Menitipkan Mimpi ‘Pasar Modal yang Berkerakyatan’ kepada @Prabowo08 dan @Jokowi_do2

140619 Pasar Tradisional - cahya-yudistira

Selamat pagi…

Pasar modal itu… adalah sebuah icon dari sistem ekonomi kapitalis. Didalam pasar modal, perusahaan yang telah memecah kepemilikannya pada satuan kepemilikan yang kecil, cukup kecil untuk diperjual belikan pada publik, kemudian menjual kepemilikannya kepada investor, mereka yang memiliki penguasaan atas kapital. Dengan menjual kepemilikan publik ini, Keputusan-keputusan penting dibuat melalui Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) dimana keputusan dibuat berdasarkan suara terbanyak. Kesannya: siapa kuat dia akan menang. Siapa kuat, maka dia akan mampu untuk memaksakan kehendak dalam RUPS. Siapa pemilik kapital terkuat, dia yang akan menjadi pemenang.

Konsep ini, tentu saja tidak sesuai dengan konsep ekonomi kerakyatan yang saat ini kembali populer karena diusung oleh kedua capres yang saat ini tengah bertanding dalam Pilpres 2014, Prabowo Subianto dan Joko Widodo. Mereka berdua

Apakah Ekonomi Kerakyatan itu?

Revrisond Baswir menjelaskan Ekonomi Kerakyatan sebagai berikut:

Ekonomi kerakyatan adalah sebuah sistem perekonomian yang ditujukan untuk mewujudkan kedaulatan rakyat dalam bidang ekonomi. Tiga prinsip dasar ekonomi kerakyatan adalah sebagai berikut: (1) perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas azas kekeluargaan; (2) cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara; dan (3) bumi, air, dan segala kekayaan yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

Terlebih jauh, Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan UGM, berusaha menjelaskan ekonomi kerakyatan (Demokrasi Ekonomi) sebagai suatu sistem perekonomian nasional yang disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan, di mana produksi dikerjakan oleh semua, untuk semua, di bawah pimpinan atau penilikan anggota-anggota masyarakat. Tujuannya dari penyelenggaraan demokrasi ekonomi ini adalah untuk meningkatkan kemampuan masyarakat dalam mengendalikan jalannya roda perekonomian, dengan sasaran pokok tersedianya lapangan kerja, pendidikan gratis (murah), pemerataan modal material, jaminan sosial bagi penduduk miskin, dan pemberdayaan serikat-serikat ekonomi (koperasi).

Dalam pelaksanaannya, pelaksanaan ekonomi kerakyatan ini kemudian lebih berkutat pada perekonomian berbasis rakyat kecil, pembentukan pasar, dan produksi. Perekonomian berskala kecil. Padahal, dalam realitanya, kita juga tidak bisa memungkiri bahwa dalam ekonomi kerakyatan, cepat atau lambat, akan tercipta pihak-pihak yang kemudian berhasil menjadi besar.   Koperasi-koperasi dengan aset diatas Rp 1 trilyun misalnya, yang saat ini sudah mulai sering kita temui, adalah contoh dari ‘raksasa’ yang timbul dari ekonomi kerakyatan ini. Artinya: kita sebenarnya juga tidak bisa mengesampingkan pembicaraan mengenai ‘perekonomian orang besar’ ditengah ‘pembahasan perekonomian orang kecil’ yang menjadi konteks pembicaraan dalam ekonomi kerakyatan.

Pasar Modal sebagai Jembatan

Pasar modal adalah sebuah icon dari kapitalisme. Siapa kuat, dia yang akan menang. Akan tetapi, pasar modal itu tidak selamanya ‘berasa’ kapitalistik. Pasar modal itu, sebenarnya juga bisa didesain untuk menjadi pendukung dari keberhasilan dari tercapainya kemakmuran rakyat melalui ekonomi kerakyatan ini. Ada beberapa hal yang bisa ditawarkan oleh pasar modal untuk melengkapi konsep ekonomi kerakyatan yang kita anut:

  1. Pasar modal menawarkan transparansi dan pemerataan.

Kita tidak bisa pungkiri bahwa Pemerintah dan BUMN agak sedikit lamban dalam memanfaatkan kekayaan alam yang kita miliki. Menunggu kalangan swasta dalam negeri juga sepertinya juga sulit mengingat eksplorasi dan eksploitasi komoditas mineral dan energy, itu selalu membutuhkan modal yang tidak sedikit. Itu sebabnya, Pemerintah kemudian mengundang perusahaan pertambangan internasional sekelas Chevron, BP, Freeport, atau Newmont, untuk melakukan kegiatan eksplorasi dan juga penambangan atas komoditas mineral dan energy yang ada di bumi kita ini. Meskipun, setelah itu, Pemerintah kemudian menciptakan mekanisme agar sebagian kepemilikan dari perusahaan tersebut, kemudian dimiliki oleh Pemerintah ataupun juga swasta lokal. Problemnya: dalam pelaksanaannya, yang terjadi pada masa lalu adalah munculnya bentuk-bentuk dari kapitalisme pribumi. Kapitalisme pribumi ini adalah beberapa gelintir orang atau pihak, yang cukup beruntung untuk ‘diberi saham gratis’ oleh perusahaan-perusahaan asing, demi tercapainya target dari kepemilikan lokal, dan untuk membantu kepentingan dari perusahaan – perusahaan asing tersebut. Hasilnya tentu saja jelas: tidak ada pemerataan, tidak ada transparansi.

Pasar modal adalah solusinya. Dengan memaksakan untuk menjual saham kepada publik, disamping juga menjual saham kepada Pemerintah, maka akan tercapai pengelolaan sumber daya yang lebih transparan. Selain itu, aspek pemerataan juga tercapai, karena dalam sebuah perusahaan terbuka, jumlah pemegang saham perorangan, akan menjadi lebih banyak.   Menjual saham kepada publik, juga menciptakan peluang bagi ‘wong cilik’ untuk ikut merasakan kepemilikan serta manfaat pendapatan, dari perusahahaan-perusahaan yang menguasai harkat hidup orang banyak.

  1. Pasar modal menawarkan bargain power yang lebih baik untuk pemegang saham minoritas

Dalam sebuah perusahaan terbuka, persetujuan atas hal-hal yang sifatnya penting dan material, harus dilakukan dalam sebuah Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Dalam RUPS ini, suatu keputusan bisa diambil apabila rapat sudah kuorum, sudah dihadiri oleh sejumlah tertentu dari pemegang saham. Selain itu, keputusan juga hanya bisa diambil, jika disetujui oleh jumlah tertentu dari pemegang saham. Dari sini sebenarnya bisa diatur, agar sebuah keputusan yang penting, harus disetujui oleh porsi yang besar dari pemodal saham minoritas. Ini membuka peluang bagi ‘rakyat’, untuk memiliki bargain power yang lebih tinggi, untuk mengatur sebuah perusahaan besar. Menjadi perusahaan terbuka, adalah sebuah cara pengelolaan sebuah perseroan, bisa menjadi lebih demokratis.

  1. Pasar modal menawarkan distribusi pendapatan atas atas penguasaan kekayaan alam atau cabang produksi yang menguasai hidup orang banyak, melalui deviden.

Pasti lah… kalau bagi deviden, setiap pemegang saham akan mendapatkan manfaatnya.

  1. Pasar modal menawarkan kontrol masyarakat terhadap perseroan.

Ingat kasus Ibu Risma vs Unilever beberapa waktu yang lalu? Sadarkah anda bahwa setelah itu harga UNVR secara berangsur-angsur turun hingga lebih dari 15%? Tujuan dari eksistensi sebuah perusahaan terbuka, adalah optimalisasi nilai dari saham perseroan. Dengan menjadi perusahaan terbuka, maka manajemen pada perusahaan tersebut, akan dipaksa untuk lebih memahami nilai-nilai positif yang ada pada masyarakat, agar harga sahamnya juga bisa terus bergerak naik.

  1. Pasar modal menawarkan akses dana murah bagi pengusaha kecil-menengah.

Dalam peraturan perdagangan Kep 00001/BEI/01-2014 disebutkan dengan jelas bahwa Aset Berwujud Bersih minimal yang harus dimiliki oleh sebuah perusahaan yang bisa masuk ke papan pengembangan, adalah sebesar Rp 5 miliar. Memang, perusahaan kelas mikro memang tidak mungkin masuk ke bursa. Realitanya juga, perusahaan underwriter juga cenderung enggan untuk melakukan IPO bagi perusahaan yang kapitalisasi pasarnya dibawah Rp 500 miliar. Akan tetapi, peraturan yang ada sebenarnya juga sudah memungkinkan bagi pelaku perekonomian kerakyatan kelas ‘yang agak lebih besar sedikit’, untuk memperoleh dana segar dari pasar modal. Meskipun, mekanismenya sebenarnya juga masih belum tersedia secara jelas.

 

Akan tetapi….

Pada realitanya, tentu saja tidak seindah ‘warna asli’-nya. Masalah, tentu saja masih banyak. Keengganan dari pemegang saham minoritas untuk menghadiri RUPS, pemegang saham mayoritas yang masih mengendalikan RUPS dengan cara-cara yang ‘legal’ (dalam tanda kutip), kurangnya perlindungan bagi pemodal kecil atau retail, pengelola perusahaan yang kurang memiliki itikad baik dalam mengelola perseoran, goreng-menggoreng saham, dan masih bank lagi masalah yang lain. Solusinya, bisa saja sulit, tapi sisa saja semudah apa yang Jokowi sempat bilang: Tinggal panggil programmer saja.. 2 minggu pasti kelar.

Tapi inti sebenarnya adalah: pasar modal itu, adalah sebuah alat dari perekonomian, yang sebenarnya juga bisa digunakan untuk mensukseskan perekonomian berbasis kerakyatan. Tinggal bagaimana kita bisa mewujudkan mimpi kita tersebut, agar bisa menjadi kenyataan.

Semua tergantung ‘The Man behind The Gun’-nya.

So.. saya titipkan ‘mimpi pasar modal yang lebih berkerakyatan’ ini kepada siapapun juga yang memimpin Indonesia dengan harapan, agar Pasar Modal Indonesia bisa lebih bermanfaat bagi masyarakat Indonesia, dalam jumlah yang lebih besar.

Happy trading… semoga barokah!!!

Satrio Utomo

Comments
3 Responses to “Menitipkan Mimpi ‘Pasar Modal yang Berkerakyatan’ kepada @Prabowo08 dan @Jokowi_do2”
  1. Mantaap Tom, tulisanmu iki.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Visit Website of Our Visitors

%d bloggers like this: