Menteri Kalah Spekulasi … BBM Subsidi Naik Lebih Besar daripada Bensin Asing…*


Selamat pagi…

Terus terang… saya sudah agak lama bingung dengan masalah BBM Subsidi ini.

Saya sebenarnya pendukung dari harga BBM Subsidi mengambang.  Ketika harga BBM Subsidi mengambang (bersubsidi tetap per liter), besaran dari total subsidi BBM akan lebih mudah untuk dikendalikan oleh Pemerintah.  Ketika harga BBM Subsidi disubsidi tetap untuk setiap liternya, subsidi BBM secara total akan lebih terkendali, anggaran daripada Pemerintah tidak terganggu.  Subsidi BBM tidak akan mengganggu APBN, tidak akan mengganggu pembangunan.

Saya masih ingat bener kondisi horror di jaman Presiden SBY dulu, dimana biasanya… menjelang akhir tahun… seluruh anggaran dibuat ‘all in’ (dipertaruhkan semuanya) untuk melakukan subsidi BBM, agar harga BBM Subsidi tidak perlu diubah, tetap. Pembangunan jadi terganggu.  Ekonomi jadi nggak jelas.  Udah gitu… karena bensin murah… konsumsi BBM Subsidi jadi tidak terkendali.  Yang mana yang benar-benar dipake.. yang mana yang kemudian diselundupkan lagi keluar.. jadi tidak jelas.  Bukan cara yang baik untuk mengelola anggaran.

 

Problemnya sekarang adalah:

pembuat kebijakan saat ini, terlihat bermain-main dengan kebijakan itu.

Sebuah kebijakan yang sangat bagus.  Tapi… karena dalam pelaksanannya blunder demi blunder terus dilakukan… rasa-rasanya… saya kok jadi semakin gak sabar untuk bertanya: Mas Jokowi… sampeyan itu kapan reshuffle kabinetnya? Orang aneh seperti itu kok masih dipertahankan juga? Bikin frustasi saja…

  • Keanehan yang pertama: mereka menaikkan harga BBM Subsidi ketika harga minyak dunia sedang turun.

Yah… anda semua pasti sudah bisa melihat dan merasakan tentang hal ini.  Harga BBM yang naik tinggi di bulan November terus turun lagi hampir seperti harga awal… itu jelas adalah kesalahan yang fatal.  Ekonomi kita jadi terkena beban yang tidak perlu. 

Kesalahan ini kemudian memang berusaha diperbaiki dengan kembali menurunkan harga BBM Subsidi, dan kemudian menerapkan sistem harga BBM Subsidi mengambang, yang akan berubah setiap bulan.  Akan tetapi, karena harga minyak internasional tetap saja rendah, dan para pembuat kebijakan ini kemudian melakukan langkah yang terlalu berani: Mengubah Penetapan Harga BBM Subsidi menjadi dua minggu sekali.  Cara ini… kalau menurut saya.. jelas lebih bagus.    Rakyat akan semakin cepat terbiasa dengan harga BBM Subsidi yang berubah-ubah.   Pengaruh inflasi dari perubahan harga BBM Subsidi akan semaikin rendah.

  • Akan tetapi… Pembuat kebijakan ini kemudian melakukan keanehan yang kedua: Mereka memutuskan untuk ‘menabung’ ketika harga minyak dunia semakin turun.

Loh… ini maunya bagaimana? Pelaku ekonomi, baik itu pelaku pasar modal, pelaku dunia usaha, masyarakat, semua memerlukan kepastian. Ketika harga BBM Subsidi sudah diputuskan untuk mengambang, sebenarnya.. harapan kita semua adalah bahwa formulasi dari harga BBM Subsidi itu bisa transparan. Formulasi dari harga BBM Subsidi tersebut juga harus berdasarkan variabel yang tersedia untuk publik. Ini agar semua orang bisa memperhitungkan kemana harga BBM Subsidi.. setidaknya untuk bulan depan. Gak usah harganya berapa…tapi.. untuk setidaknya bulan depan harga BBM Subsidi mau naik atau turun aja deh.. masyarakat setidaknya bisa tahu… masyarakat bisa memperkirakan.. masyarakat bisa memprediksikan. Nah ini .. pembuat kebijakan memutuskan untuk menunda penurunan BBM Subsidi. Ketika itu.. yang ada di pikiran saya hanya satu: kalau penurunan ditunda, berarti nanti kenaikannya bisa ditunda juga.

Eh.. ternyata benar juga. Sejak pertengahan Februari kemarin.. sudah banyak orang yang bilang.. kalau harga BBM Subsidi sudah tidak bisa dipertahankan lagi. Tapi.. harga BBM Subsidi tetap bertahan. Di kepala saya.. ini kok berasa seperti bom waktu. Sudah gitu… Pak Menteri ESDM malah mengusulkan kalau harga BBM Subsidi tidak usah berubah setiap bulan. Hehehe. Ini berarti.. kita menghadapi ketidakpastian baru: sudah harga minyak tidak pasti, harga BBM tidak pasti, tabungan BBM Subsidi Pemerintah tidak pasti. Dengan kata lain: harga BBM Subsidi memang mengambang, tapi kita juga harus bisa memprediksi mood dari pembuat kebijakan.. sedang bagus atau tidak.. sedang tolol atau tidak… sedang senang atau sedang pekok.

Hasil dari kebijakan menabung ini sudah terlihat: per 1 Maret ini.. harga Premium.. naik Rp 200 …. sedangkan harga bensin Super dari Shell … hanya naik Rp 100.

Kok bisa? Pasti ini Shell melakukan perang harga. Pasti ini Shell melakukan politik.. strategi marketing agar bensin mereka bisa lebih laku. Pertamax saja.. naiknya juga 200 … Hehehe… yang bilang begitu.. jelas bukan saya. Saya memang melihat… bahwa kebijakan menabung ketika harga minyak sedang turun adalah permasalahannya. Ini yang membuat harga BBM Subsidi lebih volatile.. jika dibandingkan harga bensin Shell.

Tidak ada Sistem, Tidak ada Transparansi, Tidak ada Akuntabilitas

Disitu sebenarnya permasalahan utamanya. Hingga saat ini, Presiden Jokowi belum mengeluarkan Kepres mengenai formulasi harga BBM Subsidi yang baru. Gak tau apa permasalahannya. Tapi hasilnya jelas: ini membuat para pembantu presiden.. dalam hal ini para menteri berbuat seenaknya. Masyarakat juga dibuat bingung.. karena harga BBM Subsidi jadi semakin sulit untuk diprediksi.

Sebenarnya… kebijakan BBM Subsidi tetap adalah kebijakan yang bagus.  Hanya saja, karena tidak ada peraturan jelas … kebijakan ini memunculkan ketidakpastian baru… memunculkan resiko baru. Dalam memprediksi harga BBM .. Kita harus memprediksikan isi otak dari Menteri … terutama Menteri ESDM.

Coba pandang wajahnya …

image

Duh.. semakin sulit perkerjaan saya menjadi analis.

Happy trading… semoga barokah!!!
Satrio Utomo

Comments
3 Responses to “Menteri Kalah Spekulasi … BBM Subsidi Naik Lebih Besar daripada Bensin Asing…*”
  1. david says:

    jadi kesimpulanya sistemnya yang tidak teransparant ya pak?
    pak kebijakan subsidi tetap kenapa tidak mempengaruhi apbn saya masih kurang ngerti?
    pak bagaimana kalau alsan pemerintah agar tidak ada kejadian penimbunan minyak?

    • Satrio Utomo says:

      Bung David…

      Karena tidak ada Kepresnya.. berarti kesimpulannya: tidak ada sistem. Selain itu juga harga patokan BBM Subsidinya.. bukan sesuatu yang bisa diakses oleh publik.

      Kebijakan subsidi tetap itu, masih ada pengaruhnya terhadap APBN lah. Kan tetap saja jumlah subsidinya tetap untuk setiap liternya. Tapi.. ini akan lebih ringan bagi APBN.. dibandingkan dengan pola subsidi yang dulu diberlakukan oleh SBY.

      Kalau masalah penimbunan BBM Subsidi.. itu masalah penegakan hukum. Kalau penegakan hukumnya tegas… orang tidak akan berani nimbun.

      Wassalam,
      Satrio

  2. oguds says:

    Shell menaikkan harga BBM lagi. Jadi yg kalah spekulasi siapa donk? Minta maaf sana sama Menteri ESDM. http://finance.detik.com/read/2015/03/04/125158/2849179/1034/harga-bensin-shell-naik-rp-200-600-liter

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Visit Website of Our Visitors

%d bloggers like this: