Advertisements

Samp’yan Enak 1kg! Saya 1 Ton!!!*


Selamat pagi…

Mungkin anda pernah mendengar sebuah cerita mengenai seorang Emak-emak yang membeli buah mangga dari seorang pedagang

Pedagang: Beli Mangganya Bu… enak kok ini…

Emak-emak: Yawdah…. saya beli 1 kg… langsung bungkus ya.. saya buru-buru.

Sesampai di rumah, Emak-emak tadi memakan buah mangga itu.. ternyata rasanya kecut, asam, tidak manis.  Berhubung Emak-emak ini Emak-emak militan, maka dia langsung kembali ke pedagang itu.  Sesampai disana, dari mulut Emak-emak ini langsung keluar ‘semprotan’ andalannya:

Emak-emak : Sampeyan itu pedagang bagaimana? Tukang Tipu!! Ini mangga yang saya beli kemarin, 1kg kecut semua.  Saya gak terima!! Kembalikan uang saya!!!

Pedagang: Kembalikan duit bagaimana? Ibu enak cuman punya 1kg! Saya.. PUNYA 1 TON!!!

Sekarang begini: kita di pasar modal.  Weblog ini, adalah weblog pasar modal.  Tahu kah anda bahwa di Pasar Modal sering terjadi hal yang sama? Kejadian yang serupa, sering kali terjadi ketika market bearish… terutama ketika

Value Investor: Ayo Bro.. kita beli saham ini… valuenya murah.. PER rendah! EV/EBITDA rendah!!!

Inpestor : Pak.. tapi itu kan saham gak likuid… kalau market jelek nanti bagaimana?  Tapi gpp deh. Bapak kan sudah jadi milyarder gara-gara investasi Bapak.. Saya ikutan deh… ini.. semua tabungan saya Rp 100 juta saya belikan saham itu!

Market bearish.. kemudian crash.  Inpestor tersebut kembali ke Sang Value Investor.

Inpestor: Pak.. saya nyangkut! Potensial Loss banyak ini!!!  Bapak harus  bertanggung jawab!!!

Value Investor: Pak… Bapak enak cuman nyangkut Rp 100 juta.  Saya Rp 100M!!! Saya harusnya marah lebih kenceng dari Bapak!!!

Value investing memang semakin berkembang belakangan ini.  Banyaknya cerita sukses dari ‘Yuk Nabung Saham’ ditambah kesuksesan dari orang-orang yang menganut value investing, membuat orang semakin menyukai metode ini.  Masalahnya, saya selalu melihat adanya sisi negatif dari Value Investing : mereka sering kali lebih fokus untuk mencari saham yang undervalue, dengan tanpa memperhatikan likuiditas dari saham tersebut.  Yang terjadi kemudian: Value Investor ini, kemudian seakan berfungsi sebagai bandar.  Posisi mereka terlalu besar sehingga meskipun mereka diatas kertas untung, tapi jika mereka melikuditasi saham yang tengah mereka pegang, bisa jadi ujung-ujungnya mereka rugi.  Yang paling kacau: orang yang mengikuti jejak Value Investor ini dalam mengakumulasi saham itu.  Bukan cuman nyangkut (karena average buy dari follower ini biasanya lebih tinggi dari Sang Value Investor), posisi mereka menjadi semakin tidak aman karena jika value investor tersebut kemudian melepas posisi, usaha average down yang mereka lakukan malah bisa menjadi buffer bagi Sang Value Investor untuk melakukan posisi jual.  Belum lagi, kalau kemudian di saham-saham ini banyak ‘kompor-kompor’ yang disusupkan oleh Market Maker yang juga ikut masuk ke saham ini.  Bisa semakin babak belur para pengikut Value Investor ini.

So.. pada dasarnya… Pasar kaki lima dan pasar modal itu sama saja.  Omongan pedagang… pagi sore bisa berbeda.  Menjaga diri dari resiko, itu adalah kewajiban kita masing-masing.  Semua agar bisa selamat, sampai pada tujuan investasi kita.

Happy trading… semoga barokah!!!

Satrio Utomo

*disclaimer ON

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

  • Visit Website of Our Visitors

%d bloggers like this: