Alhamdulillah… Ternyata Mas @Jokowi_do2 masih pingin jadi #RI1 …

140627 jokowi-jk juga

Selamat pagi…

Hari-hari ini…. ketika Pilpres sudah semakin dekat … saya sebenarnya sedang tidak terlalu happy.   Sedih karena faktor kunci yang bisa ‘memastikan kemenangan Jokowi’ hingga beberapa waktu yang lalu… memang masih terasa gelap.  Hari-hari ini terutama.  Feeling bahwa Prabowo akan menang.. benar-benar membuat saya males untuk positoning.  Maklum… Saya termasuk yang percaya bahwa Jokowi = Buy dan Prabowo = Sell.  Belakangan, banyaknya signal negatif pada saham-saham lapis pertama, memang membuat saya menjadi sedikit galau.  Prabowo bisa menang… Prabowo bisa menang.. itu yang menjadi sugesti di kepala saya.. yang membuat saya males untuk positioning.

Prabowo bisa menang jika….

Prabowo itu… hanya bisa menang jika dia bisa membawa issue utama pada issue agama

Bukan masalah Muslim vs Non-Muslim sebenarnya.  Tapi.. kalau menurut saya, itu lebih antara Islam yang ‘mainstream’ vs Islan yang ‘tidak mainstream’.  Antara aliran Islam Sunni atau Ahlus Sunnah wal Jamaah yang dipeluk oleh sebagian besar umat Islam di Indonesia, dengan Islam yang hanya dipeluk oleh sebagian kecil umat Islam di Indonesia, seperti Islam Syiah, Ahmadiyah, Islam Liberal, dan lain sebagainya.

Nggak usah sejauh itu deh.  Wakil presiden dari Prabowo, adalah Hatta Rajasa yang berasal dari PAN, yang tidak lain adalah partai yang berbasis Muhammadiyah.  Untuk membuat warga NU, yang jumlahnya sangat besar di Indonesia, memilih seorang pemimpin yang berasal dari Muhammadiyah, tentu saja sangat tidak sulit (kalau tidak mau dibilang tidak mungkin).  Itulah sebabnya, issue yang diangkat, haruslah issue agama.  Amien Rais tentu sudah sadar akan permasalahan ini semenjak awal.  Itu sebabnya Amien Rais mengibaratkan pemilu ini, seperti Perang Badar, perang antara ummat Islam melawan orang kafir.

Kita lihat saja realita yang ada:

  • Platform ekonomi yang diusung Prabowo… adalah platform Ekonomi Kerakyatan… sama saja dengan platform ekonomi dari Jokowi.
  • Prabowo sudah terlanjur mencitrakan bahwa beliau akan meneruskan program ekonomi SBY.
  • Pemberantasan korupsinya bakalan tebang pilih.
  • Bagi-bagi kekuasaan yang bikin pemerintahan lemah karena partai koalisinya, isinya adalah muka lama yang sudah jelas track recordnya
  • Preman masih akan berkuasa karena malah ‘dibina’

Artinya…. kondisi ekonomi kita jika Prabowo terpilih menjadi Presiden… juga tidak akan jauh-jauh dengan apa yang kita rasakan dalam 10 tahun terakhir: bagus… tapi pemerintah tersandera oleh issue-issue politik balas budi, DPR yang terlalu berkuasa padahal korup, anggaran yang terus terbebani oleh Subsidi BBM, dan masih banyak lagi hal-hal yang lain.

Ini karena Prabowo tidak memiliki pendekatan yang innovatif… dalam memperbaiki perekonomian rakyat, dan juga mengelola sebuah bangsa.  Ekonomi lama dengan Presiden yang bisa melempar HP itu adalah yang ditawarkan oleh seorang Prabowo Subiyanto.

Plus… Masih ada bonus niy kalau Prabowo menang:

Adanya krisis ekonomi jangka pendek (bisa jadi krisis jangka menengah sampai 1 – 3 tahun juga siy) akibat pergolakan dari arus dana asing.

Bukan salah Prabowo seorang siy…  Sebagian besar memang masih kesalahan SBY yang tidak berani menaikkan harga BBM yang jelas-jelas menjadi beban anggaran dan juga nilai tukar.   Prabowo hanya akan ‘memperburuk keadaan’ sehingga kita bisa saja menghadapi ‘mini (atau bahkan medium) krisis’.

Jadi… memilih Prabowo-Hatta dalam pilpres nanti… itu tidak ada daya tariknya buat saya.

Prabowo bisa menang, kalau ‘konflik’ dalam pemilu ini, bisa dikerucutkan menjadi issue agama.  Itu yang membuat Amien Rais semenjak awal, sudah mengangkat masalah ‘Perang Badar’.

Disisi lain….

Partai pengusung Jokowi… adalah dari PDIP.  PDIP itu… yah… gimana sih ya… perilaku kadernya itu.. suka aneh-aneh.  Kader yang aneh-aneh ini… sering kali adalah mereka-mereka yang dari golongan Islam Liberal.  Mereka ini… sebenarnya adalah aktifis Islam yang sudah tidak diterima oleh partai-partai Islam yang ada.  Perilaku dari kader ini, sering kali harus memaksa Jokowi untuk turun ke bawah, meralat ucapan serta perilaku yang sudah terlanjur dikeluarkan atau diperlihatkan oleh kader-kader ini. Seperti misalnya:

Issue-issue yang ‘tidak mainstream’ … issue-issue yang lebih banyak penentangnya dibandingkan dengan pendukungnya.

Yang paling berat… adalah masalah bahwa Menteri Agama bakal berasal dari Syiah, dari kalangan Islam minoritas.  Masalah ini bahkan menjadi berlarut-larut mengingat kebijakan Jokowi-JK yang tidak mengumumkan siapa calon menteri mereka, malah  membuat konflik ini menjadi semakin memburuk.  Kalau kita lihat runtun ceritanya…

  1. Kader PDIP bilang bahwa Menteri Agama bakal dari kalangan Syiah
  2. Muhaimin menyatakan bahwa Menteri Agama bakal dari kalangan NU
  3. Jokowi bantah pernyataan Muhaimin

 

 

Jokowi memang saat itu belum menyatakan secara terbuka bahwa menteri Agama dari kalangan Syiah.  Akan tetapi… Karena semenjak awal kelompok Prabowo sudah mulai menghembuskan issue ke-Islam-an Jokowi dan Jokowi hanya menjawab bahwa Islamnya adalah Islam yang ‘rohmatan lil alamin‘, sebuah ucapan ‘open ended’ yang bisa diartikan sebagai Islam Liberal ataupun Islam-Islam yang lainnya juga, maka krisis ini semakin memanas.

Anda lihat status-status FB atau Twitter dari teman-teman anda yang menjadi pendukung Prabowo deh.  Kalau statusnya sudah berasa ‘Islam Garis Keras’ padahal sehari-harinya mereka adalah umat Islam yang biasa-biasa saja, maka sudah dipastikan bahwa mereka itu, hanya mendukung Prabowo karena masalah issue Agama tersebut.

Muhaimin Iskandar, sebenarnya juga tidak tinggal diam.  Muhaimin bahkan tetap yakin 1000% bahwa Menteri Agama bukan dari golongan Syiah,  melalui statement sebagai berikut:

“Saya sudah sampaikan kepada para kiai Jawa Timur yang saya kumpulkan, bahwa saya jamin seribu persen tidak mungkin Presiden Indonesia, apalagi Pak Jokowi menunjuk menteri agama dari syiah, saya akan kawal itu,”  (Muhaimin Iskandar)

Tapi… itu semua tidak menolong.  Perpecahan semakin meruncing.  Prabowo yang paling menikmati hal ini mengingat perpecahan ini bisa semakin meningkatkan elektabilitasnya.

Coba anda bayangkan deh…. Kalau pendukung Prabowo pada hari-H Pilpres, tiba-tiba memasang spanduk dengan tulisan :

Bung… Anda itu Islam atau Murtad?

Ingat loh… Pemilu nanti itu, dilakukan pada saat bulan Ramadhan.  Bulan suci umat Islam.  Bulan dimana umat Islam menjalankan Ibadah Puasa.  Ketika bulan Ramadhan ini, orang yang gak pernah kelihatan di Masjid, bisa nongol setiap hari di Masjid.  Orang Islam sedang Islam-Islamnya deh…

Kalau dalam bulan seperti ini, seorang Islam diberi pilihan dukung Prabowo = Islam (karena Prabowo dianggap didukung oleh Kyai) dan dukung Jokowi = Murtad (karena sebagian umat Islam menganggap bahwa Islam minoritas yang ada di belakang Jokowi sebagai murtad/keluar dari agama Islam), maka sudah barang tentu mereka akan pilih Prabowo (anda bayanginnya pada Islam .

So… memilih Jokowi karena program ekonominya seperti apa yang saya lakukan, sebenarnya adalah sebuah pilihan yang sangat berat.  Bikin sakit hati deh pokoknya.  Lihat saja kemarin waktu saya posting tulisan saya di Grup Kontan… langsung ada orang yang meng-Kafir-kan saya… meski hanya secara ‘tersirat’.   Hehehe…

Sampai akhirnya….

Jokowi menyatakan bahwa Menteri Agama nanti, berasal dari Ahlus Sunnah Wal Jama’ah 

Ahlus Sunnah wal Jama’ah itu.. sebenarnya juga masih bisa kemana-mana.  Bisa NU, Muhammadiah,  Salafi, atau bahkan Wahabi.    Tapi bagi saya… ini adalah kado terbaik menjelang bulan Puasa ini.  Karena.. pernyataan itu setidaknya. sudah menetralisir issue, bahwa menteri agama Jokowi, bakal berasal dari Syiah atau Ahmadiyyah.

Lega = Hati menjadi ringan = Berharap Rally Pilpres segera dimulai

Pernyataan Jokowi tadi,  yang membuat saya agak lega hari ini.   Mendukung Jokowi tidak lagi menjadi sebuah ‘cobaan yang berat’ bagi hidup saya.   Hati menjadi lebih ringan.  Saya juga menjadi yakin, bahwa kedepan, persaingan hanya tinggal masalah program ekonomi.

Itu sebabnya juga… yang sepertinya membuat pemodal lokal… kemarin juga sudah mulai positioning.  IHSG kemarin berhasil ditutup diatas resisten pertama di 4868.  Asing masih net sell, tapi sudah mulau menurun.  Jadi.. untuk hari ini.. kita tinggal menunggu asingnya ini.  Kalau hari ini mereka ikutan positioning juga, dan IHSG berhasil menembus resisten 4875.. ya berarti Rally Pilpres sudah dimulai.  Atau.. setidaknya.. kalaupun IHSG masih mau ngejar 4750 – 4800 lagi… belanjanya juga lebih pede.

Sekarang tinggal.. bagaimana Jokowi bisa melakukan recovery atas issue ‘Menteri Agama Syiah’ yang sudah menerornya dalam beberapa minggu terakhir.

Semoga Pemilu ini bisa berakhir sesuai harapan.

Marhaban Yaa Ramadhan… Selamat datang bulan Ramadhan yang penuh barokah… Semoga Ramadhan ini Alloh memberikan kita pemimpin yang terbaik, yang tidak perlu pake krisis ekonomi kecil… dan tidak perlu pake IHSG 4000.

Happy trading… semoga barokah!!!

Satrio Utomo

*disclaimer ON

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Visit Website of Our Visitors

%d bloggers like this: