Rupiah Menguat Bukan Karena Mas Agus Menyalahkan Wartawan…


Selamat pagi…

Komunikasi yang buruk adalah biang dari hampir semua permasalahan belakangan ini.  Entah itu masalah Pemilu, Pilpres, kebijakan ekonomi, BBM, dan masih banyak lagi.  Kejatuhan harga saham-saham Semen dan PGAS di awal bulan Januari kemarin misalnya, itu adalah korban dari buruknya komunikasi Pemerintah ketika menurunkan harga BBM.  Penurunan harga BBM  yang harusnya disambut dengan sukacita, malah menjadi omongan jelek gara-gara kerugian yang harus terima oleh mereka yang

Koreksi harga yang terjadi pada bulan April kemarin misalnya, sebagian bilang karena kinerja emiten memburuk.  Sebagian bilang karena ekonomi memburuk.  Tapi kalau dari sisi saya, koreksi tajam yang terjadi kemarin, bisa saja karena emiten gagal untuk memperisapkan pasar (atau analis) bahwa mereka bakal memiliki kinerja yang jauh dibawah ekspektasi.  Di minggu pertama kinerja keluar, median EPS emiten bisa dibawah konsensus  hingga 15.5 persen.  Gile bener.  Kalau cuman meleset prediksi.. yah.. selisih barang 3-5 persen.. mungkin gak masalah.  Tapi ketika selisihnya diatas 15 persen… ada dua kemungkinan: analis fundamentalnya yang males update (maklum.. kalau sudah CFA.. bisanya mereka bergaji besar… makin besar gaji makin males untuk bikin update kecil), atau bisa jadi karena emitennya yang gagal untuk berkomunikasi dengan para analis tersebut.  Well.. karena saya adalah analis yang subyektif juga… maka sudah pasti saya menyalahkan emiten dan membela teman-teman saya.  Terutama emiten yang perbankan itu loh.. kan tiap bulan mereka sudah mempublikasikan laporan keuangannya di website OJK.  Kok bisa analis perbankannya tidak baca? Mestinya ini karena emitennya yang males.  Bukan analis fundamental CFA yang bayarannya paling mahal itu.  Hehehe.

Kegagalan komunikasi ini… sangat terasa kalau kita melihat perkembangan nilai tukar Rupiah terhadap US$ pada beberapa hari terakhir.  Kondisi ekonomi memburuk. Rupiah tertekan paling parah di Asia, karena investor memandang adanya ketidakkompakan antara Pemerintah (dalam hal ini Jusuf Kalla) dengan Bank Indonesia (dalam hal ini Agus Marto).  Yang lebih lucunya lagi… Pak Agus kemudian keluar dan menyalah-nyalahkan wartawan karena membuat pemberitaan yang jelek-jelek saja.

Hadeeh…  Semua kok jadi berasa seperti benang ruwet.  Saya jadi rindu wajah Pak Harmoko di televisi.

Semalam DJI naik tajam.  DJI naik tajam karena pasar sangat yakin bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga di bulan September.  Bagaimana pengaruhnya buat bursa kita? Yah.. semoga saja positif.  Tapi saya melihatnya begini: dana asing jangka pendek sudah habis.  Kalau kepastian ini membuat mereka keluar dari bursa kita, maka kondisinya bisa jadi gawat.  Rupiah juga dipersimpangan kemarin.  Rupiah yang sudah dekat dengan resisten di 13250, pilihannya tinggal: kalau jadi double top berarti Rupiah menguat kebawah 12500… tapi kalau tembus 13250.. berarti Rupiah ke 13500.

Mana yang akan terjadi? Kita lihat saja.  Saya hamya berharap yang terbaik.

Saya cuman gak rela kalau Rupiah menguat karena Mas Agus ngomelin wartawan.  Bukan itu cara komunikasi yang baik.

Happy trading… semoga barokah!!!

Satrio Utomo

*disclaimer On

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Visit Website of Our Visitors

%d bloggers like this: