidak ada lagi yang namanya kedamaian di hati.

Pemilu kali ini memang berbeda.  Meluasnya akses internet, telah membuat akses ke media sosial jadi mudah.  Tapi tidak hanya berhenti disitu.   Dukungan media massa kepada salah satu calon, membuat orang menjadi sulit untuk mempercayai media.  Orang kemudian melakukan aksi dengan ‘membuat berita sendiri’ melalui media citizen journalistics.. media seperti blog ini, kompasiana, atau masih banyak lagi yang lain.  Masalahnya, karena tidak ada editorial, tidak ada aturan main, antara kebenaran dan fitnah campur aduk.  Hadeeeh… bukannya informasi yang didapat, tapi malah stress dan rasa marah yang saya dapatkan.

Saya jadi bingung… mau nulis wake up call ini ke arah mana. Mau komentar positif tentang pergerakan pasar secara umum, kok rasanya males juga. Dengan pertumbuhan ekonomi kuartal pertama yang jauh dibawah harapan, (yang akhirnya membuat Bank Indonesia menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi 2014), Piala Dunia dan Puasa yang kian mendekat, rasa-rasanya malah aneh kalau saya memberikan komentar positif tentang market untuk hari ini. Kalau di Wake Up call bulan depan, ketika Pilpres sudah kian mendekat, nah itu sepertinya tidak akan menjadi permasalahan, tapi kalau sekarang, kok rasanya seperti masuk angin. Padahal, aliran dana asing, setidaknya hingga hari Jumat 23 Mei 2014 kemarin, masih terus mengalir masuk ke Bursa Efek Indonesia. Sentimen pemilu terlihat jauh lebih dominan dominan, lebih dominan dibandingkan dengan sentimen fundamental emiten maupun sentimen dari data-data ekonomi.

(tulisan ini memang adalah untuk edisi Wake Up Call Kontan, hari Senin, 26 Mei 2014 kemarin).

Pergerakan IHSG yang Memihak

Pasar modal kita itu memang tidak netral.  Bukan masalah suka atau tidak suka  .Tapi karena masalah ‘harga saham saat ini, adalah nilai sekarang dari kondisi masa yang akan datang’.   Kalau kondisi mendatangnya diperkirakan akan jauh lebih bagus daripada kondisi saat ini, maka harga akan bergerak naik. Kalau ada sesuatu yang ‘baru’, yang diluar perkiraan, maka adalah wajar ketika harga bergerak tidak biasa. Tapi, kalau kondisi masa yang akan datang masih sesuai dengan perkiraan, maka IHSG hanya bergerak biasa-biasa saja.

Biasanya, pada pemilihan presiden sebelumnya tahun-tahun sebelunya, IHSG akan bergerak naik. IHSG akan bergerak naik, karena adanya harapan baru dari pemimpin yang baru.  Harapan bahwa pertumbuhan ekonomi ditangan presiden yang baru akan lebih tinggi dibandingkan apa yang ada saat ini, sering kali telah mengangkat angka IHSG, bergerak ke level yang lebih tinggi.  Akan tetapi, baru pada pemilu 2014 ini saja, IHSG beraksi berlebihan kepada salah satu calon presiden, dibandingkan dengan calon presiden yang lain.   Deklarasi Joko Widodo (Jokowi) telah membuat IHSG bergerak naik lebih dari 3% dalam satu hari. Terlebih lagi, aliran dana asing di pasar regular yang pada pagi hari masih dalam posisi net sell, tiba-tiba juga berbalik menjadi net buy, dalam jumlah yang sangat signifikan, keduanya telah memperlihatkan bahwa pasar memang lebih mendukung Jokowi.  Meminjam pernyataan Anies Baswedan: Jokowi memang menawarkan sesuatu pendekatan yang baru.  Prabowo masih saja menawarkan yang lama, dengan merekrut kekuatan-kekuatan lama yang bermasalah.  Ini yang kemudian membuat pasar merasa yakin, bahwa pertumbuhan ekonomi.. kalau ditangan Jokowi.. bakal lebih baik dari autopilot mode yang sudah kita rasakan selama 10 tahun terakhir.

Karena pergerakan IHSG ini terlihat memihak, maka tidaklah terlalu mengherankan, jika calon presiden yang merasa kurang diuntungkan, dalam hal ini Prabowo, kemudian memberikan komentar-komentar negatif tentang investasi saham: sebelum pemilu legislatif, Prabowo sempat melarang petani berinvestasi saham. Sebenarnya, kalau kita bicara mengenai buruh tani berpendidikan rendah serta tabungan yang minim, spekulasi pada instrument saham, memang masih terlalu jauh dari jangkauan mereka. Akan tetapi, ketika minggu lalu Prabowo mengkritisi para pendidik dari Universitas Indonesia yang lebih mengajarkan bermain saham dibandingkan dengan ekonomi pembangunan, di kepala saya kemudian malah muncul: ada apa ini antara Prabowo terhadap bursa saham? Apakah beliau memang tidak suka?Apakah ada trauma-trauma khusus yang membuat Prabowo tidak suka terhadap Bursa Saham?

Melihat kebelakang, Trauma Hasyim ketika Krismon

Saya jadi melihat kebelakang, ketilka Krisis Moneter (Krismon) sedang terjadi.Hasyim S. Djojohadikusumo yang merupakan adik dari Prabowo, ketika itu, dua minggu sebelum Krismon, membeli saham Bank Niaga dari Julius Tahija dengan harga Rp 8000 per lembar saham. Jumlah itu adalah setara dengan US$3.3 per lembar saham pada kurs Rp 2.425 per US$ yang berlaku saat transaksi tersebut berlangsung. Krismon kemudian terjadi, dan Rupiah meluncur hingga mencapai titik tertinggi di Rp 16.000 per US$.Hasyim akhirnya terpaksa melepas Bank Niaga dengan harga hanya sebesar Rp 250 pada bulan April 1999, ketika US$ sedang pada kurs Rp 8.500.Beli dengan harga 3 dollar, dan jual dengan harga 3 sen, tentu saja sebuah pengalaman yang sangat menyakitkan.

Kalau melihat data pergerakan harga Bank Niaga (BNGA) pada tahun 1997 – 1999 yang kami peroleh dari rekan Angelo Michel, pergerakan harga BNGA ketika itu memang benar-benar mengenaskan.Terlebih karena di awal tahun 1997, harga saham Bank Niaga sebenarnya masih di harga Rp 5.500.Aksi akuisisi oleh Hasyim, telah membuat BNGA melesat hingga Rp 8.000.Krismon kemudian terjadi, harga BNGA kemudian jatuh dalam waktu singkat hingga Rp 400.BNGA akhirnya dilepas Hasyim pada bulan April 1999 pada harga Rp 250.

140526 BNGA ketika Krismon

Akan tetapi, Krismon tidak sepenuhnya tidak sepenuhnya memberikan memori negatif kepada Hasyim.  Ketika dalam pelarian di tahun 1997, Hasyim bersama sebuah grup investor dari Canada, membeli ladang minyak di Kazakhstan senilai US$ 88 juta. Pada tahun 2007, ladang minyak Karazhanbas ini berhasil dijual dengan nilai US$1,9 miliar. Sebuah ‘come back’ yang sangat brilian.  Meski kemudian… muncul juga pertanyaan di kepala saya: Benarkah Hasyim melakukan come back dari sektor riil? Bukannya investasi Hasyim keuntungannya berlipat karena kenaikan dari harga minyak? Benarkah investasi macam ini termasuk investasi di sektor riil?

Ekonomi Kerakyatan, benarkah lawan dari Pasar Modal?

Sebenarnya, platform ekonomi yang diusung oleh Prabowo maupun Jokowi, sebenarnya masih tetap sama: ekonomi kerakyatan. Ekonomi kerakyatan ini adalah sebuah paham ekonomi campuran, yang bukan merupakan poros perdagangan bebas dimana free fight liberalism terjadi, dan bukan pula dalam poros ekonomi sosialis yang sudah terbukti gagal di berbagai negara Eropa Timur.  Perekonomian dimana aktifitas ekonomi rakyat, dalam hal ini Usaha Kecil dan Menengah yang terutama meliputi sektor pertaniam peternakan, kerajinan, makanan, dsb, memiliki peran sentral.

Ekonomi kerakyatan ini, kemudian bertabrakan dengan pasar modal, yang kesannya memang kapitalistis: siapa kuat, dia yang menang. Ketika dalam RUPS, pemegang saham mayoritas yang memiliki sebagian besar dari perseroan, akan beradu kuat dengan pemegang saham minoritas yang tidak lain adalah investor publik. Kelihatannya memang menakutkan. Tapi, kita juga tidak boleh lupa, bahwa hak-hak dari pemegang saham minoritas juga dilindungi.  Memang sih..sekarang perlindungan atas hak-hak dari pemegang saham minoritas terasa masih buruk.  Penggorengan saham-saham yang dilakukan oleh sejumlah oknum.. memang masih cenderung membuat pemodal minoritas menjadi ‘santapan’ bagi para kapitalis ini.  Akan tetapi, apakah itu kemudian kita harus memusnahkan ‘pasar modal’-nya? Tentu saja tidak.

Memahami Jokowi Effect

Jokowi Effect memang sebuah fenomena.Jokowi Effect yang pertama, ketika deklarasi, reaksinya memang positif.Jokowi effect yang kedua, ketika pengumuman pemilu legislatif, memang negatif.Di satu sisi, koreksi itu itu sepertinya lebih karena Jokowi bermesraan dengan Aburizal Bakrie, tidak lama ketika pengumuman hasil Pileg.Pasar sepertinya takut bahwa Jokowi bakal menjadikan Aburizal sebagai calon wapresnya.IHSG juga berangsur-angsur naik ketika terdapat kepastian bahwa Aburizal bukan cawapres dari Jokowi.Pada Jokowi ketiga, cawapres yang dipilih oleh Jokowi memang cawapres yang diinginkan oleh pasar.Tapi, karena pasar juga melihat bahwa perjuangan kedepan untuk Jokowi terlihat cukup berat, orang akhirnya melakukan profit taking.Tapi, profit taking itu berlangsung tidak lama. Tiga hari perdagangan terakhir, IHSG memang belum mampu kembali ke atas level psikologis 5000.

Penutup

Orang itu.. kalau benci bursa saham.. itu biasanya karena dua hal:  Karena tidak tahu, atau karena sudah mencoba tapi kalah dalam jumlah besar.  Atau… apakah ada jenis lagi yang lain?

Mengenai bahasan tentang arah IHSG kedepan?   Ya seperti yang saya bilang tadi: masih masuk angin. Selama aliran dana asing masih terus merangsek masuk, IHSG masih akan terus bergerak naik. Akan tetapi, karena kondisi fundamental sedang tidak kondusif, yah..ngeri-ngeri nikmat begitu deh.

Yang penting, kalau market turun, pemodal bisa melakukan akumulasi. Sentimen positif dari pemilu, sepertinya masih akan berlanjut setidaknya hingga pilpres nanti.

Pasar modal kita sudah sedemikian besar.Jumlah dari Investor Pasar Modal sudah melewati angka 500.000 orang.Padahal, itu belum termasuk pemegang reksadana, belum juga termasuk orang-orang yang terlibat dalam industri pasar modal sebagai karyawan, pemilik perusahaan, maupun media-media yang melakukan coverage terhadap pasar modal. Pasar modal itu mewakili jumlah massa yang tidak sedikit. Saya tidak tahu, siapa yang memulai.Tapi, kampanye berbasis kebencian yang sekarang marak dilakukan, memang sudah terasa mulai mengganggu.Semoga saja ada yang bisa berbuat sesuatu. Atau..sebaiknya.. saya tidak lihat FB dulu selama beberapa waktu?

Hm..untuk para analis atau trader berbasis analisis teknikal, sebenarnya mudah: kembali lihat chart saja, berhenti melihat berita sementara waktu. Itu sebabnya.. saat ini saya sedang menunggu IHSG dibawah 4850 lagi baru saya mau belanja.  Kira-kira.. dikasi enggak ya?

Happy trading… semoga barokah!!!

Satrio Utomo

*bacalah halaman disclaimer sebelum anda melakukan posisi beli atau posisi jual setelah anda membaca ulasan ini.  Terima kasih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Visit Website of Our Visitors

%d bloggers like this: