Advertisements

Lo Kheng Hong dan Pergerakan Harga…(Lengkap)*


Assalamu’alaikum selamat pagi…

Hari Jumat kemarin… saya nemu artikel menarik dari senior saya, Mas Lukas Setia Atmaja, sesama penulis Wake Up Call di Koran Kontan.  Tulisannya berjudul Lo Kheng Hong dan Saham Properti.  Isinya mengenai transaksi saham LPCK yang dilakukan oleh Lo Kheng Hong.  Bagaimana ceritanya? Marilah kita baca sebagian besar dari tulisan Mas Lukas berikut ini (tulisan ini sudah saya copas atas ijin dari Mas Lukas).

———-

Pembaca tentu masih ingat booming properti yang melanda Jakarta dan sekitarnya di periode 20092014 silam. Harga properti di daerah Alam Sutera, Serpong dan Bintaro, melambung tinggi.

Harga properti selama periode booming tersebut naik rata-rata 30% hingga 40% per tahun. Meskipun tidak membeli properti secara langsung, ternyata LKH juga ikut menikmati keuntungan dari kenaikan harga properti tersebut.

Kok, bisa? Caranya, LKH berinvestasi pada saham-saham perusahaan properti. Hasilnya, keuntungan yang ia peroleh dari pasar saham bahkan jauh melebihi keuntungan yang diperoleh investor yang membeli properti secara langsung.

LKH membeli saham PT Lippo Cikarang Tbk (LPCK) sekitar awal Juni 2011. Saat itu, harga perusahaan pengembang properti ini masih sebesar Rp 600 per saham. Berdasarkan laporan keuangan per akhir Maret 2011, nilai buku per saham LPCK saat itu adalah sebesar Rp 853 per saham, dengan laba bersih per saham atawa earnings per share sebesar Rp 43,75 per kuartal.

Jika dihitung setara dengan setahun, makan laba bersih per saham LPCK mencapai sekitar Rp 175 per saham, yakni dari Rp 43,75 per saham dikali dengan empat kuartal. Dengan harga beli sebesar Rp 600 per saham saat itu, rasio harga terhadap pendapatan ini atau price earnings ratio saham LPCK hanya sebesar 3,4 kali.

Sementara rasio nilai buku terhadap harga atau price to book value (PBV), yang merupakan harga pasar saham dibagi dengan nilai buku per saham, hanya sebesar 0,7 kali. Selain itu, LPCK memiliki land bank yang cukup besar.

LKH juga mempertimbangkan fakta bahwa harga pasar tanah milik perusahaan properti ini sudah naik banyak dibandingkan dengan nilai tanah yang tercatat di laporan keuangan. Karena PER saham saat itu masih lebih kecil dari 5 kali dan PBV lebih kecil dari 1 kali, LPCK memenuhi kriteria LKH sebagai saham salah harga alias kemurahan (underpriced). LKH pun tidak ragu membeli saham perusahaan properti ini.

Karena saham LPCK pada waktu itu tidak terlalu likuid, awalnya LKH membelinya secara perlahan-lahan di pasar reguler. Kemudian, datanglah kesempatan untuk membeli saham perusahaan anggota Grup Lippo tersebut dalam jumlah besar secara cepat. Ketika itu, pialang saham LKH menawarkan 25 juta saham LPCK milik salah seorang klien besarnya. Sebut saja namanya Mr. X. Nah, Mr. X ingin melepas saham ini karena kurang likuid.

Meski memang ingin membeli saham LPCK dalam jumlah banyak, LKH juga mempertimbangkan faktor likuiditas saham ini. Sehingga, saat itu LKH hanya bersedia membeli 15 juta saham LPCK. Sisanya akhirnya dijual oleh Mr.X ke pasar reguler. Belakangan LKH membeli lagi saham LPCK di pasar reguler sebanyak 1 juta lembar. Dengan demikian, secara total, ia memiliki 16 juta saham LPCK.

Seperti biasa, nasib baik menaungi perjalanan LKH mendulang cuan di pasar saham. Baru disimpan selama delapan bulan, ternyata harga saham LPCK naik tinggi. Penyebabnya, saat itu harga properti di Jakarta dan sekitarnya mulai melambung tinggi.

LKH lantas menjual semua saham LPCK yang ia pegang pada harga Rp 2.400 per saham. Dengan demikian, ia berhasil meraup keuntungan sebesar 300% cuma dalam waktu sekitar delapan bulan. Total keuntungan yang dinikmati LKH dari investasi 16 juta saham LPCK tersebut adalah sekitar Rp 29 miliar.

Setelah LKH menjual sahamnya, ternyata booming properti belum berakhir. Harga properti saat itu masih terus naik tinggi. Tentu saja, harga saham LPCK juga ikut terus melambung.

Pada Juni 2013, harga saham LPCK mencapai Rp 10.300 per saham. Bahkan, pada April 2015, harga saham LPCK sempat menyentuh Rp 12.125 per saham. Bayangkan saja keuntungan yang bisa diraup oleh LKH, seandainya ia tidak menjual saham yang ia pegang di harga Rp 2.400 per saham.

Namun LKH tidak menyesalinya. “Saya mensyukuri sudah memperoleh capital gain sebesar 300% dalam tempo hanya delapan bulan,” kata LKH.


Cerita mengenai keberhasilan dari Lo Kheng Hong (LKH) untuk memperoleh cuan.. selalu menarik untuk disimak.  Pada tulisan ini… saya mencoba melihatnya dari sisi lain.  Saya mencoba menterjemahkan cerita dari Mas Lukas tadi ke dalam gambar yang kira-kira bentuknya seperti berikut ini:

Posisi LKH dan beberapa momen penting pergerakan harga LPCK

Ada beberapa hal yang menjadi catatan penting dari gambar dan cerita tersebut:

  1.  Lo Kheng Hong (LKH) membeli saham itu dengan harga Rp 600.
  2. LKH menjual di harga Rp 2.400.  LKH untung 4x lipat.. 400 persen!
  3. Setelah LKH menjual, harga bergerak naik, dan sempat mencapai level Rp 10.300 di tahun 2013 dan Rp 12.125 di 2015.

Sekarang.. saya ‘bumbui’ gambar tersebut dengan narasi saya:

Fund Manager (alias ‘Bandar’) memanfaatkan Hype dari LPCK

Kenaikan harga pada saham LPCK, tidak berhenti setelah LKH melepas saham.  Setelah LKH melepas saham, hype .. atau ‘sakaw’-nya market dari LPCK.. baru saja mulai.  Setelah LKH melepas sahamnya, cerita dari keberhasilan LKH melakukan ‘investasi’, menjadi daya tarik orang untuk membeli saham LPCK menjadi semakin tinggi.  Cerita bagaimana bagusnya kondisi fundamental dari LPCK kemudian ‘disebarkan’ dengan intensitas yang sangat tinggi. Research report, seminar, gathering, semuaya membicarakan bagaimana ‘hot’-nya LPCK ini.    Harga LPCK kemudian bergerak naik… dari sekitar Rp 4.000 (daerah A) .. ke 10.300.. turun lagi ke sekitar Rp 8.000 (daerah B) .. lalu ke 12.125.  Siapa penggeraknya? Bisa fund manager, big player, bandar, atau siapapun juga.  Intinya: mereka ini pemain besar.. yang mengambil keuntungan dari ‘sakaw’nya market akibat kesuksesan Lo Kheng Hong. 

Beli saham LPCK.. ini saham LKH! 
Beli saham LPCK.. ini saham LKH! 
Beli saham LPCK.. ini saham LKH!

Itu adalah berita yang kemana-mana.   LPCK Mania.. menggema di Pasar Modal.

Problem di ‘Kompor Bandar’

Beberapa waktu yang lalu, saya pernah membuat tulisan mengenai Beberapa Model Pergerakan Harga Saham yang ada di Bursa Efek Indonesia.  Pergerakan saham LPCK ini.. sebenarnya adalah model dari Pergerakan Harga Saham Eksotis, pergerakan harga dari saham yang memiliki fundamental menarik. 

Akan tetapi… tidak seluruhnya sebenarnya.  Ketika LKH beli di harga Rp 600 dan jual di harga Rp 2.400.. memang pergerakan harganya masih pergerakan harga saham eksotis.  Tapi ketika pergerakan harga kedua (dari Zona A ke Rp 10.300) dan dari Zona B ke Rp 12.125.. pergerakan saham itu bukan lagi pergerakan harga saham eksotis.  Lihat saja penjelasan saya tadi: pelaku pasarnya sudah jauh berbeda.  LKH sudah exit posisi, sudah melepas saham itu.  Yang ada sekarang.. adalah Fund Manager, Big Player, Bandar atau siapapun juga itu, yang mengerakkan harga dengan memanfaatkan Hype yang tadinya dimulai oleh LKH!  

Beberapa alasan yang mendasari argumen saya ini adalah:

  1. Pergerakan harga dari Rp 600 ke Rp 2.400 itu berlangsung cepat.  Dari Rp 4.000 ke Rp 10.350 juga berlangsung tidak lama.  Itu membuat kondisi fundamental dari perusahaan, sebenarnya tidak banyak mengalami perubahan.  Ketika harga Rp 600 ke 2.400 … harga bergerak dari PER rendah ke PER menengah (agak lebih tinggi sedikit).  Nah.. ketika 
  2. Penggeraknya sudah berubah dari ‘Pemain Fundamental’ .. menjadi Fund Manager, Big Player, atau bahkan BANDAR.  Kalau Fund Manager mungkin masih oke lah.  Kalau Big Player atau Bandar… hehehe. Faktor munculnya ‘Kompor Bandar’ ini loh… faktor ‘munculnya para cheer leaders yang ‘menyemangati pergerakan harga’ untuk membantu ‘secara langsung atau tak langsung’ sehingga Big Player dan Bandar bisa masuk keluar lebih leluasa

Faktor Kompor Bandar ini, yang membuat semuanya menjadi berbeda.  Kompor bandar ini, terutama membuat arus informasi yang tadinya murni sebagai ‘info’ .. menjadi ‘info’ yang dicampur macem-macem: ada info beneran, ada analisis, ada bombong-bombongan, bahkan ada hoaxnya juga.

Kompor bandar ini bisa berperan ‘langsung atau tidak langsung’.   Langsung ini adalah ketika Kompor Bandar tersebut memang orang yang menerima pendapatan atau menerima gaji dari Big Player atau Bandar.  Orang yang mendapat ‘first hand info’ dari Big Player atau Bandar juga termasuk dari golongan ini.  Di sisi lain.. Kompor Bandar Tidak Langsung… adalah mereka-mereka yang sebenarnya tidak memperoleh bayaran langsung atau first hand info dari Big Player atau Bandar.  Kompor Bandar Tak Langsung ini bisa merupakan: Inpestor yang sukses di saham LPCK, Para Bloggers, netizen yang terus membahas LPCK secara masif (bahkan sering kali bikin Sukses Seminar), yang terus mensukseskan Hype dari LPCK.  Mereka ini terus menggemakan: 

BELI LPCK! Fundamental Bagus! Ini saham LKH!!!
BELI LPCK! Fundamental Bagus! Ini saham LKH!!!
BELI LPCK! Fundamental Bagus! Ini saham LKH!!!

Penjahat Utama Keluar Paling Akhir

Tidak ada harga yang hanya bergerak naik.  Tidak ada trend naik yang tidak pernah berakhir.  Sebuah trend turun.. atau minimal Fase Konsolidasi, biasanya mengikuti sebuah trend naik yang kuat.  Kalau kita coba gambarkan dalam grafik pergerakan harga LPCK diatas.. maka akan muncul zona ke 3 yang saya sebut sebagai Zona C.

Pada Zona C ini.. biasanya muncul Kompor Bandar yang paling jahat.  Jahat karena biasanya.. tugas mereka adalah ‘menyangkutkan posisi inpestor’.  Bagi Kompor Bandar yang merupakan bayaran Bandar/Big Player/Fund Manager, tugas mereka adalah mendorong pasar untuk melakukan posisi beli, ketika Junjungannya (orang yang memberi mereka bayaran) tengah melakukan posisi jual.  Kalau yang kelas ‘Informan’.. itu situasional siy.. kadang memang mereka juga diminta terus memberikan rekomendasi beli… tapi sebagian yang lain.. memang untuk ‘dibuat nyangkut’ (diinpestorkan).  Big Player memanfaatkan nasabah yang dimiliki oleh Broker.. jika nasabah itu nyangkut, kan berarti Big Player ini bisa melepas barang.  Nah.. yang kadang baik kadang jahat.. itu adalah Kompor Bandar yang berlabel ‘Inpestor Sukses’.  Mereka ini orang yang memiliki ilmu lebih, sering bikin seminar, gathering dll.  Mereka sebenarnya sering kali memberikan rekomendasi berdasarkan pendapat mereka sendiri… analisis mereka sendiri.  Jadi.. kalau mereka memberikan rekomendasi dan salah.. itu kadang karena mereka memang ‘tidak cerdas’ (tolol)… tololnya ketika itu doang..  dalam kasus ini.. ketika di saham LPCK doang.  Cuman masalahnya… 20 tahun di pasar modal… saya banyak ketemu ‘Inpestor Sukses’ yang tololnya konsisten.  Tololnya konsisten itu dalam artian: kalau saham masuk di Zona C seperti ini, rekomendasinya kenceeeeeeng sekale.  Gak cuman di satu saham.. tapi diulang di saham X, diulang di saham Y, diulang di saham Z.  Terusssss… diulang.  Jadi.. sebagian memang tolol ketika memberikan rekomendasi beli ketika harga di Zona C ini.  Tapi sebagian lain.. tololnya ‘mencurigakan’ … mencurigakan jangan-jangan mereka memang ‘mendapatkan manfaat finansial’ (entah dapet bayaran, atau mereka malah ikutan jualan) dari rekomendasi salah yang mereka lakukan.  Ini hal yang sudah beberapa kali saya temui.

Dan.. kemudian .. setelah Zona C .. harga bergerak turun.  Inpestor Nyangkuters masih diberi harapan dengan adanya berita ‘Meikarta’ .. tapi.. ketika Meikarta kemudian bermasalah… hehehe.  Inpestor Nyangkuters .. benar-benar sangat tersiksa.

Sekarang bayangkan: bagaimana kalau Inpestor Nyangkuters itu.. adalah mereka yang ikut program ‘Yuk Nabung Saham’.  Betapa jahatnya para Kompor Bandar itu.. yang sudah menyangkutkan mereka!

Siklus seperti LPCK ini.. adalah keseharian pasar modal kita.  Value Stock harga murah – dibeli Kheng Hong – dijual Kheng Hong – digoreng bandar – kompor bandar bikin nyangkut Inpestor.  Kadang harga masih bisa bergerak naik lagi karena Bandar kembali menggoreng saham itu.  Tapi sebagian yang lain.. ya diam saja.  Kalau pas ancur… ya ada bonus dibelakangnya : Jleb! Pake tusukan seperti LPCK ini.  Kena tusuk Kasus Meikarta vs KPK.  Tapi yang lain.. seringnya hanya diam saja.  Kasus seperti ini menjadi keseharian karena Kheng Hong terus menemukan saham-saham value stocks untuk berinvestasi.  INDY .. INKP … adalah dua contoh diantaranya.  Gak tau lagi yang lain.  Nanti kan ada lagi.. ada lagi.. dan ada lagi.  Karena Kheng Hong selalu menemukan saham baru untuk wahana investasinya.

Apakah Kheng Hong Jahat? Apakah Pak Tommy Anti Value Investing?

Bentar… kalau kesimpulan anda adalah bahwa saya menuduh Kheng Hong sebagai Penjahat… berarti anda melewatkan banyak hal dalam tulisan saya.  Anda lihat di gambar Pertama: disitu.. Kheng Hong sudah beli.. jual.. dalam kondisi profit.  Beli jual dengan menggunakan analisis.. adalah hal yang baik di pasar modal.  Lo Kheng Hong tetap Lo Kheng Hong yang saya kenal.  Saya juga melakukan ‘beli jual saham berbasis analisis’ ini… meski .. alat analisis kami beda.  Nah.. karena alat analisis yang digunakan oleh Kheng Hong adalah Value Investing… ya berarti Value Investing itu alat analisis yang bagus… alat analisis yang menguntungkan.  Apa yang dilakukan oleh LKH ini masih bisa dibilang cara cari duit di pasar modal yang fair.  Saya tidak anti kepada orang yang ‘cari duit di pasar modal dengan cara yang fair’.

Masalahnya adalah ‘orang yang mengambil harta orang lain dengan cara yang batil’ serta orang yang harus ‘menipu’: memberikan rekomendasi beli ketika dia(atau Junjungannya) sedang dalam posisi jual, dan memberikan rekomendasi jual ketika dia (atau Junjungannya) ketika dia sedang melakukan akumulasi.  Memasok pasar dengan berita-berita bohong, memasok pasar dengan berita hoax.  Kompor Bandar yang jahat.. itu saya anti.  Ada memang … yang tolol.. ya kalau itu.. saya cuman bisa prihatin.  Tapi.. kalau ‘Tolol-nya Konsisten’… itu yang saya suka ‘gatal’.  Masa sih ada analis fundamental bagus.. kelola duit miliaran, tapi konsisten rekomendasi strong buy kalau saham gorengan sedang berada di Zona C? Kalau cuman salah sekali-sekali.. mungkin gak masalah.  Ini salah bisa konsisten.. gimana gak kacau? Masa sih yang Tolol tapi Konsisten begini gak bisa terjangkau oleh hukum?

Pak.. Bagaimana Sikap dari OJK dan BEI terhadap hal ini?

OJK dan BEI bekerja sesuai dengan fungsinya masing-masing.  Sudah tahu tugas OJK kan? Sesuai dengan UU Pasar Modal 1995 pasal 4 … tugas OJK (ketika itu bernama Bapepam) adalah:

Pembinaan, pengaturan, dan pengawasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 dilaksanakan oleh Bapepam dengan tujuan mewujudkan terciptanya kegiatan Pasar Modal yang teratur, wajar, dan efisien serta melindungi kepentingan pemodal dan masyarakat.

Pertanyaannya kan selalu begini: itu.. LKH pemodal bukan? Pemodal kan? Terus.. Big Player/Fund Manager/Bandar .. itu Pemodal juga kan? Kompor bandar .. Pemodal juga kan? Ya sudah.. semua memang kemudian mereka semua dilindungi.  Semua sudah berlangsung sesuai dengan jalannya masing-masing.

Bursa Efek? Well… semua ini.. kan membuat transaksi bursa lebih banyak.. lebih kencang.  Gak ada masalah kan?  Mereka selalu bisa ngeles: penindakan kan ditangan OJK.. kami sudah melaporkannya ke OJK.

Kata kuncinya disini sebenarnya adalah masalah ‘Keberpihakan’.  OJK dan IDX mau berpihak kepada siapa? Investor Retail (Rakyat) atau Kapitalis (Rakyat Berduit atau pemodal besar yang diwakili oleh Big Player/Bandar/Fund Manager dan kaki tangannya)?   OJK berpihak kepada Rakyat Indonesia lah.. semua adalah Rakyat Indonesia.

Masalah bagi Inpestor Syariah…

(Note: sebelum anda binun.. baca dulu perbedaan antara Investor dan Inpestor pada tulisan ini. Terima kasih).

OJK dan IDX saja gak ambil pusing.. lantas.. Kenapa Pak Tommy pusing?  Masalahnya adalah.. karena belakangan Investasi Saham sudah bisa dilakukan oleh mereka.  Jadi .. secara sesuai dengan Fatwa Dewan Syariah Nasional (DSN) Majelis Ulama Indonesia (MUI) no 80 tahun 2011, Perdagangan Saham di Bursa Efek Indonesia sudah halal hukumnya sesuai Syariah.  Kriteria saham syariah malah sudah ditetapkan lebih dulu pada Fatwa No 40 tahun 2003.  Bagi Investor yang ingin melakukan investasi saham secara syariah, sudah bisa melakukan transaksi beli-jual saham secara halal.

Masalahnya kemudian begini.  Aturan perdagangan saham secara syariah dalam Fatwa DSN No 80 tahun 2011 (selanjutnya saya sebut sebagai Fatwa 80), sebenarnya jauh lebih detail dibandingkan dengan aturan Perdagangan di Bursa Efek Indonesia versi IDX.  Ketika Peraturan IDX hanya menyatakan bahwa ‘penyampaian informasi yang menyesatkan’ dilarang, aturan Fatwa 80 menyatakan bahwa Tadlis (penyampaian informasi palsu), Taghrir (pengaturan perdagangan), Najsy (menaikturunkan harga terlalu agresif dengan dibumbui oleh penawaran palsu), dan lain sebagainya (nanti saya bahas di artikel lain ya.. mengenai Aturan Perdangan Konven vs Syariah.. sementara terima dulu seperti ini).   Apa yang terjadi dalam Zona C tadi.. bisa jadi sulit dibuktikan sebagai informasi yang menyesatkan saat informasi tersebut disampaikan.  Akan tetapi.. kita yang melihat di lapangan.. tahu lah itu yang namanya bid offer yang kadang suka menghilang (Najsy) yang semuanya dilakukan dalam kerangka perdagangan yang dilakukan oleh pihak-pihak tertentu (Taghrir).  

Oh iya.. jangan identikkan Menggoreng Saham dengan Insider Information loh… Big Player/Fund Manager/Bandar ini bukan orang dalam perusahaan.. sehingga usaha ‘OTT’ (pinjam istilah KPK) bakal selalu gagal.  Percuma kalau kita berharap ini adalah Ghabn Fahisy (insider trading) .. karena sudah hampir pasti bahwa bukan ‘orang dalam’ pelakunya.

So.. kalau anda berpikir bahwa anda bisa ‘investasi saham syariah’ secara tenang ketika saham tersebut termasuk dalam Saham Syariah.. nanti dulu.  Lihat Kasus LPCK ini.. LPCK ini.. ketika November 2014.. ketika ‘permainan sedang hot-hotnya’ .. adalah saham syariah… ada dalam Daftar Efek Syariah Periode Desember 2014 – Juni 2015.  Jadi.. jangan dipikir kalau anda sudah Inpes pada saham syariah anda akan aman dari perilaku perdagangan yang tidak syariah.  Semua masih bisa terjadi. 

Bagi anda yang sudah mengibarkan bendera ‘Investasi Syariah’ ke dalam rekomendasi anda.. hati-hati saja.  Kejadian seperti LPCK ini kan gak cuman sekali dua kali.  Dan kedepan, pasti akan terulang lagi.  Jadi.. kalau anda kemudian ‘mendzolimi’ orang dengan masuk memberikan rekomendasi beli atau jual ketika penggorengan sedang hot-hotnya.. ingatlah akan audit yang akan dilakukan oleh Gusti Alloh di padang mahsyar nanti.   Sayang banget kalau hal-hal remeh seperti ini menjadi pemberat penghitungan anda.

So.. sebagai penutup… saya kepingin menekankan satu hal:

Saya tidak anti LKH.. saya juga tidak anti Value Investing.  Saya hanya anti dengan orang-orang yang mengambil harta orang lain dengan cara yang batil.

Semoga itu bukan anda.

Happy trading… semoga barokah!!!
Satrio Utomo

*bacalah halaman disclaimer sebelum anda melakukan posisi beli atau posisi jual setelah anda membaca ulasan ini. Terima kasih.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

  • Visit Website of Our Visitors

%d bloggers like this: