Loh? Kok IHSG Tidak Bisa Longsor Seperti Shanghai?*

150708 Shanghai Crash

Selamat pagi…

Berbeda dengan Shanghai dan Hangseng yang turun lebih dari 4% hari ini… IHSG tetap terlihat kuat.  Memang sih masih terkoreksi.  Tapi… koreksi IHSG hanya sebesar 0,12 persen atau kurang dari 10 poin. IHSG masih dengan mudah bisa ditutup positif.  Kok bisa? Kok bisa IHSG terlepas dari grafitasi kejatuhan dari Bursa Shanghai.

Saya mencoba meramu penjelasannya… bahan utamanya adalah dari artikel menarik yang tadi sudah saya sharing lewat twitter tentang apa yang terjadi pada Bursa Shanghai. Tapi.. diluar itu.. sebenarnya ada beberapa fakta yang menarik juga.

Prolognya begini:

Ekonomi China sudah beberapa tahun terakhir sedang mengalami perlambatan pertumbuhan.  Dengan kondisi ekonomi yang memburuk, orang kemudian mencari aktifitas ekonomi yang bisa mendatangkan uang.  Salah satunya adalah dengan cara berspekulasi (bukan berinvesasi lagi loh ya… hehehe) di Bursa Shanghai.

Aksi mereka ini… kemudian membuat harga saham di Bursa Shanghai melesat tinggi.  Untuk tahun 2015 ini saja.. indeks Shanghai Composite sudah naik lebih dari 50%.

Kenaikan ini juga didukung oleh perubahan aturan margin yang drastis semenjak 2010.  Dalam artikel pada FT.com, Explainer: Margin Finance in China dijelaskan bahwa aturan margin di China telah mengalami perubahan yang sangat drastis.  Aturan margin yang baru diperkenalkan pada tahun 2010, pada awalnya hanya memperbolehkan investor yang sudah berpengalaman, dengan jaminan minimal sebesar sebesar 500.000 RMB (senilai sedikit diatas Rp 1 miliar), kemudian berubah menjadi bisa dilakukan oleh investor yang cukup awam… dan bisa dilakukan dengan tanpa jaminan!!!

Apakah itu sudah semuanya? Apakah aturan margin ini yang membuat indeks Shanghai melejit sampai 50% dalam 6 bulan di 2015 ini?

Bukan… bukan hanya itu.  Dalam ulasan yang lain juga disebutkan bahwa tingkat pendidikan dari spekulan di Bursa Shanghai memang sangat buruk.  Lebih dari 2/3 spekulan pada Bursa Shanghai hanya lulusan SMP!!! Anda coba cek di tulisannya deh. Saya tidak yakin pada fakta berikutnya yang ada pada tulisan itu:

More than two thirds of China’s new equity investors exited the education system by middle school — which in China is around the age of 15, data from the China Household Finance Survey (CHFS) showed.

More than 30% exited at age 12 or below.

Saya tidak yakin dengan alinea yang kedua.  Itu 30% tidak lulus SD.  30% dari mana? 30% dari 2/3 tadi? atau 30% dari seluruh investor? kalau 30% dari seluruh investor.. berarti investor di Bursa Shanghai terdiri dari 66% lulusan SMP .. dan 30% drop out SD! Wow.. keren banget kan? Berarti …

spekulan di Bursa Shanghai yang ‘berpendidikan’ ternyata hanya sebanyak 4% dari seluruh investor (!?!?!?)

Hehehe… Serius niy?

So… jangan heran kalau Indeks dari bursa Shanghai dan Hang Seng benar-benar sangat volatile.

Bagaimana koreksi tersebut akan mempengaruhi pergerakan IHSG?

Sebenenarnya siy… pengaruhnya hanya faktor sentimen saja.  Sama dengan Krisis Yunani kemarin.  Pengaruhnya hanya sentimen.

Apakah pengaruh fundamentalnya memang tidak ada?

Jangan bilang begitu.  Kalau kita melihat beberapa tahun yang lalu… bullish market pada harga komoditas juga dipicu oleh aksi beli dari pemodal China.  Menurut pengamatan dari teman saya yang memantau harga komoditas, harga logam juga semalam ikut mengalami kejatuhan.  Jadi… jangan heran kalau saham-saham komoditas (terutama logam dan batubara) akan terpengaruh dengan koreksi yang ada di negeri China itu.

Krisis dari Bursa Shanghai ini bisa mempengaruhi harga saham di bursa kita melalui harga komoditas.

Tapi.. inget ye? Market kita kan tidak seperti market 2008 dimana saham-saham komoditas merupakan penggerak utama dari IHSG.  Market kita saat ini.. bobot dari saham komoditasnya sudah tidak besar lagi.  Pengaruhnya ada … tapi saya harap… pengaruhnya tidak besar.

Apakah Krisis seperti di Shanghai tidak mungkin terjadi di Indonesia?

Aturan margin di Bursa Efek Jakarta jauh dengan apa yang ada pada Bursa Shanghai.

  1. Karena di Bursa Shanghai jaminan untuk posisi margin bisa 0 (nol) maka semua orang bisa menggunakan margin.  Di Indonesia, aturan margin kita masih ketat dengan minimal sekitar Rp 100 juta – Rp 200 juta.  Disini.. hanya pemodal yang berkantong cukup tebal saja yang bisa menggunakan fasilitas margin.  Tidak semua orang.
  2. Setelah bebagai krisis… posisi margin dari nasabah di perusahaan sekuritas memang tidak besar.  Sense of crisis dari trader Indonesia masih sangat tinggi sehingga mereka ekstra hati-hati. Memang ada sekuritas disini yang memberikan fasilitas margin hingga 1:4 (posisi 4 kali lebih besar dari jaminan).  Akan tetapi.. yang berani ambil juga tidak banyak.

 Jadi.. Ini bagaimana pak?

  • Krisis di Bursa Shanghai itu… kalau terjadi di Indonesia…  hanya bisa terjadi pada Pasar Batu Akik.  Itu loh.. masalah tingkat pendidikannya.
  • Akan tetapi… IHSG belum tentu bisa terbebas dari krisis tersebut.  Koreksi yang terjadi pada harga komoditas, sebaiknya membuat kita berhati-hati pada saham sektor tersebut.

Saya sih tetap dalam pendapat tadi pagi.  Selama suport IHSG di 4825 masih bertahan, saya masih tetap bullish.  Akan tetapi .. untuk posisi beli… saya kepingin melihat pergerakan indeks Dow Jones Industrial (DJI) barang semalam lagi.  Selama ini siy… DJI tidak tertarik dengan issue ini.  Tapi kita lihat deh.

Pagi tadi … saya kembali ‘mengayun’ posisi yang kemarin sore sudah saya lakukan.  Cukup bagus sih.. karena pagi tadi banyak pemodal yang ‘hajar kanan’ setelah melihat DJI.  Tapi… sore ini sepertinya saya tetap kepingin ada posisi.

Hadeeeh.. masih bisa baibek di harga rendah enggak ya? Ini ada yang jagain market.  Harga dari saham-saham yang saya minati siang hari ini.. kok sudah mulai kembali ke harga saya lepas tadi pagi.  Hehehe.

Kita lihat nanti sore deh…

Happy trading… semoga barokah!!!

Satrio Utomo

*dislaimer ON

Comments
3 Responses to “Loh? Kok IHSG Tidak Bisa Longsor Seperti Shanghai?*”
  1. ilham alhamid says:

    Wah, saya sebagai lulusan SMP cukup tersinggung dengan tulisan ini… apalagi di Indonesia sudah terbukti bahwa lulus SMP saja sudah cukup untuk dipercaya jadi menteri… harusnya bursa efek Indonesia malah memberi kesempatan yang seluas2nya kepada tukang becak, pedagang kakilima, dsb untuk dapat ikut investasi di saham… lalu kalo terjadi crash seperti di Cina ini pemerintah sudah siap menalangi supaya tidak jatuh terlalu dalam.. sehingga dalam waktu singkat Ihsg bisa tembus 10.000, 20.000 dst

    • Satrio Utomo says:

      Bung Ilham…

      Kalau lulusan SMP satu.. yang merupakan leader.. memimpin orang-orang yang rasional menuju ke suatu arah yang rasional juga… menuju jalan kebaikan… itu mungkin gak masalah. Yang anda bayangkan sekarang adalah: Sekelompok orang.. jutaan orang… dimana 96% diantaranya… adalah lulusan SMP dan drop out SD. Mau dibawa kemana? Kebaikan?

      Wassalam,
      Satrio

Trackbacks
Check out what others are saying...
  1. […] mungkin sudah baca sudut pandang saya tentang Krisis Shanghai yang tengah berlangsung.  Ini memang aneh kok.  Biasanya bursa lain di Asia tidak […]



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Visit Website of Our Visitors

%d bloggers like this: