Advertisements

Posisi Beli ketika IHSG turun lebih dari 100 poin*


Selamat siang….

Bagi yang sudah lama kenal saya, mungkin sudah hafal ucapan saya ini:

IHSG turun 100 poin? BELI!!!

Ucapan itu selalu saya teriakkan ketika IHSG turun diatas 100 poin. Kalau anda lihat, sepertinya gegabah. Market lagi turun dalem-dalemnya, kok malah ada orang semangat banget bilang beli. Orang sering berpikir: ini porto lagi merah membara, kok ada orang yang malah semangat bilang beli. Mau pake duit dari mana?

Pertama-tama, kalau anda seorang trader, kalau anda sudah menerapkan ‘beli ketika harga akan bergerak naik dan jual ketika harga akan bergerak turun’ dengan disiplin, saya sih yakin bahwa ketika market turun diatas 100 poin, posisi anda akan cenderung memegang cash. Cut loss sudah anda lakukan ketika harga mulai reversal, sehingga ketika IHSG turun diatas 100 poin, anda malah sedang ada duit untuk belanja.

Selanjutnya, marilah kita melihat beberapa fakta dibawah ini yang membuat posisi spekulatif (beli) menarik untuk dilakukan ketika IHSG turun diatas 100 poin:

IHSG sudah sering turun diatas 100 poin

IHSG turun lebih dari 100 poin, sebenarnya adalah fenomena yang sudah terjadi IHSG semenjak lama. Sejak IHSG mulai dihitung di tahun 1984, IHSG sudah mengenyam koreksi diatas 100 poin semenjak awal tahun 1990-an. Kejadian pertama penuruhan IHSG diatas 100 poin terjadi pada tanggal 28 September 1990. Pada saat itu, IHSG yang pada tanggal 27 September 1990 ditutup di level 571.020, keesokan harinya sempat mencapai level terendah di 454.512 (turun 116.508 poin), sebelum ditutup di pada level 468.509. Kejadian ini terus berulang dari waktu ke waktu. Dari data yang saya himpun semenjak tahun 2006, koreksi diatas 100 poin yang pernah terjadi pada IHSG adalah sebagai berikut:

Tercatat 33 kali IHSG berada dalam koreksi lebih dari 100 poin. Distribusi frekuensinya adalah sebagai berikut:

Kejadian tersering tercatat pada tahun 2008. Pada tahun itu, IHSG sempat 15 kali terkoreksi diatas 100 poin. Semenjak tahun 2006, IHSG setidaknya setahun sekali koreksi diatas 100 poin. Koreksi diatas 100 poin adalah hal yang biasa bagi IHSG, terutama ketika IHSG sudah diatas level 2000 di tahun 2008.

Ketika IHSG terkoreksi diatas 100 poin, IHSG jarang sekali ditutup pada level terendah

Tahukah anda bahwa dari 33 kali kejadian dimana IHSG terkoreksi lebih dari 100 poin, hanya terdapat dua kesempatan dimana IHSG ditutup pada level terendah? Dengan kata lain, probabilitas IHSG untuk ditutup di level terendah hanya sebesar 6.06%, atau probabilitas IHSG untuk rebound setelah mencapai titilk terendah hingga menjelang tutup adalah sebesar 93.94%. Ok… Setelah IHSG mencapai titik terendah, IHSG kemudian rebound. Kemudian apa yang terjadi?

Sekitar 16 kejadian (atau setara dengan 48.48%), IHSG kemudian rebound sebesar 0.25% hingga 1%. Bukan hanya itu: probabilitas IHSG untuk ditutup dengan rebound 1% – 3% adalah sebesar 33.33%. Artinya, 1 dari 3 kejadian IHSG terkoreksi lebih dari 100 poin, IHSG kemudian rebound sekitar 1% – 3%. Artinya: Jika anda cermat dalam memperhatikan saat ketika IHSG mencapai titik terendah (bottoming), maka anda memiliki kesempatan yang cukup besar untuk bisa meraup keuntungan. Yah, pergerakan IHSG sebesar 1% – 3% itu, kalau saham dengan beta 1.2, berarti itu kesempatan meraup keuntungan sebesar 1.2% – 3.6%. Cukup lumayan bukan?

Hati-hati… ini adalah untuk posisi trading, bukan untuk posisi beli-simpan!

Pada koreksi yang terjadi pada tanggal 7 Januari 2011 dan 10 Januari 2011 kemarin, IHSG sempat dua hari berturut-turut terkoreksi lebih dari 100 poin. Tapi ini bukan yang paling buruk. Koreksi IHSG sebesar lebih dari 100 poin selama 3 hari berturut-turut, ternyata pernah terjadi 2 kali pada tahun 2008 lalu. Koreksi yang pertama di terjadi di bulan Januari (16 – 21 Januari 2008), dan koreksi kedua terjadi pada bulan September (12 – 16 September). Pada koreksi yang terjadi pada bulan Januari 2008, IHSG bahkan sempat terkoreksi diatas 100 poin sebanyak 4 kali dalam 5 hari kerja!! Coba kalau anda dalam posisi beli-simpan ketika koreksi baru terjadi pada hari pertama. Apa nggak babak belur tuh?

Yah… setidaknya, jika IHSG sudah terkoreksi diatas 100 poin dalam waktu 3 hari berturut-turut, posisi beli-simpan untuk posisi dengan jangka waktu yang lebih panjang, memang menarik untuk dilakukan. Tapi kalau koreksi 100 poin baru terjadi pada hari pertama, posisi beli-simpan sangatlah beresiko.

Bulan terburuk tidak terjadi pada tahun 2008.

Tahun 2008 adalah sebuah tahun yang sangat buruk. bagaimana tidak, IHSG terkoreksi sedemikain dalam sehingga banyak pemodal yang gulung tikar. Akan tetapi, jika kita berbicara mengenai bulan terburuk dimana frekuensi koreksi lebih dari 100 poin dalam 1 bulan paling sering untuk terjadi, ternyata bulan terburuk bukan terjadi pada tahun 2008. Bulan terburuk yang pernah terjadi pada IHSG adalah bulan Mei tahun 2010. Pada bulan tersebut, IHSG sempat mengalami penurunan diatas 100 poin sebanyak 5 kali kejadian.

Jika IHSG rebound setelah turun 100 poin…

Ketika IHSG terkoreksi lebih dari 100 poin (kita anggap hari itu sebagai H plus nol atau ‘H+0’), IHSG di hari berikutnya (H+1) belum tentu naik.  Dari 33 kali kejadian yang terjadi semenjak tahun 2006, ternyata hanya 17 kali kejadian (52% probabilitas)  dimana IHSG keesokan harinya masih bisa ditutup pada level positif.

Akan tetapi, Jika IHSG pada H+1 rebound, ternyata IHSG relatif bisa bertahan untuk tetap berada diatas posisi penutupan H+0 bahkan hingga hari kedua.  Probabilias IHSG untuk untuk tetap bertahan diatas closing H+0, hingga hari ketiga tetap tinggi, bahkan hingga hari kelima.

Tapi tolong, ini jangan diartikan IHSG naik terus hingga hari kedua, ketiga, atau kelima.  Probabilitas IHSG terus naik hingga hari kedua saja, sebenarnya tidak terlalu besar.  IHSG setelah penurunan IHSG lebih dari 100 poin, pergerakan IHSG tetap volatile.

So… Next time IHSG terkoreksi lebih dari 100 poin, anda tidak perlu takut. Katakanlah pada diri anda sendiri:

Datanglah koreksi IHSG yang lebih dari 100 poin!

Saya tidak takut!!!

Saya mau BELI!!

Trading adalah sebuah permainan otak. Harga bergerak naik atau turun, itu adalah hal yang normal. Hal yang wajar. Jika anda adalah seorang trader, tidak perlu takut terhadap pergerakan harga. Tidak perlu takut terhadap koreksi. Kesempatan bisa terjadi dalam kondisi sesulit apapun. Dan ketika IHSG terkoreksi lebih dari 100 poin, disitu malah terbuka celah dimana kita bisa memperoleh keuntungan.

Happy trading… semoga untung!!!

Satrio Utomo

*bacalah halaman disclaimer sebelum anda melakukan posisi beli atau posisi jual berdasarkan ulasan ini.  Terima kasih.

Advertisements
Comments
One Response to “Posisi Beli ketika IHSG turun lebih dari 100 poin*”
Trackbacks
Check out what others are saying...
  1. […] ada beberapa fakta lain yang menarik (silakan lihat tulisan lengkapnya disini).  Akan tetapi, dengan melihat data diatas, posisi trading ketika IHSG turun lebih dari 100 poin, […]



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Visit Website of Our Visitors

%d bloggers like this: