Terima kasih Bapak H. Prabowo Subianto…


Selamat pagi…

Tanpa terasa… kita sudah memasuki akhir dari Ramadhan ini.

Pada Ramadhan kali ini, terus terang… ibadah saya kepada Alloh SWT, terasa sangat kurang.  Maklum, sebagian besar waktu saya, saya habiskan untuk mengerjakan Tugas Akhir.  Terutama kalau sudah malam hari: bukannya membuka dan membaca Al Qur’an, bukannya menghabiskan malam untuk melaksanakan sholat malam, saya lebih menghabiskan waktu saya untuk menulis.. menulis.. dan menulis.  Yah… karena isi tulisannya masih sekitar pasar modal syariah, saya masih bisa berharap bahwa Alloh SWT menghitungnya sebagai ibadah.  Akan tetapi, saya tetap saja menyesali kurangnya waktu yang saya habiskan untuk melakukan Ibadah Ramadhan.

Sudah begitu.. sisa waktu yang saya miliki, malah tidak saya manfaatkan untuk beribadah, tapi malah saya lakukan untuk membahas Pilpres.  Hadeeeh… tidak habis saya menyesali, mengapa menghabiskan waktu terlalu lama untuk hal yang tidak berguna seperti ini.

Terkait dengan Pilpres ini… saya sebenarnya ingin berterima kasih pada Bapak H. Prabowo Subianto…

Saya sih melihat, bahwa strategi pemenangan pemilu yang Bapak H. Prabowo Subianto lakukan, sudah sangat berhasil.  Sesuai dengan saran dari Penasehat Bapak yang orang asing itu, Bapak sangat berhasil untuk membawa Pilpres ini, ke dalam ranah Agama.   Bagi pendukung Bapak, perbedaannya sudah menjadi Islam vs Non-Islam.  Perang untuk melawan kekafiran.  Pendukung Bapak terlihat sangat bersemangat untuk melakukannya, terutama karena dilakukan pada saat bulan Ramadhan.  Mereka benar-benar menganggapnya sebagai ibadah, sehingga berbagai cara rela untuk dilakukan.  Ghibah dan Fitnah, bukan hal yang memalukan untuk dilakukan.

Menyambut Hari Raya Idul Fitri kali ini, saya ingin berterima kasih… kepada Bapak H. Prabowo Subianto…

Terima kasih bagi Bapak H. Prabowo Subianto karena sudah memberikan negeri yang terpecah belah seperti sekarang ini…

Terima kasih bagi Bapak H. Prabowo Subianto karena sudah memberikan umat Islam yang terpecah belah…  Garis antar Ulama, garis antara aliran, garis antar pengikutnya, menjadi semakin jelas.

Terima kasih bagi Bapak H. Prabowo Subianto karena sudah menjadikan Islam menjadi bahan tertawaan…  Maklum saja, pendukung paling fanatik dari Bapak, adalah teman-teman saya yang berasal dari Partai Islam.  Logika-logika yang mereka lontarkan, sering kali terlalu lucu sehingga sulit bagi orang yang nalar, untuk tidak tertawa.  Harusnya sih… orang-orang itu mentertawakan Bapak dan orang-orang di sekitar Bapak yang telalu bernafsu terhadap kekuasaan.  Akan tetapi.. dalam realitanya… yang ditertawakan bukan Bapak yang mereka bela, tapi Islam yang merupakan’ warna’ dari partai politik mereka.

Terima kasih bagi Bapak H. Prabowo Subianto, karena perjuangan yang Bapak lakukan, telah membuat perselisihan Pilres ini, melewati masa Ramadhan, bahwa Lebaran.  Ini benar-benar Ramadhan dan Lebaran yang terburuk yang pernah saya rasakan selama hidup.

Terima kasih bagi Bapak H. Prabowo Subianto karena sudah menumbuhkan bibit-bibit pertentangan dalam acara pertemuan keluarga, silaturahim, halal bi-halal yang akan dilakukan pada Hari Raya Idul Fitri kali ini.  Sekiranya banyak keluarga yang akan melewatkan masa berkumpulnya menjadi sebuah debat politik yang tidak perlu.  Lebaran yang seharusnya dilalui dengan kebahagian, sepertinya malah bisa berakhir dengan perpecahan pada beberapa keluarga.

Terima kasih bagi Bapak H. Prabowo Subianto yang sudah menunjukkan kepada saya, kepada Kami bangsa Indonesia, bagaimana rasanya.. mengakhiri Ramadan dengan hati yang sedemikian busuk.   Dalam status teman-teman saya di FB, saya masih sering melihat teman-teman saya menuliskan kata-kata damai di sebagian waktu, tapi kemudian menuliskan lagi kata-kata yang penuh kebencian pada kalimat berikutnya.

Mungkin Bapak hanya berpikir.. kalau bangsa ini sudah mengakhirinya dengan saling membunuh… Bapak hanya tinggal lari ke Jordania…  ke luar negeri…  seperti yang sudah-sudah.. yang selalu anda lakukan.

Terakhir… saya ingin mengucapkan terima kasih pada Bapak H. Prabowo Subianto… karena berhasil membuat saya melakukan ghibah pada tulisan saya ini… dan membuat orang-orang disekitar saya melakukan ghibah dengan mengomentari tulisan saya ini.

Semoga Alloh SWT menerima tobat yang telah dan akan saya lakukan.  Dan semoga saya tidak perlu melakukan ghibah seperti ini lagi dimasa yang akan datang.

Ramadhan kali ini, adalah ramadhan terburuk dalam hidup saya.  Semoga Alloh SWT tidak memberikan lagi Lebaran seburuk ini lagi bagi saya, keluarga saya, dan bagi kita semua.

Wassalamu’alaikum warohmatullohi wa barokatuh…

Satrio Utomo

Comments
5 Responses to “Terima kasih Bapak H. Prabowo Subianto…”
  1. Mohamad Dimanggis says:

    Kurang mengerti maksud tulisan ini, dan hubungannya dengan market. Sesungguhnya menuduh orang lain membuat fitnah dan ghibah lebih kejam dari fitnah dan ghibah itu sendiri.
    Contoh, lihatlah pak JK beberapa waktu sebelum nge wacapres pernah menghina JKW dengan terbuka kemudian setelah itu di jilatnya apa yg telah dilontarkan (ada rekaman video) dan dengan bangga JK menjadi Cawapres dari orang yang difitnahnya tersebut.

    Salam, Ramadhan Jannatul Arwah.
    Qatar, Doha, Al Thakira.

    • Satrio Utomo says:

      Bung Mohamad,

      Memang tidak ada hubungannya dengan saham. Mengamati pasar, itu kan kita harus bisa memahami kondisi psikologisnya juga. Memahami ‘pola pikir dibalik pergerakan harga’. Pola pikir tersebut yang saya tangkap kemarin. Mohon maaf jika tidak ‘searah’ dengan pemikiran anda.

      Wassalam,
      Satrio

  2. Nazar says:

    Yang jelas Prabowo bersikap NEGATIP…gak simpatikl ama orang orang begitu..!!! bagaimana kalo dia jadi pemimpin ?? orangnya ” Ambekan “..

  3. Rafi says:

    mengoreksi/ evaluasi diri sendiri lebih baik daripada memfitnah atau mendukung membabi buta orang yg belum tentu benar atau tidaknya. lebih baik istighfar dan mohon diberi yang terbaik untuk bangsa ini, siapapun presidennya. Diberi kemakmuran itu yang terbaik. kalau diberi azab berarti itu juga yang terbaik.

  4. Nurul says:

    Saya sangat setuju tentang terpecah belahnya bangsa, jika kita berfikir dan memposisikan diri secara netral ada yang salah dengan niat yang terlalu bernafsu baik dari pribadi dan orang sekelilingnya, dengan cara mundur sebelum kalah. Saksi setiap wilayah cuma diam saat awal tapi saat pemimpinnya bilang curang semua mengamini, jadi inget lagu wakil rakyat ciptaan iwan fals

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Visit Website of Our Visitors

%d bloggers like this: