Ketika Puasa Tidak Sekedar Perang Melawan Lapar dan Dahaga*


Selamat pagi…

Di pasar modal, harga itu adalah hasil dari peperangan. Peperangan antara pihak yang bullish, mereka yang menganggap bahwa kedepan kondisi bisa lebih baik sehingga harga akan bergerak naik sehingga mereka mau melakukan posisi beli, melawan pihak yang bearish, mereka yang menganggap bahwa kedepan kondisi bisa lebih buruk sehingga harga akan bergerak turun sehingga mereka mau melakukan posisi jual. Pergerakan harga yang sering kita lihat pada sebuah grafik dari pergerakan harga, adalah rekam jejak dari peperangan itu. Harga bergerak naik, harga bergerak turun, atau bergerak mendatar. Harga akan bergerak naik ketika mereka yang bullish, mereka yang melakukan posisi beli, memenangkan pertarungan tersebut. Ketika harga bergerak turun, berarti mereka yang bearish, yang melakukan posisi jual, lebih dominan dibandingkan mereka yang bullish.

Bulan Ramadhan seperti ini, umat Islam melakukan ibadah puasa. Dalam ibadah puasa, umat Islam yang melakukannya tidak hanya sekedar menahan lapar dan dahaga sejak Subuh hingga Magrib, bukan sekedar perang antara melawan lapar dan dahaga. Akan tetapi, ibadah mereka juga harus mampu menahan nafsu-nafsu yang lain. Kalau yang bisa membatalkan puasa, mungkin hanya amarah dan nafsu untuk berhubungan badan di siang hari. Akan tetapi, apabila mereka yang berpuasa tidak ingin kehilangan pahala puasanya, mereka juga harus mampu menahan nafsu-nafsu yang lain seperti berbohong atau berdusta, nafsu untuk menggunjing atau membicarakan orang lain, nafsu mengadu domba, dan nafsu untuk melihat dengan syahwat.

Penduduk Indonesia itu, tidak hanya umat Islam. Bagi seluruh penduduk Indonesia, dengan berbagai macam suku, agama, dan ras, bulan puasa itu juga merupakan bulan peperangan. Tentu saja… ini bukan perang dimana orang saling membunuh karena perbedaannya. Akan tetapi, pada bulan puasa ini, penduduk Indonesia selalu harus berperang melawan berbagai lawan. Lawan yang harus dikalahkan untuk bisa menjalani kehidupan selama bulan Ramadhan (dan terutama setelah bulan Ramadhan) menjadi lebih baik, lebih enak, lebih nikmat.

Beberapa peperangan yang harus kita hadapi adalah:

Perang Melawan Inflasi

Kenaikan harga barang, adalah momok setiap kali memasuki bulan Ramadhan. Dalam studi inflasi pada bulan Ramadhan yang dilakukan oleh Bank Indonesia pada periode 2008 – 2013 lalu, lonjakan permintaan yang terjadi selama bulan Ramadhan, telah membuat harga dari berbagai barang, terutama kebutuhan pangan, mudah sekali bergerak naik. Daging, cabe, beras, dan bawang merah, adalah beberapa kebutuhan yang sering kali mengalami kenaikan harga yang tajam selama bulan Ramadhan. Dalam periode tersebut, Bank Indonesia mencatat bahwa secara rata-rata, infilasi bulanan yang terjadi adalah sebesar 0,56 persen, dengan inflasi tertinggi terjadi pada tahun 2010 sebesar 0,57 persen, sedangkan inflasi terendah terjadi pada tahun 2009 dimana terjadi deflasi sebesar 0,31 persen.

Terkait dengan perang melawan inflasi ini, keluarnya PerPres 71 Tahun 2015 kemarin, sepertinya bisa menjadi harapan. Pemerintah yang selama bertahun-tahun terlihat lemah dalam menghadapi ulah spekulan yang mempermainkan harga, terlihat mulai melakukan pendekatan baru dalam menanggulangi inflasi. Pemodal bisa melihat bagaimana nanti pelaksanaan lapangan dari peraturan ini: Apakah memang berjalan sesuai dengan maksud dari dikeluarkannya peraturan ini, ataukah malah kemudian menjadi medan peperangan antara pedagang (baca: spekulan) melawan Pemerintah. Tapi setidaknya, kita bisa berharap, bahwa spekulan tidak lagi mudah mempermainkan harga seperti yang sudah-sudah.

Perang Lawan Importir Nakal

Indonesia itu adalah sebuah negara besar. Penduduknya saja sudah lebih dari 250 juta jiwa. Jumlah penduduk sebesar itu, tentu saja memerlukan pasokan barang, terutama bahan pangan, yang tidak sedikit. Lucunya, setelah 70 tahun Indonesia merdeka, ternyata kemampuan untuk mencukupi kebutuhan pangan terlihat masih minim. Selain karena beberapa kebutuhan pokok dari masyarakat (seperti kedelai, jagung, dan singkong) saat ini kekurangan suplainya masih dipenuhi dengan cara impor, sering kali terjadi ulah spekulan atau pedagang yang kemudian menahan barang sehingga terjadi kelangkaan pasokan. Masyarakat masih sering dihadapkan dengan pergerakan harga yang liar sebagai akibat dari hilangnya barang dari pasaran. Disini, sering kali, importir nakal seringkali menjadi pahlawan kesiangan. Mereka sering kali memanfaatkan kekhawatiran pasar akan kekurangan barang, dengan menawarkan keran impor. Kurang ini impor, kurang itu impor, padahal, belum tentu semuanya perlu diselesaikan dengan cara imporm karena produksi dalam negeri bisa ditingkatkan, bisa dioptimalkan. Belajar dari pengalaman ketika Perang Beras pada periode Januari – Maret kemarin, kelangkaan beras yang terjadi yang kemudian membuat harga beras membumbung naik tinggi, ternyata juga bisa diselesaikan tanpa dengan menggunakan impor. Kelangkaan hanya terjadi sebagai akibat dari adanya salah pengelolaan antara permintaan dan penawaran sehingga bisa diselesaikan dengan barang yang ada di pasar. Akan tetapi, rayuan dan bujukan untuk melakukan impor akan terus membahana. Seperti masalah kekurangan suplai alat berat kemarin, belum-belum.. importir sudah bersiap untuk melakukan impor untuk alat berat bekas. Padahal, kapasitas luang pada industri alat berat nasional sedang sangat besar, seiring dengan berkurangnya permintaan dari alat berat industri batubara dan pertambangan lainnya.

Gosokan dari para importir nakal ini yang terkadang membuat pelaku pasar modal waspada. Maklum saja, permasalah terbesar dari ekonomi kita, sebelum masalah perlambatan ekonomi yang saat ini terjadi adalah masalah defisit neraca perdagangan. Kalau setiap kita mendengar kata ‘impor’ sedangkan disisi lain kita melihat bahwa pasokan dalam negeri sebenarnya mencukupi, disitu berarti neraca perdagangan kita sedang dalam ancaman. Ancaman dari para importir nakal seperti ini.

Perang Dalam Menumbuhkan Omset Retail

Ramadhan itu adalah puncak dari omset retail. Menyimak pernyataan dari Danny Kojongian, Director Communication & Public Relations dari PT. Matahari Putra Prima beberapa waktu yang lalu pada sebuah media online, momentum Ramadhan dan Lebaran yang memiliki jangka waktu siklus selama 45 hari, ternyata bisa mencapai 30% dari total omset tahunan dari perusahaan tersebut. Artinya, para penjual retail pasti sadar, bahwa bulan melakukan penjualan sebesar-besarnya. Disini kemudian, mereka berusaha melakukan berbagai cara untuk meningkatkan penjualan.

Ini membuat angka pertumbuhan penjualan retail selama bulan Ramadhan 2015 ini menjadi sangat penting. Pemodal bisa melihat angka ini sebagai prediktor dari kondisi sektor retail dan kekuatan daya beli masyarakat hingga akhir tahun, dan juga kondisi ekonomi hingga akhir tahun. Jika angka pertumbuhan penjualan retail selama Puasa dan Lebaran ini tidak terlalu bagus, siap-siap saja akan data-data ekonomi yang buruk pada bulan-bulan berikutnya.

Perang Melawan Perlambatan Pertumbuhan Ekonomi

Ramadhan di tahun 2015 ini, sebenarnya agak berbeda dengan biasanya. Setelah bertahun-tahun terakhir Ramadhan berlangsung pada ‘ekonomi yang sedang tumbuh’, Ramadhan kali ini berlangsung pada ‘ekonomi yang sedang mengalami perlambatan’. Ini yang membuat Ramadhan kali ini berbeda. Memang, beberapa tahun yang lalu, kita sudah pernah merasakan Lebaran yang buruk, baik ketika Crash Pasar Modal 2008, dan ketika harga BBM dinaikkan sebelum bulan Puasa. Akan tetapi, dengan posisi start buruk yang dilakukan oleh Tim Ekonomi dari Pemerintahan Jokowi memunculkan sebuah pertanyaan besar: apa yang akan terjadi pada pemerintahan Jokowi jika nanti angka pertumbuhan ekonomi kuartal kedua 2015 ternyata buruk? Apakah hanya Tim Ekonomi yang kemudian harus lengser? Ataukah ada insiden Kudatuli Babak Kedua? Adanya pengumuman pertumbuhan ekonomi kuartal kedua 2015 yang akan diumumkan di sekitar Lebaran, menjadi hati saya menjadi khawatir. Galau.

Penutup

Ah… ini kan bulan puasa. Bulan Puasa itu.. kita harus mengurangi prasangka buruk. Kita harus menghindari untuk berpikir akan hal yang tidak-tidak. Tapi tetap saja, belakangan, karena saya merasa bahwa kondisi sudah sedemikian buruk (seakan-akan sudah pingin menyerah rasanya), saya belakangan hanya menyarankan pada investor untuk melakukan posisi trading, dengan hanya melihat faktor teknikal dari pergerakan harga. Maklum saja, kondisi dalam negeri yang buruk, masih ditambah dengan kondisi luar negeri yang buruk sebagai akibat dari Krisis Hutang Yunani dan persiapan dari The Fed untuk mulai melakukan kenaikan suku bunga. Belum lagi bubble yang terjadi pada Bursa Shanghai yang terlihat siap meletus setiap saat. Semua ini membuat saya merasa harus mempersiapkan hati untuk bisa terus bersabar dalam menghadapi tantangan kedepan.

Satu hal yang menjadi pedoman untuk memprediksikan pergerakan harga (selain analisis teknikal tentu saja): harga saham adalah fungsi saat ini dari kondisi masa yang akan datang. Kalau kondisi saat ini jelek, belum tentu harga akan bergerak turun, selama pasar melihat bahwa kedepan, kondisi akan menjadi lebih baik. Ketika kondisi jelek tapi harga tidak mencetak level terendah yang baru, disitu saat diawalinya sebuah rally, sebuah bullish market.

Happy trading… semoga barokah!!!
Satrio Utomo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Visit Website of Our Visitors

%d bloggers like this: