Mas @Jokowi_do2 … Tantangan Harga BBM Subsidi Mengambang itu baru muncul ketika Harga Minyak Naik…*

Suasana antrean kendaraan bermotor di salah satu SPBU di Solo, Jawa Tengah, Senin (17/11).

Selamat pagi…

Kemarin sore… saya naik taksi.  Taksi Ekspres.  Sopirnya seorang bapak-bapak paruh baya… sedikit lebih tua dari saya.. kalau nggak lebih sama.  Begitu masuk taksi… argo menyala.  Saya yang terakhir kali naik taksi adalah sebelum BBM Subsidi dinaikturunkan seperti sekarang ini (BBM Subsidi Mengambang),  sekilas memperhatikan kalau argo buka pintu sudah Rp 7500.  Oh.. berarti ini tarif baru.  Tarif setelah BBM Subsidi dinaikkan. Saya kemudian iseng bertanya kepada Bapak tersebut:  Pak… ini tarif argonya.. tarif argo baru? BBM Subsidi sudah naik dan turun.. tapi tarif taksi kok tetap tidak turun?

Well… jawaban Bapak pengemudi taksi ini.. terdengar ‘standar’:  Oh… ini salah Pak Jokowi… Naikin harga BBM Subsidi ketika harga minyak sedang turun… Jadi sekarang… tarif taksi jadi susah turun karena suku cadang impor juga sedang tinggi karena Rupiah melemah .. bla-bla-bla.. dst.. dst.. dst..

Hehehe… terlepas dari realita bahwa komponen Limo itu 60% sudah produksi lokal … realita bahwa semua orang tidak mau menurunkan harga yang sudah terlanjur dinaikkan… adalah sebuah fenomena umum terjadi saat ini.  Pemerintah memang sudah berusaha ‘menghimbau’ agar harga kembali diturunkan.  Akan tetapi.. pada prakteknya.. hampir semuanya seperti itu: sudah naik.. lupa turun.

Apakah fenomena ‘harga naik lupa turun’ itu tadi terkait dengan tingkat pendidikannya? Hehehe.  Nggak juga.  Kalau anda melihat tingkat pendidikan dari pedagang di pasar dan pengelola taksi (karena mereka yang setting tariff .. bukan supir taksinya) .. ya mungkin saja tidak terlalu jauh.  Akan tetapi… ketika berbicara tentang Bank Indonesia… tingkat pendidikan Gubernur Bank Indonesia apa ya rendah? Belum lagi.. beliau kan pasti didukung oleh tim analis yang ‘kalau gak doktor malu-maluin’.  Jelas tingkat pendidikannya beda banget.  Tapi.. perilakunya sama:

… kalau sudah menaikkan harga (dalam hal ini BI Rate untuk Bank Indonesia), susah untuk untuk menurunkan.

Dengan berbagai alasan yang terkadang susah diterima akal.  Sebuah fenomena standar dimana-mana.

Itu ketika harga minyak sedang turun …

Tantangan Sebenarnya… adalah Ketika Bergerak Naik!

Nah… sekarang… harga minyak West Texas Intermediate (WTI) terlihat sudah bottoming di sekitar level US$45 per barrel.  Minggu lalu… harga minyak ini bahkan sudah mulai rebound.  Pada hari Jumat kemarin, harga minyak WTI yang ada di http://www.netdania.com .. sudah ditutup pada level US$52.33 per barrel.  Ini jelas-jelas jauh diatas resisten  US$51.2 yang merupakan mid point dari double bottom.  Artinya: harga minyak WTI sudah bakal terus bergerak naik hingga kisaran US$ 57 – US$60 per barrelnya.

Kalau lihat dari harga minyak WTI sebelum turun di level US$ 105 – US$110 .. harga minyak di US$60 pun sebenarnya masih tergolong rendah.  Problemnya: harga minyak di kisaran tersebut, sudah sekitar 20% dari kisaran harga terendah US$44 – US$45 yang pernah tercapai pada bulan Januari kemarin.  Dengan harga minyak yang sudah naik sektar 20%… apakah Pemerintah bakal membiarkan harga BBM Subsidi pada level sekarang? Apa iya Pemerintah tidak akan menaikkan harga BBM Subsidi jika harga minyak internasional sudah rebound 20% dari titik terendahnya?

Pemerintahan Jokowi dalam Menerapkan Harga BBM Subsidi Mengambang: Konsisten atau Tidak ?  Berhasil atau Gagal?

Hehehe… Sebenarnya… ketika Pemerintah memutuskan untuk ‘tidak menurunkan harga BBM Subsidi’ dengan alasan untuk ‘menabung’ pada awak bulan lalu, Pemerintah sebenarnya sudah menciptakan ketidakpastian baru.  Ketidakpastian akibat ketidakkonsistenan.    Ketidakkonsistenan ini juga, yang membuat kita sulit untuk memprediksikan.. berapa perkiraan harga BBM Subsidi, ketika nanti harga minyak WTI bergerak naik.  Terbih lagi.. karena rumusan harga resmi BBM Subsidi yang baru… hingga saat ini juga masih belum keluar.

Penutup

So… kedepan… harga minyak akan cenderung bergerak naik.  Kalau kita lihat angka globalnya berupa angka inflasi di bulan Januari yang tercatat deflasi… Inflasi memang sudah sejalan dengan naik-turunnya harga BBM Subsidi.  Akan tetapi.. itu kan angka ‘besar’nya.  Kalau kita lihat realita di lapangan.  Orang-orang yang gak mau tahu atau gak perduli dan kemudian memberikan alasan-alasan yang semaunya atau gak masuk akal .. seperti supir taksi atau Gubernur BI … adalah realita lapangan yang tidak bisa kita pungkiri.

Saya sih… sudah mulai positioning pada saham-saham komoditas dan saham-saham yang biasanya mendapatkan sentiment positif ketika harga BBM Subsidi dinaikkan.  Pertanyaan yang menggelitik di kepala saya: ini kalau harga BBM Subsidi dinaikkan.. apakah harga semen dan gas juga akan dinaikkan? Secara… ketika Menko Sofyan Djalil kemarin mengumumkan… kedua harga tersebut tidak dimention sama sekali.

Kita lihat saja deh….

Happy trading… semoga barokah!!!

Satrio Utomo

*disclaimer ON

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Visit Website of Our Visitors

%d bloggers like this: