Katanya Saham Syariah… Tapi kok gorengan juga ya? (Part 3)


Selamat pagi…

Yang jelas… rangkaian tulisan ini bukan saya maksudkan untuk melarang orang yang beragama Islam untuk berinvestasi saham.  Tujuannya memang, agar umat Islam atau siapa saja yang ingin berinvestasi anda, terlepas dari apapun agama anda, lebih berhati-hati dalam berinvestasi, sehingga tidak terjerumus oleh permainan dari sebagian orang, yang memang lebih ‘kreatif’ dalam mensikapi celah-celah yang ada.

Sebelum menginjak mengenai solusi apa yang bisa kita lakukan untuk mengurangi kemungkinan kita untuk terjebak dalam permainan ini, mari kita lihat.. fenomena seperti apa sih.. yang biasa kita lihat pada saham syariah yang mengalami ‘penggorengan’ saham ini?

Pertama-tama, kita harus membagi siklus dari penggorengan saham ini, ke dalam 5 fase: Titik awal, Kenaikan saham ketika PUMP terjadi sampai saham terkena UMA, Titik Puncak, Koreksi yang terjadi ketika DUMP, dan titik akhir.

Titik Awal

Pada titik awal, saya mendapati bahwa saham syariah yang menggalami penggorengan ini, sebagian besar adalah saham syariah yang berada pada kisaran harga Rp 50 – 250.   Secara umum, penggorengan saham itu, memang identik dengan saham-saham berkapitalisasi kecil, dengan likuiditas yang kurang.  Ini sebabnya, sebagian besar dari saham gorengan (yang kebetulan saham syariah), korbannya adalah saham-saham yang harganya dibawah Rp 250.

The Pump

Saham syariah tersebut kemudian terkena UMA.  Sebagian besar UMA ini terjadi, pada saham syariah yang mengalami kenaikan 87.5% dalam satu setengah minggu (11 hari biasa.. bukan 11 hari bursa).  Jadi .  Hehehe.  Memang serem-serem nikmat kalau saham gorengan itu.  Returnnya sangat tinggi, dalam waktu yang sangat singkat.   Terkait dengan The PUMP ini, pemodal sebaiknya melihat posisi terakhir dari saham tersebut, terhadap siklus dari The PUMP ini.  Kalau harga saham sudah naik lebih dari 50% dalam seminggu, sebaiknya jangan dilihatin.  Posisi beli pada saham-saham yang sudah naik ketinggian dan terlalu cepat, itu unsur spekulasinya memang lebih lekat.    Pemodal sebaiknya mengambil posisi-posisi aman dan tidak terburu nafsu.

The Peak, The Dump, and The Ending Point

Untuk mensikapi The Peak, titik puncak dari pola pergerakan harga Pump and Dump ini, pemodal sebaiknya melihat: apakah gorengan tersebut sebenarnya adalah gorengan jahat, atau memang gorengan baik, dimana kenaikan harga yang terjadi lebih di sebabkan adanya informasi fundamental baru yang masuk pada saham tersebut.  Memang sih.. keberadaan informasi juga sering kali tidak menjamin bahwa gorengan tersebut adalah gorengan baik (Jadi inget GTBO kemarin.. fakta fundamental yang bagus, tiba-tiba saja dibatalkan dengan alasan yang tidak jelas.  Udah gitu, BEI dan OJK juga tidak memberikan sanksi yang material lagi.. hehehe.. benar-benar sangat memprihatinkan).   Tapi tetap saja, keberadaan informasi membuat pergerakan harga menjadi lebih ‘masuk akal’ sehingga hati kita bisa lebih tenang.

  • The Peak, The Dump, and The Ending Point pada Saham Gorengan Jahat

Saham-saham terkena UMA ini, sebagian memang merupakan ‘saham gorengan jahat’, yang tidak lain hanya permainan rumor dan volume transaksi saham.  Pada saham gorengan jahat ini, penggorengnya itu sebenarnya juga takut oleh OJK dan BEI, karena mereka sebenarnya niatnya juga tidak baik. Penggorengnya juga cuman ‘kacangan’ sehingga mereka tidak yakin bisa menang jika diajak debat oleh orang-orang pengawasan OJK dan BEI.  Oleh karena UMA ini menunjukkan bahwa ‘BEI mulai melakukan pengawasan’, dan resikonya adalah audit dari BEI (dan tentu saja nanti diikuti oleh audit OJK) yang sering kali juga memberatkan, oleh karena itu, saham gorengan jahat ini kemudian sering kali ‘menghilang ketika mereka terjaring UMA’.   Gorengannya kempes.

Model dari pergerakan harga yang sering terjadi, adalah seperti ini:

140713 Model Pergerakan Gorengan Jahat

 

Titik puncak dari saham gorengan ini, sering kali terjadi sebelum UMA.  Akan tetapi, secara umum, titik puncak dari saham gorengan jahat ini, bakal terjadi sebelum 5 hari saat saham tersebut mengalami UMA.  Setelah itu, harga saham turun perlahan-lahan dalam dan mencapai titik terendahnya, yang berlangsung paling lama dalam waktu 3-4 bulan.  Siklus akan berakhir.. sebelum 6 bulan dengan harga pada titik akhir, dibawah dari harga ketika pergerakan dimulai.

  • The Peak, The Dump, and The Ending Point untuk Saham Gorengan Berfundamental

Saham yang terkena UMA, bisa saja saham yang baik-baik.  Saham-saham yang sekarang ini merupakan saham blue chip atau bahkan big caps, dulunya juga pernah terkena UMA pada saat awal siklus pergerakan harga sahamnya, ketika pemodal yang rasional mulai tertarik akan fundamental saham tersebut, ketika volume masuk ke pasar.  Saham-saham seperti MAPI, GGRM, dan banyak sekali saham properti, adalah beberapa saham yang dulu-dulunya juga pernah terkena UMA, sebelum mereka bisa ‘bergerak normal’ seperti sekarang.  Terkena UMA, sebenarnya adalah sebuah proses yang wajar untuk sebagian saham yang mengalami perubahan fundamental.

Perbedaan antara Gorengan Berfundamental dengan Gorengan Jahat, sering kali bisa dilihat dari titik puncaknya.  Karena gorengan berfundamental ini, memang memiliki dasar bagi pergerakan harga, titik puncak yang dicapai, lebih lama.  Pergerakan harganya juga masih signifikan, sehingga titik tertinggi bisa tercapai dengan kenaikan harga yang signifikan.  Akan tetapi, kenaikan harga tersebut bukannya terus berlangsung tanpa akhir.  Setelah harga mencapai titik puncak, harga tersebut kemudian bergerak turun, meski.. karena adanya perubahan fundamental yang terjadi, penurunan dari harga saham tersebut tidak membawa harga saham kembali ke bawah titik awal, meski… sebagian besar penurunan tersebut, tetap saja membawa pergerakan harga dibawah level harga ketika UMA.

Model dari pergerakan harganya bisa dilihat pada gambar berikut ini:

140713 Model Pergerakan Harga dari Gorengan Berfundamental

 

So… Dengan model-model pergerakan harga yang ada… Apa yang bisa dilakukan oleh pemodal? Strategi apa yang bisa dilakukan? Bagaimana pemodal bisa memanfaatkannya?

Bentar ye… nanti bisa dilihat pada bagian terakhir dari tulisan saya.

Happy trading… semoga barokah!!!

Satrio Utomo

*bacalah halaman disclaimer sebelum anda melakukan posisi beli atau posisi jual setelah anda membaca ulasan ini.  Terima kasih.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Visit Website of Our Visitors

%d bloggers like this: