Advertisements

Inpestor oh Inpestor…*


Selamat pagi…

Bagi mereka yang ingin supaya aset yang dimiliki bertambah, kepingin kekayaannya bertambah, salah satu yang bisa dilakukan adalah melakukan investasi.  Dalam investasi ini, mereka membeli aset, yang diharapkan di masa mendatang bisa mengalami peningkatan nilai.  Mereka menabung, deposito, beli tanah, emas, saham, reksadana, dll.  Saham adalah salah satu dari alat investasi.

Ketika memilih Saham sebagai media untuk berinvestasi, media untuk mengembangkan aset, sering kali … kerap kali .. orang sebenarnya tidak tahu apa yang dilakukannya.  Cara terbaik atau strategi terbaik ketika melakukan beli jual saham sebagai pilihan dari investasi, adalah menjadi seorang investor.  Menjadi Value Investor tepatnya.  Warren Buffet adalah seorang Value Investor.  Sudah banyak Value Investor yang berhasil.  Itu yang membuat orang jadi Investor.

Inpestor adalah sesuatu yang lain.  Inpestor bukanlah Investor.  Saya sebut sebagai Inpestor karena ‘mereka merasa melakukan investasi’, padahal mereka sebenarnya tidak tahu apa yang mereka lakukan.  Investor yang keliru, itulah inpestor ini.  

Ada banyak metode untuk bisa menjadi seorang Inpestor.  Ada banyak jalan yang bisa dilakukan orang untuk menjadi seorang inpestor, untuk melakukan investasi padahal dia sebenarnya sedang menempuh jalan yang salah.  Berikut adalah beberapa jalan yang salah, yang menjadikan seorang Investor menjadi seorang Inpestor.

Membeli saham tanpa ilmu

Beli saham itu, ada ilmunya.  Ilmu beli jual saham, itu ada dua basisnya: investasi atau trading.  Ketika berinvetasi, orang melakukannya berdasarkan analisis fundamental.  Ketika trading, orang melakukannya (sebagian besar) dengan menggunakan analisis teknikal.  Artinya: ketika orang melakukan beli jual saham, dia harus mampu melakukan analisis fundamental, dan (kemungkinan juga) analisis teknikal.  Minimal salah satu diantaranya deh.  Tapi untuk menjadi investor, memang butuh pengetahuan tentang analisis fundamental.  Beli Jual saham itu tidak sekedar Buka Akun, terus pencet F2 dan F4.  Semua ada ilmunya.  Untuk menjadi investor yang handal, juga ada ilmunya, juga harus belajar.  Tidak hanya sekedar duduk manis sambil pencet F2 dan F4.

Investasi bukan pada Saham Murah

Ketika berinvestasi, orang melakukannya berdasarkan analisis fundamental.  Melalui analisis fundamental, mereka kemudian menemukan value stock, saham yang secara fundamental murah yang diharapkan di masa mendatang memiliki nilai yang sangat jauh tinggi dibandingkan harga sahamnya sekarang.  Masalahnya: sebagian orang sering kemudian hanya fokus pada ‘value stock’, bukan ‘value stock yang murah’.  Mereka ini berinvestasi pada ‘value stock’ padahal harganya sudah mahal. Akibatnya : ketika harga saham terkoreksi, mereka tidak siap.  Ketika kerugian yang terjadi sudah besar, disitu biasanya mereka mulai waspada.  

Membeli dengan untuk kepentingan jangka pendek, tapi nahan posisi ketika nyangkut.

Investasi itu untuk jangka panjang.  Trading saham itu untuk jangka pendek.  Investasi dilakukan pada saham murah (value stock) dan di simpan untuk jangka panjang.  Trading itu dilakukan pada saham macam mana saja, selama harga masih bisa bergerak naik.  Konsep dasar yang paling sederhana dari trading adalah : Beli ketika mau naik, Jual ketika mau turun.  Problem pada seorang inpestor: mereka melakukan posisi jangka pendek (trading), tapi ketika gagal untuk melakukan posisi jual di harga yang lebih tinggi, mereka kemudian hold posisi, menyimpan posisi.  Ini yang membuat seorang menjadi Inpestor Nyangkuters : orang tadinya maunya trading.. kok malah kemudian jadi investor dadakan.  

Membeli hanya berdasar pada berita

Seorang investor melakukan posisi beli berdasarkan analisis fundamental yang dilakukannya dengan berdasarkan analisis fundamental yang dilakukannya, pada saham yang secara fundamental dirasa murah.  Setelah melakukan posisi beli, investor ini kemudian mengamati perkembangannya dengan melalui berita yang ada di berbagai media.  Masalah kemudian muncul ketika seorang inpestor , ‘kadang kala’ (biasanya sih ‘sering kali’.. hehehe) langsung pada tahap kedua : beli saham dengan melihat berita yang ada.  Padahal: baca berita itu, ada di tahap kedua… mencari saham bagus, mencari value stock, itu ada di tahap pertama.  Jadilah seorang investor menjadi inpestor : nyangkut gak jelas pada ‘saham yang dulu beritanya bagus’.  Berita bagus itu bukan ‘dasar’ (bukan fundamental) dari seorang investor melakukan posisi beli.  Analisis Fundamental itu bukan Analisis Berita Fundamental.  Kesalahan ini yang membuat seorang investor menjadi inpestor.

Membeli hanya berdasar pada rumor

Beli saham ‘hanya’ berdasarkan berita saja sudah salah, apalagi beli berdasarkan rumor. Rumor itu kabar angin… sumbernya gak jelas.  Mau menjadi investor dengan melakukan posisi beli berdasarkan rumor? Tar dulu kale.  Jangan melakukan ketololan kuadrat.

Membeli saham hanya ‘ikut-ikut Si Nganu’

Di pasar modal kita, sudah banyak value investor yang berhasil.  Mengikuti keberhasilan mereka dengan melakukan value investing adalah sebuah cara yang cerdas.  Masalahnya: kalau kemudian kita ikutan beli berdasarkan cerita Si Nganu (si Nganu ini seorang value investor), maka hasilnya bisa jadi akan sangat berbeda.  Si Nganu bisa saja membeli saham berfundamental murah (value stock) ketika harganya masih rendah.  Ketika dia bercerita (dalam sebuah forum atau seminar), maka dia sebenarnya sudah dalam posisi untung.  Ketika seorang Inpestor kemudian mengikuti posisi yang dilakukan oleh value investor tersebut…. yah.. bagus-bagusnya kalau inpestor masih beli ketika sang value invstor masih dalam posisi akumulasi.  Akan tetapi… kalau kemudian dia melakukan posisi beli beberapa bulan setelah itu… ketika harga sudah naik tinggi.. bisa jadi Inpestor melakukan posisi beli ketika Investor sedang dalam fase distribusi.  Ya sudahlah.. jadilah Inpestor tersebut ‘ketaikan‘ (basa Jawanya : mangan taine) Sang Value Investor.  Investor harus melakukan transaksi berdasarkan analisis fundamentalnya sendiri, bukan berdasarkan analisis fundamental yang dilakukan oleh orang lain. 

Investasi tapi menggunakan Margin

Ingin cepat kaya adalah fitrah dari manusia.  Itu yang juga muncul ketika seseorang melakukan investasi.  Nah.. ketika dana yang diinvestasikan ini ternyata cuman terbatas (cuman sedikit deh pokoknya), Inpestor kemudian melakukan short cut, mengambil jalan pintas: memakai fasilitas margin yang dimiliki oleh perusahaan sekuritas.  Setiap perusahaan sekuritas pasti menginginkan pendapatan tambahan diluar biaya transaksi.  Salah satu cara yang dilakukan adalah memberikan fasilitas hutang (margin) pada nasabahnya yang ingin membeli saham.  Fasilitas ini tentu saja tidak gratis… ada beban bunga yang harus dibayar.  Kalau di manajemen keuangan ada hitungan seperti ini: selama pendapatan lebih besar dari pada biaya, maka investasi itu bisa dilakukan.  Masalah ketika seorang Inpestor menerapkan hitungan ini pada saat berinvestasi saham: ketika value jangka panjang lebih besar daripada bunga margin, maka pakailah margin!  Yang ada ya BOCHOR!! BOCHOR!! BOCHOR!!!!! Bunga margin itu berapa bro? Kalau yang murah mungkin masih sekitar 15%-18% .. tapi kalau anda menggunakan late payment (pembayaran terlambat), itu bunganya 3% per bulan alias 36% pertahun.  Investasi apa yang dilakukan? Kalau Investasi yang dilakukan oleh seorang value investor yang benar, mungkin saja bisa.  Tapi kalau kita hanya seorang Inpestor yang bisanya cuman ngikut dan gak mau bikin valuasi sendiri.. hasilnya jelas GATOT.. GAGAL TOTAL!!!  Eh.. jangan lupa: Perusahaan Sekuritas juga mau cari aman loh.  Kalau kerugian anda sudah sedemikan besar sehingga kekayaan Inpestor sudah kempes hingga ‘hampir’ sebesar hutang yang diberikan, Perusahaan Sekuritas pasti juga menarik dananya… melakukan forced sell.  Kalau sudah ini yang terjadi

So… mana yang anda pilih… jadi Value Investor … atau menjadi Inpestor? Saya sih trader.. jadi saya tahu apa yang saya lakukan. Saya juga broker, sehingga sudah melihat terlalu banyak orang yang rugi besar habis habisan hingga dibenci oleh anak, istri, mertua, dan orangtuanya cuman gara-gara dia menjadi sehingga Inpestor.  Itu yang membuat saya cukup rasional untuk tidak menjadi seorang Inpestor.

Anda masih kepingin jadi Inpestor?

Happy trading… semoga barokah!!!

Satrio Utomo

*bacalah halaman disclaimer sebelum melakukan posisi beli atau posisi jual setelah membaca ulasan ini.  

Advertisements
Comments
One Response to “Inpestor oh Inpestor…*”
Trackbacks
Check out what others are saying...
  1. […] sebelum anda binun.. baca dulu perbedaan antara Investor dan Inpestor pada tulisan ini. Terima […]



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

  • Visit Website of Our Visitors

%d bloggers like this: