Setelah Joko Widodo menjadi Presiden Terpilih…

140826 Jokowi - Jk

Selamat pagi…

Pertama-tama… saya ingin mengucapkan Alhamdulillah…

Puji syukur saya ucapkan … setelah Mahkamah Konsitusi pada hari Kamis, 22 Agustus 2014 kemarin menolak seluruh gugatan dari pihak Calon Presiden Prabowo Subianto, dengan demikian   berarti sudah resmi pasangan Jokowi – JK sebagai Presiden dan Wakil Presiden terpilih untuk periode 2014 – 2019.  Akan tetapi, itu bukan berarti perjuangan kita sebagai rakyat sudah berakhir.

Secara sadar, saya sudah mempersiapkan diri terhadap beberapa ‘cobaan’ yang harus kita hadapi.

Harga BBM Subsidi akan Naik

Defisit anggaran kita, semakin tahun semakin membengkak.  Bengkaknya anggaran ini, sebagai akibat dari subsidi BBM yang semakin tidak terkendali.  Presiden Susilo Bambang Yudhoyono terlihat berusaha mati-matian, untuk mempertahankan harga BBM subsidi, demi tercapainya stabilitas politik dan ekonomi, untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang tinggi.  Angka subsidi BBM pada APBN-P 2014 bahkan sudah mencapai Rp 350,3 tr! Dengan penduduk miskin sebesar 28,5 juta orang, besaran subsidi tersebut sudah setara dengan pendapatan penduduk miskin sebesar Rp 1 juta per orang per bulan, jika subsidi tersebut dibagikan kepada pada penduduk miskin tersebut.  Artinya: jika kita asumsikan bahwa 1 keluarga penduduk miskin terdiri dari 4 orang, maka dengan membagikan uang sebesar Rp 2 juta per keluarga, jumlah beban anggaran tersebut sudah bisa berkurang sekitar 50 persen!!!

Mungkin Prabowo adalah capres dengan penampilan paling berani, gaya paling tegas, dan pidato yang paling berapi-api.  Akan tetapi, kalau urusan BBM subsidi, saya memang memilih Jokowi karena saya yakin bahwa Jokowi lebih berani dalam menaikkan harga BBM Subsidi, mengurangi besaran BBM Subsidi.   Kalau urusan menaikkan BBM Subsidi, jelas Prabowo akan tersandera kepentingan dari orang-orang disekitarnya, yang tetap berusaha untuk ‘membela rakyat kecil’ dengan memberikan subsidi BBM.  Prabowo jelas kurang berani menaikan BBM Subsidi dibandingkan dengan Jokowi.

Keberanian Jokowi dalam urusan menaikkan BBM Subsidi, membuat saya sudah mulai membiasakan diri untuk mengkonsumsi BBM Non-Subsidi semenjak beberapa bulan yang lalu.  Setidaknya, setengah dari kebutuhan BBM keluarga kami, sudah kami tunaikan dengan menggunakan BBM Non-Subsidi.  Akan tetapi, pola tersebut tentu saja tidak dilakukan oleh sebagian besar penduduk Indonesia.  Mereka mungkin masih akan kaget.   Wah.. sudah dipilih… malah menyengsarakan rakyat! Itu pasti ucapan dari sebagian orang.  Padahal, itu memang adalah konsekuensi dari memilih Jokowi: sengsara sekarang, tapi kita punya dana banyak untuk membangun infrastuktur yang bisa kita nikmati dalam jangka panjang.  Melakukan subsidi atas BBM dengan menggunakan defisit anggaran yang kemudian ditutup dengan menggunakan dengan hutang jangka panjang, adalah seperti membiayai kegiatan yang hanya bermanfaat untuk jangka pendek, dengan menggunakan uang yang berasal dari jangka panjang.  Ini tentu saja merupakan ‘mismatch’.  Kegiatan (yang memiliki manfaat untuk) jangka pendek, itu harus menggunakan uang jangka pendek.  Kegiatan jangka panjang, hanya menggunakan uang jangka panjang.  Itu yang sebenarnya harus kita lakukan.  Itu yang membuat kita harus membiasakan diri untuk hidup dengan tanpa subisidi BBM yang tidak tepat sasaran itu.

Hidup dengan tanpa BBM Subsidi sebenarnya adalah pilihan sadar yang saya (dan anda) lakukan, ketika saya (dan juga anda) lakukan ketika memilih Jokowi-JK.

Dominasi Kemenangan Jokowi oleh PDIP

Ada cerita lucu dari seorang teman.  Dalam pertemuan antara Jokowi dengan para relawan beberapa waktu yang lalu, sempat ada adu jotos antara relawan, yang merasa dirinya paling berjasa untuk mememangkan pasangan Jokowi –JK.  Nggak usah relawan deh… Dimana mana.. kalau ada pemenang, selalu setiap pendukungnya merasa berjasa sebagai pemenang.  Dalam Pilpres kali ini, PDIP yang pada saat pemilu legislatif hanya memenangi 18,95 persen dari total suara pemilih yang sah, terlihat mendominasi Tim Transisi yang dipimpin oleh Rini Suwandi.   Padahal, dengan perolehan suara Jokowi – JK sebesar 53,15 persen, berarti lebih dari setengah suara Jokowi – JK ini disumbang oleh non-pencoblos-PDIP.   Dominasi ini sebenarnya sedikit mencemaskan, mengingat pada pilpres kemarin, kader-kader dari partai ini sendiri, sebenarnya sangat rajin membuat blunder, membuat proses pemenangan Jokowi – JK menjadi lebih berat.  Blunder ini terlihat pada issue penghapusan kolom agama pada KTP, Menteri Agama dari kalangan Islam minoritas, dan masih banyak lagi.

Dominasi kemenenangan Jokowi-JK oleh PDIP ini… memang mencemaskan sebagian orang termasuk saya.  Akan tetapi, apakah itu berarti akan mencemaskan pelaku pasar secara umum? Sepertinya masih belum tentu juga.  Dominasi ini, memang berpotensi untuk menciderai janji Jokowi untuk ‘hanya memasukkan orang-orang yang profesional’ ke dalam jajaran menteri-menterinya.  Akan tetapi, sepertinya kita juga perlu memegang ucapan Jokowi bahwa Menteri yang prestasinya kurang, bakal diganti setelah 3 bulan.

Grup Lippo kembali ke ‘Panggung Utama’ Bursa  (?)

Sejak belasan tahun yang lalu, ketika saya mulai belajar pasar modal, saya melihat bahwa perdagangan di lantai bursa saham, kadang kala memang didominasi oleh saham-saham dari grup-grup konglomerasi.  Pada medio 2003 – 2008 (bahkan hingga sekarang) anda pasti sudah merasa bahwa sepak terjang grup Bakrie terlihat sangat mendominasi perdagangan dan arus informasi yang ada di Bursa.  Pada 2012 – 2013 kemarin, anda mungkin juga melihat sepak terjang dari Grup Bhakti (Harry Tanoe).  Grup Lippo, sejak 2012 – 2013 kemarin juga mulai menampak diri, tapi masih terlihat belum terlalu dominan.  Akan tetapi, kalau anda memberikan pertanyaan : ’Siapakah Raja dari Bursa?’ kepada orang yang sudah mengalami Bursa ketika periode tahun 1997-an hingga awal 2000an, maka mereka sudah pasti akan menjawab Grup Lippo.  Pergerakan spektakuler dari saham LPLI, MLPL, dan LPPS adalah bukti dari dominasi mereka.

Sebelum pilpres kemarin, James Riyadi adalah konglomerat yang sempat ‘rendeng-rendeng’  (berjalan bersama-sama) dengan Jokowi.  James Riyadi yang pada saat Pilgub DKI terlihat rendeng-rendeng dengan Foke, kali ini ternyata sudah menemukan jalan yang benar.  Meski, sebagian orang meragukan dukungan Grup Lippo terhadap Jokowi karena Presdir Grup Lippo Theo L. Sambuaga adalah petinggi dari Golkar.  Ah.. saya gak mau berspekulasi lah.  Nanti malah jadi kemana-mana.  Tapi tetap saja… pergerakan dari harga saham Grup ini memang akan saya cermati dalam beberapa waktu kedepan ini, hanya sebagai pengingat bagi saya, bahwa pergerakan harga saham grup ini selama periode 1997 – 2000 telah banyak membuat kerugian bagi nasabah-nasabah awal saya, karena mereka menganggap terlalu enteng pergerakan saham ini.  Sesuatu yang tidak ingin saya ulangi lagi untuk waktu yang akan datang.

Dominasi dari Koalisi Merah Putih pada Parlemen

Sebenarnya sih, saya yakin bahwa semua pihak bakal memberikan yang terbaik bagi negeri yang kita cintai ini.   Dan saya kira, tidak akan pihak yang mau berperan sebagai ‘anti pertumbuhan ekonomi’ atau ‘anti rakyat’, atau ‘anti-positif’ yang lain.  Tapi… kita juga sudah melihat bahwa dalam 10 tahun terakhir, PDIP terlihat rajin menjadi partai yang ‘anti kebijakan positif’.  Semoga Jokowi bisa menemukan cara untuk menemukan solusi jika Koalisis Merah Putih melakukan hal yang sama.

Orang-orang yang gagal Move On

Sudahkah anda melihat status teman-teman Facebook (FB) anda beberapa waktu terakhir? Hehehe… Sebagai besar, pasti sudah bisa melepaskan diri dari pernyataan-pernyataan mengenai Pilpres. Sudah bisa Move-On.  Memang sih.. kalau pendukung Jokowi, sepertinya lebih gampang untuk Move-On.  Akan tetapi, kalau sudah pendukung Prabowo… hehehe.. masih banyak yang belum bisa Move-On.  Masih menyebar cerita-cerita fitnah dari account anonim, menyatakan tidak bertanggung jawab akan hasil dari pemerintahan, bahkan melakukan boikot atas kebijakan serta program dari jokowi 5 tahun kedepan.

Waduh.. semoga mereka segera Move On deh.. semoga mereka segera diberi hidayah.

Penutup

So… masih banyak permasalahan yang ada di sekitar kita.  Permasalahan terbesar adalah rakyat yang terlalu bersemangat menyambut Presiden yang baru, padahal Presiden Republik Indonesia masih tetap SBY hingga bulan Oktober 2014 nanti.  Kondisi ekonomi saat ini juga masih belum terlalu bagus, sehingga kondisi fundamental dari emiten terlihat sulit untuk berkembang.  Ini yang membuat kenaikan pada IHSG, seperti menegakkan benang basah.  Terutama selama aliran dana asing juga terlihat masih lemah seperti yang terjadi pada hari Jumat kemarin.

Satu hal yang masih saya pegang adalah bahwa saya percaya Jokowi bakal membawa Indonesia ke pada pertumbuhan ekonomi yang lebih baik.  Itu yang membuat saya untuk tetap percaya diri untuk memberikan rekomendasi ‘Long Term Buy’ ketika harga bergerak turun.

Cuman ya gitu: dalam konsolidasi, para trader dan investor tetap akan mencari harga yang terbaik sehingga posisi beli tetap akan dilakukan dengan cermat.

Happy trading… semoga barokah!!!

Satrio Utomo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Visit Website of Our Visitors

%d bloggers like this: