Ayam Brazil… Berulangnya Modus Operandi Penghancuran Tata Niaga di Indonesia…


Selamat pagi…

Kemarin… saya terpaksa cut loss saham CPIN yang saya miliki. Saya exit posisi, ketika melihat adanya tekanan jual yang membuat harga saham CPIN turun dibawah suport pertama di level 5.450. Rugi 3 poin. Gpp.. wis.. yang penting saya melakukan transaksi sesuai trading plan saya.

Setelah saya cut loss.. baru saya cari berita. Eh.. ternyata.. masalah Ayam Brazil kembali muncul. Ringkas ceritanya… Indonesia (katanya) kalah dalam kasus di World Trade Organization (WTO).. itu yang menyebabkan ayam beku dari Brazil (katanya) akan menyerbu Indonesia. Masalah Sengketa Ayam ini memang agak aneh ini sebenarnya. Kalau kita lihat sumber berita yang lain.. perselisihan kita dengan Brazil di WTO.. sebenarnya memang sudah diputus tahun 2017. Akan tetapi.. kita selama ini bisa ‘ngeles’ untuk tidak impor ayam dari Brazil dengan berbagai cara. Alhasil.. katanya juga.. Brazil bisa ‘memaksa’… tapi apa iya.. kalau gak ada orang Indonesia yang mau impor Ayam Brazil misalnya… Ayam Brazil itu bisa sampai Indonesia dengan sendirinya? Saya sih curiga.. kalau masalah Ayam Brazil ini kemudian muncul.. karena ada importir dari Indonesia yang sudah siap untuk melakukan impor ayam Brazil. Bisa jadi.. importir ini juga yang belakangan merupakan pemicu dari ‘kekacauan harga di tingkat petani’ yang terjadi belakangan ini.

Dalam beberapa bulan terakhir… Indonesia sedang Krisis Ayam. Krisis Ayam ini tentu saja bukan karena Anies Baswedan menutup usaha Ayam di Mangga Besar. Bukan Bro.. beda itu. Krisis Ayam yang terjadi di Indonesia ini, adalah karena adanya harga yang jatuh di tingkat Petani pasca lebaran kemarin. Satu hal yang aneh: kejatuhan harga di tingkat petani itu, ternyata tidak membuat harga Ayam di Jakarta menjadi murah. Sebagai ‘Pengusaha Ayam Bakar Asap Nyah Amez’ .. saya melihat bahwa suplier ayam saya tetap menjual ayam kepada saya dengan harga yang kurang lebih sama. Memang sih.. agak turun dari harga Rp 33.000 – Rp 38.000 per kg seperti biasanya. Tapi.. harga ayam dari ‘pengedar’ saya tetap saja diatas Rp 25.000 per kg. Harga ayam tingkat retail.. tidak mengalami penurunan. Aneh kan? Peternak Ayam yang di Jogja.. bagi-bagi ayam gratis… eh… harga ayam di Jakarta tidak turun. Buat saya, ini artinya: Yang ‘bermain’ .. adalah intermediary (baca: pedagang atau broker) ayam yang berada diantara ‘saya’ sebagai konsumen akhir (sebelum ke ‘Penikmat Ayam Bakar Asap Nyah Amez’ sebenarnya) dengan Perternak Ayam yang ada di Jogjakarta itu. Berapa ‘broker’ diantara saya dan Peternak Ayam di Jogjakarta? Hanya Alloh SWT yang tahu. Yang jelas : Harga Ayam jatuh karena Pedagang nakal. Itu benang merah yang bisa kita tarik.

Sebentar.. ‘Harga jatuh karena Pedagang Nakal’ .. apa benar ini sebuah ‘genre berita’ baru? Tentu saja tidak. Harga jatuh karena Pedagang Nakal, itu sebenarnya adalah genre yang sering terjadi di Indonesia. Sebut saja: beras, garam, gula, jagung, dan masih banyak lagi lainnya. Bumbu-bumbu ‘impor’ juga mewarnai. Berita mengenai ‘impor beras ketika panen raya ‘.. impor jagung ketika panen raya atau impor garam ketika panen … adalah berita ‘standar’ yang sering muncul di media kita. Orang seakan gak perduli… atau malah gak sadar. Ah.. cuman begitu kok. Itu kan hanya berita. Tapi saya melihatnya: loh.. ini kan modus operandi sebenarnya. Modus Operandi itu.. menurut Wikipedia .. adalah cara operasi orang perorang atau kelompok penjahat dalam menjalankan rencana kejahatannya. Iya.. rencana jahat dalam menguasai sebuah Tata Niaga.

Loh.. kok arahnya kesitu? Iya.. anda pasti sudah membaca tulisan saya sebelumnya:

  1. Indonesia itu adalah sebuah negara besar.
  2. Negara yang besar, itu angka-angkanya besar.
  3. Besarnya angka-angka itu, membuat profit yang bisa dihasilkan dari ‘pengaturan tata niaga.. menjadi sangat besar’
  4. Banyak orang-orang serakah (baca: pedagang serakah) yang kemudian mengambil kesempatan ini. Mereka ini adalah orang-orang Indonesia yang tidak nasionalis.. hanya memikirkan perut mereka sendiri.. memikirkan keuntungan mereka sendiri. Tidak memikirkan rakyat yang kemudian menjadi korban. Pedagang ini.. yang mengancurkan Industri (baca: rakyat) yang mencari nafkah dengan susah payah didalamnya (tulisan mengenai ini saya nanti saya tulis ya.. sekarang terima dulu seperti ini). Pedagang ini yang ‘menggoyang’ tata niaga.. demi keuntungan mereka sendiri.. dengan tujuan untuk menguasai tata niaga tersebut.

Nah.. Modus Operandi dari Pedagang Jahat itu.. sangatlah jelas.

  1. Tahap 1: Cari barang yang omsetnya, perputaran uang secara nasionalnya sangat besar… kalau bisa .. bahan itu adalah bahan pokok… atau barang yang tidak ada substitusinya.
  2. Tahap 2: Munculkan ‘masalah’ .. yang membuat ‘harga kacau’. Harga kacau ini… bisa terjadi ditingkat produsen (kalau bisa malah ditingkat petani sebagai mata rantai paling ujung).
  3. Tahap 3: Viralkan! Munculkan stigma ‘datangkan barang impor … kalau daripada harga melonjak tinggi begini.. mendingan kita impor saja’ .. pokoke dibuat impor deh.
  4. Tahap 4: Matikan mata rantai hulu yang paling ujung. Make sure: Petani tidak mau bertani lagi. Make sure: Peternak tidak mau berternak lagi. Kalau perlu.. kasih sertifikat pada Petani. Mudahkan Petani untuk jual tanah. Kalau Petani sudah jual tanah… atau Peternak sudah terlilit hutang.. kan tidak ada lagi pasokan dari hulu. Hulu harus hancur KO, mati tidak bisa bagun lagi.
  5. Nah.. kalau mata rantai hulu sudah mati… disitu ketergantungan pasar kepada importir (baca : pedagang) menjadi tidak terelakkan. Tidak ada pilihan lain kecuali impor!!! Disitu.. PEDAGANG JAHAT sudah menggenggam KEMENANGAN YANG SEBENARNYA!!!

Emang banyak yang beginian? Lah.. tadi saya bilang apa? Ada garam, jagung, gula, bawang merah, tembakau, dan masih banyak lagi. Yang sedang bergulir.. ini adalah Ayam dan Cabe. Lihat kedua komoditas ini.. sedang viral kan belakangan? Kedua komoditas ini sepertinya sedang memasuki Tahap 2 dari Penguasaan Tata Niaga yang sedang dilakukan oleh Para Pedagang Jahat.

Emang gak ada perlawanan dari pihak kita? Emang Rakyat Indonesia tidak melawan? Sst.. baca berita tentang Buwas vs Enggar? Hehehe. Nanti deh saya bikin tulisannya. Tapi.. itu sebenarnya sebuah case menarik…

Pertanyaan terakhir: Dimana Jokowi Berpihak? Hehehe.. itu juga nanti saya akan ulas pada tulisan saya selanjutnya. Satu hal yang bisa saya bocorkan: Keberpihakan Jokowi.. akan terlihat dari Susunan Kabinet untuk 5 tahun kedepan… kemana Jokowi lebih berpihak… terutama dalam kasus Buwas vs Enggar. Kalau Jokowi berpihak pada Buwas.. ya baguslah Indonesia kita. Tapi kalau Jokowi berpihak kepada Enggar .. siap-siap saja kita mampus kedepannya. Yang jelas.. statement dari Jokowi bahwa dia siap melakukan langkah-langkah gila untuk periode kedua masa pemerintahannya.. membuat kita seakan masih punya harapan. Harapan agar Indonesia tetap Jaya untuk masa yang akan datang.

Happy trading… semoga barokah!!!

Satrio Utomo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

  • Visit Website of Our Visitors

%d bloggers like this: